Referensi
Miika M. Wynne-Ellis et al., “Associations of Dietary Proteins with Serum Total Testosterone and Sex Hormone-Binding Globulin Concentrations in Middle-Aged Men,” International Journal of Food Sciences and Nutrition 77, no. 6 (2026): 576–88, https://doi.org/10.1080/09637486.2026.2731397.
University of Eastern Finland, “Animal and Plant Proteins Show Different Associations with Testosterone Levels in Men,” diakses 7 November 2026.
Shalender Bhasin et al., “Testosterone Therapy in Men with Hypogonadism: An Endocrine Society Clinical Practice Guideline,” The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism 103, no. 5 (2018): 1715–44, https://doi.org/10.1210/jc.2018-00229.
Studi: Protein Hewani Terkait Testosteron yang Lebih Rendah

Studi terhadap 2.546 pria di Finlandia menemukan bahwa konsumsi protein hewani yang lebih tinggi berkaitan dengan kadar testosteron total yang lebih rendah, sedangkan protein nabati berkaitan dengan kadar yang lebih tinggi.
Selisih rata-ratanya kecil. Karena penelitian ini bersifat observasional, hasilnya tidak membuktikan bahwa sumber protein menyebabkan perubahan kadar hormon.
Temuan ini belum cukup untuk menyarankan orang mengganti sumber protein demi menaikkan testosteron.
Sumber protein bisa berasal dari ikan, telur, susu, daging, kacang-kacangan, atau sayuran tertentu. Selain kandungan gizinya, sebuah studi baru meneliti apakah sumber protein yang berbeda berkaitan dengan kadar testosteron, jenis hormon yang berperan dalam fungsi seksual, otot, dan tulang.
Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Food Sciences and Nutrition itu menganalisis data 2.546 pria di Finlandia berusia 42–60 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa asupan protein hewani yang lebih tinggi berkaitan dengan kadar testosteron total yang lebih rendah, sementara asupan protein nabati yang lebih tinggi berkaitan dengan kadar yang lebih tinggi.
Seberapa besar perbedaannya?
Peneliti membagi peserta ke dalam kelompok berdasarkan asupan protein. Dibandingkan kelompok dengan konsumsi protein hewani terendah, kelompok dengan konsumsi tertinggi memiliki kadar testosteron total rata-rata 1,2 nmol/L lebih rendah. Pada protein nabati, kelompok dengan konsumsi tertinggi memiliki kadar rata-rata 1,1 nmol/L lebih tinggi dibanding kelompok dengan konsumsi terendah.
Oleh peneliti, selisih tersebut dinilai kecil, dan belum diketahui apakah perbedaan itu berdampak pada kesehatan. Studi ini juga mengukur sex hormone-binding globulin (SHBG), protein dalam darah yang mengikat hormon seks dan memengaruhi cara kadar testosteron total dibaca. Kadar SHBG menunjukkan pola serupa dengan testosteron total.
Jenis sumber protein juga menunjukkan hasil yang tidak sepenuhnya sama. Asupan protein dari susu berkaitan dengan kadar testosteron total dan SHBG yang lebih rendah. Sementara itu, protein dari daging berkaitan dengan SHBG yang lebih rendah, tetapi tidak menunjukkan hubungan dengan testosteron total. Protein nabati dari sayuran dan sumber selain serealia berkaitan dengan testosteron total yang lebih tinggi.
Temuan penelitian belum membuktikan efek makanan

ilustrasi makan ayam goreng (vecteezy.com/Srinrat Wuttichaikitcharoen) Penelitian ini bersifat cross-sectional, yaitu melihat pola asupan dan kadar hormon pada satu periode pengamatan. Desain ini tidak dapat memastikan mana yang terjadi lebih dulu atau apakah faktor lain ikut menjelaskan hubungan tersebut.
Asupan makanan peserta dinilai melalui catatan makan selama empat hari yang dikumpulkan pada 1984–1989. Peneliti telah memperhitungkan sejumlah faktor, termasuk usia, indeks massa tubuh, gaya hidup, dan pola makan. Namun, faktor lain tetap mungkin berperan. Data tersebut juga berasal dari pria di Finlandia pada periode yang berbeda dari kondisi pangan saat ini.
Penelitian ini mengukur kadar hormon dalam darah, bukan perubahan setelah peserta mengganti pola makan. Studi tersebut juga tidak menguji apakah perbedaan kadar testosteron berkaitan dengan gejala, kesuburan, performa latihan, atau manfaat kesehatan tertentu. Karena itu, hasilnya belum bisa dipakai untuk menyimpulkan bahwa seseorang perlu mengganti sumber protein demi menaikkan testosteron.
Kadar testosteron bukan satu-satunya dasar diagnosis
Satu hasil tes yang sedikit lebih rendah tidak otomatis berarti seseorang mengalami kekurangan testosteron. Pedoman Endocrine Society menyarankan diagnosis hipogonadisme ditegakkan jika terdapat gejala dan tanda yang sesuai serta kadar testosteron yang rendah secara konsisten. Pemeriksaan biasanya perlu diulang pada pagi hari dalam kondisi puasa.
Jadi, penelitian ini memberi petunjuk baru tentang hubungan sumber protein dan hormon, tetapi belum menjadi alasan untuk menghindari daging atau beralih sepenuhnya ke protein nabati. Jika ada keluhan yang mengarah pada masalah hormon, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter daripada mengandalkan perubahan menu atau suplemen peningkat testosteron.



















