Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

9 Gejala Kanker yang Sering Diabaikan

9 Gejala Kanker yang Sering Diabaikan
ilustrasi memar yang bisa menandakan kanker (pexels.com/MART PRODUCTION)
Intinya Sih
  • Gejala awal kanker dapat menyerupai masalah kesehatan sehari-hari, seperti kelelahan, batuk, atau gangguan pencernaan.

  • Sebagian besar gejala tersebut lebih sering disebabkan kondisi selain kanker, tetapi perlu diperiksa jika menetap, memburuk, atau tidak memiliki penyebab yang jelas.

  • Pemeriksaan gejala tidak menggantikan skrining kanker yang direkomendasikan berdasarkan usia dan faktor risiko.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sering kali batuk dianggap "sisa" pilek atau flu, darah saat buang air besar disangka wasir, atau berat badan yang turun tanpa sebab dianggap sukses diet. Gejala kanker bisa menyerupai masalah kesehatan umum sehingga mudah ditunda diperiksakan atau malah diabaikan.

Penelitian terhadap orang dewasa berusia 50 tahun ke atas menemukan bahwa lebih dari sepertiga peserta yang melaporkan setidaknya satu gejala peringatan kanker belum mencari pertolongan medis. Batuk atau suara serak berkepanjangan, perubahan kebiasaan buang air kecil, dan perdarahan tanpa penyebab termasuk gejala dengan tingkat pencarian pertolongan yang lebih rendah.

Gejala-gejala tersebut tidak otomatis berarti kanker. Sebagian besar tanda yang dapat mengarah pada kanker lebih sering disebabkan oleh penyakit lain. Namun, perubahan yang baru, tidak biasa, terus muncul, atau memburuk tetap perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.

1. Benjolan atau pembengkakan yang tak hilang-hilang

Benjolan sering lebih cepat diperhatikan ketika muncul di payudara. Padahal, pembengkakan juga dapat muncul di leher, ketiak, selangkangan, perut, testis, atau bagian tubuh lainnya.

Kelenjar getah bening dapat membesar akibat infeksi dan kemudian mengecil setelah kondisi membaik. Namun, benjolan perlu diperiksa oleh dokter jika terus membesar, terasa keras, sulit digerakkan, tidak nyeri, atau tak kunjung hilang.

Jangan memencet atau memijat benjolan secara terus-menerus. Catat kapan pertama kali muncul, apakah ukurannya berubah, dan apakah disertai demam, penurunan berat badan, atau keringat pada malam hari.

2. Perdarahan atau memar tanpa penyebab yang jelas

Darah pada tinja dapat berasal dari wasir atau luka di anus, tetapi bisa juga berkaitan dengan gangguan pada usus besar dan rektum.

Darah dalam urine bisa disebabkan oleh infeksi atau batu saluran kemih, tetapi tetap perlu dievaluasi.

Perdarahan lain yang tidak boleh diabaikan meliputi:

  • Batuk atau muntah darah.
  • Tinja berwarna hitam seperti aspal.
  • Perdarahan setelah menopause.
  • Perdarahan vagina di luar pola menstruasi.
  • Keluar darah atau cairan dari puting.
  • Memar yang sering muncul tanpa benturan yang jelas.

National Cancer Institute mengategorikan perdarahan dan memar tanpa penyebab sebagai salah satu perubahan yang perlu diperhatikan. Jangan menyimpulkan penyebabnya sendiri atau terus menunggu hanya karena darah yang keluar sedikit.

3. Batuk atau suara serak yang menetap

Seorang pria memegang lehernya dengan ekspresi kesakitan, menggambarkan kondisi sakit tenggorokan atau suara serak.
ilustrasi sakit tenggorokan, suara serak (vecteezy.com/Saranyoo Chantawong)

Batuk umum terjadi akibat infeksi, alergi, refluks asam lambung, paparan polusi, atau kebiasaan merokok. Karena penyebabnya beragam, batuk berkepanjangan mudah dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila batuk tidak kunjung membaik, ada perubahan pola, makin berat, atau disertai suara serak yang menetap.

Waspadai juga batuk yang disertai darah, nyeri dada, sesak napas, atau penurunan berat badan.

Perokok kadang terbiasa dengan batuk sehingga tidak menyadari adanya perubahan. Batuk yang menjadi lebih sering, lebih dalam, atau terdengar berbeda tetap perlu diperiksa.

4. Perubahan kebiasaan buang air besar atau kecil

Sembelit atau diare sesekali biasanya berkaitan dengan makanan, infeksi, obat, atau stres. Namun, perubahan kebiasaan buang air besar yang menetap perlu ditelusuri, terutama jika disertai darah, nyeri perut, perubahan bentuk tinja, atau perasaan belum tuntas setelah buang air besar.

Perubahan pada saluran kemih juga sering dinormalisasi sebagai efek bertambahnya usia. Gejalanya dapat berupa:

  • Lebih sering atau lebih jarang buang air kecil.
  • Sulit memulai aliran urine.
  • Aliran urine melemah.
  • Nyeri ketika berkemih.
  • Darah dalam urine.

Penelitian mengenai perilaku pencarian pertolongan menunjukkan bahwa perubahan kebiasaan buang air kecil termasuk gejala yang relatif sering terlambat dikonsultasikan.

5. Berat badan turun tanpa direncanakan

Berat badan dapat berubah akibat pola makan, aktivitas fisik, stres, atau perubahan rutinitas. Yang perlu diperhatikan adalah penurunan berat badan yang terjadi tanpa usaha, terlebih jika pakaian mendadak terasa longgar atau massa otot ikut berkurang.

American Cancer Society memasukkan perubahan berat badan sekitar 10 pon (sekitar 4,5 kilogram) atau lebih tanpa penyebab yang diketahui sebagai salah satu tanda yang perlu dievaluasi. Penurunan berat badan juga dapat disebabkan oleh gangguan tiroid, diabetes, infeksi, penyakit pencernaan, depresi, atau kondisi lain.

Jangan cuma berfokus pada angka timbangan. Perhatikan apakah penurunan berat badan disertai hilang nafsu makan, cepat kenyang, sulit menelan, nyeri perut, atau kelelahan parah.

6. Kelelahan yang tidak membaik dengan istirahat

Seorang pria berpakaian kantor tampak kelelahan sambil duduk di kursi dan memegang telepon di ruang kerja yang sepi.
ilustrasi seorang pria mengalami kelelahan di tempat kerja (pexels.com/Ron Lach)

Kelelahan akibat kurang tidur biasanya membaik setelah beristirahat. Yang perlu diperhatikan adalah kelelahan yang rasanya lebih berat, terus berlangsung, dan membuat aktivitas yang biasanya mudah jadi menguras tenaga.

Penyebabnya memang tidak selalu kanker. Anemia, gangguan tiroid, infeksi, penyakit jantung, gangguan tidur, kekurangan nutrisi, dan masalah kesehatan mental juga dapat menimbulkan kelelahan berkepanjangan.

Yang bisa kamu lakukan adalah mencatat pola tidur, aktivitas, menstruasi, makanan, obat, dan keluhan lain sebelum berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan awal seperti wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan tes darah dapat membantu menemukan penyebabnya.

7. Demam atau keringat malam tanpa alasan yang jelas

Demam umumnya merupakan respons terhadap infeksi. Namun, demam yang terus berulang tanpa penyebab jelas, terutama jika disertai kelelahan, benjolan, penurunan berat badan, atau keringat malam yang membasahi pakaian dan seprai, perlu diperiksa oleh dokter.

Keringat malam tidak sama dengan merasa gerah karena kamar panas atau selimut terlalu tebal. Menopause, infeksi, obat-obatan, gangguan hormon, dan berbagai kondisi nonkanker juga dapat menjadi penyebabnya.

Ukur suhu tubuh dan catat seberapa sering gejala muncul. Informasi tersebut lebih membantu dokter dibanding hanya mengandalkan ingatan saat konsultasi.

8. Kesulitan menelan atau gangguan makan yang menetap

Sakit tenggorokan sering disertai rasa mengganjal saat menelan. Namun, kesulitan menelan yang menetap, memburuk, atau menyebabkan makanan sering tersangkut perlu diperiksa.

Keluhan lain yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Nyeri ketika menelan.
  • Cepat kenyang.
  • Hilang nafsu makan.
  • Mual atau muntah yang terus berulang.
  • Nyeri perut atau gangguan pencernaan yang tidak membaik.
  • Sering tersedak ketika makan atau minum.

Kesulitan menelan dapat menjadi kanker saluran pencernaan bagian atas.

9. Luka, tahi lalat, atau perubahan pada mulut yang tidak membaik

Tangan seseorang memakai sarung tangan medis biru memeriksa tahi lalat berwarna gelap di lengan pasien dengan latar belakang netral.
ilustrasi dokter memeriksa tahi lalat (magnific.com/freepik)

Luka kecil biasanya sembuh secara bertahap. Periksakan luka pada kulit atau mulut yang tidak kunjung sembuh, mudah berdarah, kembali terbuka, atau membesar.

Perhatikan pula:

  • Tahi lalat baru atau perubahan bentuk, warna, ukuran, dan tepinya.
  • Benjolan pada kulit yang berdarah atau bersisik.
  • Bercak putih atau merah di lidah dan bagian dalam mulut.
  • Nyeri, perdarahan, atau mati rasa di bibir dan mulut.
  • Kulit atau bagian putih mata yang menguning.

Perubahan kulit dan mulut dapat disebabkan infeksi, iritasi, penyakit kulit, atau gesekan berulang. Namun, penggunaan obat oles tanpa mengetahui penyebabnya dapat membuat pemeriksaan tertunda.

Kapan waktu yang tepat untuk menemui dokter?

Tidak ada satu durasi yang berlaku untuk seluruh gejala. Pemeriksaan disarankan jika perubahan tidak membaik setelah beberapa minggu. Jangan menunggu muncul rasa sakit karena sebagian kanker tidak menimbulkan nyeri pada tahap awal.

Buat janji temu lebih cepat jika kamu melihat darah, benjolan baru, luka yang tidak sembuh, penurunan berat badan tanpa sebab, atau gejala yang terus memburuk. Sampaikan kepada dokter informasi seperti:

  • Kapan gejala dimulai.
  • Apakah muncul terus atau hilang-timbul.
  • Apa yang memperberat atau meredakannya.
  • Gejala lain yang menyertai.
  • Riwayat kanker dalam keluarga.
  • Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol.
  • Obat dan suplemen yang sedang digunakan.

Sebuah metaanalisis terhadap 47 penelitian dari 22 negara menyebut, pengetahuan akan gejala yang lebih baik dan kemampuan menganggap perubahan tubuh sebagai sesuatu yang perlu diperiksa berkaitan dengan waktu pencarian pertolongan yang lebih singkat.

Pemeriksaan gejala juga tidak menggantikan skrining. Sejumlah kanker dapat ditemukan sebelum menimbulkan keluhan, sehingga skrining payudara, serviks, kolorektal, paru, atau kanker lain tetap perlu dilakukan sesuai usia, jenis kelamin, dan faktor risiko.

Referensi

American Cancer Society. “Signs and Symptoms of Cancer.” Diakses Juli 2026.

National Cancer Institute. “Symptoms of Cancer.” Diakses Juli 2026.

National Institute for Health and Care Excellence. "Suspected Cancer: Recognition and Referral." NICE Guideline NG12. Diakses Juli 2026.

Petrova, Dafina, Yasmina Okan, Elena Salamanca-Fernández, Santiago Domínguez-López, María-José Sánchez, and Miguel Rodríguez-Barranco. “Psychological Factors Related to Time to Help-Seeking for Cancer Symptoms: A Meta-analysis across Cancer Sites.” Health Psychology Review 14, no. 2 (2020): 245–268. https://doi.org/10.1080/17437199.2019.1641425.

Whitaker, Katriina L., Una Macleod, Kelly Winstanley, Suzanne E. Scott, and Jane Wardle. “Help Seeking for Cancer ‘Alarm’ Symptoms: A Qualitative Interview Study of Primary Care Patients in the UK.” British Journal of General Practice 65, no. 631 (2015): e96–e105. https://doi.org/10.3399/bjgp15X683533.

Whitaker, Katriina L., Claire Friedemann Smith, Kelly Winstanley, and Jane Wardle. “What Prompts Help-Seeking for Cancer ‘Alarm’ Symptoms? A Primary Care Based Survey.” British Journal of Cancer 114, no. 3 (2016): 334–339. https://doi.org/10.1038/bjc.2015.445.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More