Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Penyebab Serangan Migrain Berlangsung Berhari-hari?

4 min read
Apa Penyebab Serangan Migrain Berlangsung Berhari-hari?
ilustrasi ibu hamil mengalami migrain selama berhari-hari (IDN Times/NRF)
  • Migrain dapat terasa berhari-hari karena mencakup fase sebelum dan sesudah nyeri; fase sakit kepala sendiri umumnya berlangsung 4–72 jam.

  • Status migrainosus adalah serangan migrain melemahkan lebih dari 72 jam, dengan jeda hingga 12 jam akibat tidur atau pengobatan tetap diperhitungkan.

  • Hubungi dokter apabila serangan melewati lebih dari 72 jam, tak membaik, atau sulit minum; cari bantuan darurat untuk nyeri mendadak hebat atau gejala saraf baru.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Migrain adalah gangguan saraf yang menyebabkan serangan sakit kepala berulang. Nyeri biasanya terasa sedang hingga berat, dapat berdenyut, dan sering disertai mual, muntah, atau sensitif terhadap cahaya dan suara.

Fase sakit kepalanya umumnya berlangsung 4–72 jam, tetapi seluruh serangan bisa terasa lebih panjang karena migrain juga dapat disertai gejala sebelum dan sesudah nyeri.

Saat nyeri belum benar-benar reda setelah beberapa hari, wajar jika seseorang bertanya-tanya apakah serangannya masih termasuk migrain. Salah satu kemungkinan yang perlu dinilai tenaga kesehatan adalah status migrainosus, yaitu serangan migrain berat yang berlangsung lebih dari 72 jam.

  1. Apa itu status migrainosus?

    Status migrainosus adalah serangan yang melemahkan dan tidak mereda selama lebih dari 72 jam pada orang dengan riwayat migrain. Serangan ini menyerupai serangan sebelumnya, tetapi durasi atau tingkat keparahannya berbeda. Jeda hingga 12 jam karena tidur atau pengobatan masih dapat diperhitungkan dalam kriteria tersebut.

    Batas 72 jam merupakan patokan klasifikasi, bukan berarti setiap orang harus menunggu sampai hari ketiga untuk meminta bantuan. Sebuah tinjauan naratif terbaru menilai bahwa batas waktu tersebut berasal dari kriteria historis dan belum divalidasi secara empiris. Tinjauan itu juga mencatat bahwa tingkat disabilitas, respons terhadap pengobatan, dan gejala di fase lain bisa memengaruhi beratnya serangan.

  2. Mengapa serangan migrain bisa terasa panjang?

    Ilustrasi perempuan memegang kepala dengan ekspresi kesakitan, menggambarkan gejala migrain yang berdenyut.
    ilustrasi migrain (IDN Times/Novaya Siantita)
    • Seluruh serangan terdiri dari beberapa fase

    Sebelum nyeri kepala, sebagian orang mengalami tanda awal seperti lelah atau sulit berkonsentrasi. Setelah nyeri mereda, rasa lelah dan gejala lain juga bisa tersisa. Karena itu, pengalaman migrain dapat berlangsung lebih lama daripada fase sakit kepalanya saja. Tidak semua orang mengalami setiap fase, dan polanya bisa berbeda dari satu serangan ke serangan lain.

    • Pemicu dapat bertahan atau datang bersamaan

    Perubahan obat, kurang tidur, melewatkan makan, dan stres dapat berperan pada sebagian orang. Namun, penyebab pasti serangan yang berkembang menjadi status migrainosus belum diketahui.

    Migrain juga dapat muncul tanpa pemicu yang jelas, bukan berarti seseorang lalai mengelola kondisinya.

    • Pengobatan akut mungkin tidak lagi cukup

    Penanganan migrain biasanya lebih efektif apabila mengikuti rencana yang sudah disepakati dengan dokter dan dilakukan saat gejala mulai muncul. Ketika serangan berkembang, obat yang biasa digunakan bisa kurang membantu. Mual dan muntah juga dapat menyulitkan seseorang untuk menelan atau mempertahankan obat minum maupun cairan.

    • Penggunaan obat pereda nyeri yang terlalu sering dapat memicu jenis sakit kepala lain

    Penggunaan obat akut secara berulang selama berbulan-bulan bisa berkaitan dengan sakit kepala akibat penggunaan obat berlebihan. Kondisi ini memiliki kriteria khusus, yaitu sakit kepala sedikitnya 15 hari per bulan dan penggunaan berlebihan selama lebih dari tiga bulan, dengan ambang hari penggunaan yang bergantung pada jenis obat.

  3. Kapan perlu mencari bantuan?

    Hubungi dokter jika serangan migrain berlangsung lebih dari 72 jam, tidak membaik dengan rencana pengobatan yang biasa, atau membuatmu sulit minum dan mempertahankan cairan. Penanganan untuk serangan berkepanjangan dapat berbeda dari serangan yang lebih singkat.

    Bukti uji klinis yang secara khusus meneliti status migrainosus masih terbatas. Dokter dapat menilai pilihan penanganan, termasuk cara pemberian obat dan penanganan mual, sesuai kondisi pasien.

    Segera cari pertolongan darurat jika sakit kepala muncul mendadak dan sangat hebat, atau disertai kelemahan maupun kebas yang baru muncul, gangguan bicara atau penglihatan, kebingungan, demam tinggi, atau leher kaku. Gejala seperti ini perlu dinilai karena bisa menandakan kondisi lain yang membutuhkan penanganan segera.

    Referensi

    World Health Organization, “Migraine and Other Headache Disorders,” diakses 8 November 2026.

    American Migraine Foundation, “How Long Does a Migraine Attack Last?,” diakses 8 November 2026.

    Headache Classification Committee of the International Headache Society (IHS), “The International Classification of Headache Disorders, 3rd Edition,” Cephalalgia 38, no. 1 (2018): 1–211, https://doi.org/10.1177/0333102417738202.

    Jennifer Robblee, Jonathan H. Smith, Sarah Ahmad, Rachel Geiser, and Ashhar Ali, “Redefining Status Migrainosus: A Narrative Review,” Headache 66, no. 5 (2026): 1117–27, https://doi.org/10.1111/head.70075.

    American Migraine Foundation, “What Is Status Migrainosus?,” diakses 8 November 2026.

    Francesca Puledda et al., “International Headache Society Global Practice Recommendations for the Acute Pharmacological Treatment of Migraine,” Cephalalgia 44, no. 8 (2024): 1–45, https://doi.org/10.1177/03331024241252666.

    American Migraine Foundation, “Migraine in the Emergency Department: When to Go to the ED for Migraine,” diakses 8 November 2026.

Related Articles

See More