Sebelum meninggalkan rumah sakit tujuan, minta salinan hasil pemeriksaan, diagnosis akhir, laporan tindakan atau operasi, daftar obat beserta dosisnya, dan instruksi kontrol.
Jika pasien menjalani pemeriksaan pencitraan atau kateterisasi, tanyakan cara mendapatkan berkas gambarnya, bukan cuma ringkasan tertulis.
Untuk tindakan yang menggunakan stent atau katup buatan, minta kartu atau informasi implan yang mencantumkan jenis dan modelnya. Simpan dokumen dalam bentuk digital dan cetak, serta siapkan terjemahan yang dapat dipahami dokter di Indonesia.
Panduan kardiologi menekankan bahwa pemantauan setelah sindrom koroner akut, termasuk pengaturan obat dan rehabilitasi jantung, merupakan bagian dari perawatan pasien setelah keluar dari rumah sakit.
Untuk perjalanan yang bisa direncanakan, bicarakan kebutuhan medis dan risiko perjalanan dengan dokter dari jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, bisa sekitar 4–6 minggu sebelumnya. Namun, jangan menunda pertolongan untuk kondisi jantung yang mendesak.
Referensi
Yuen Yeng Cheong, Fabienne Weinberg, Renata Colabella, Syka Iqbal, and Cecilia Vindrola-Padros, “Medical Travel between Nations for Inaccessible or Elective Surgical Procedures: A Systematic Review of Origins, Destinations and Outcomes,” Perioperative Care and Operating Room Management 44 (2026): 100702, https://doi.org/10.1016/j.pcorm.2026.100702.
American Heart Association, “Getting a Second Medical Opinion,” diakses Oktober 2026.
American Heart Association, “Warning Signs of a Heart Attack,” diakses Oktober 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Medical Tourism,” in CDC Yellow Book, diakses Oktober 2026.
American Heart Association, “Travel and Heart Disease,” diakses Oktober 2026.
American Heart Association, “What Is a Coronary Artery Stent?,” diakses Oktober 2026.
European Society of Cardiology, “Follow-Up Management after an Acute Coronary Syndrome,” diakses Oktober 2026.