Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ring Jantung atau Drug-Coated Balloon? Ini yang Dipertimbangkan Dokter

5 min read
Ring Jantung atau Drug-Coated Balloon? Ini yang Dipertimbangkan Dokter
ilustrasi dokter memberi dukungan kepada pasien (magnific.com/jcomp)
  • Drug-eluting stent (DES) masih menjadi terapi utama untuk banyak penyempitan pembuluh darah koroner karena mampu membuka sekaligus menyangga pembuluh.

  • Drug-coated balloon (DCB) memberi obat ke dinding pembuluh tanpa meninggalkan implan permanen dan dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu.

  • Pemilihan DCB atau DES tidak bisa disamaratakan karena bergantung pada ukuran dan bentuk pembuluh, jenis penyempitan, hasil persiapan lesi, hingga risiko perdarahan pasien.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat pembuluh darah jantung menyempit, pemasangan ring atau stent mungkin menjadi prosedur yang paling dikenal masyarakat. Namun, perkembangan intervensi jantung kini memberikan pilihan lain, yaitu drug-coated balloon (DCB) atau balon berlapis obat. Keduanya sama-sama digunakan untuk membantu membuka aliran darah, tetapi cara kerjanya berbeda.

Stent berlapis obat atau drug-eluting stent (DES) meninggalkan jaring logam di dalam pembuluh untuk menjaganya tetap terbuka. Sementara pada DCB, balon dikembangkan selama beberapa saat untuk menghantarkan obat ke dinding pembuluh, kemudian dikempiskan dan dikeluarkan kembali. Tidak ada implan yang ditinggalkan.

Lantas, apakah ini berarti DCB lebih baik daripada ring?

  1. 1. Ring masih menjadi pilihan penting karena menyangga pembuluh darah

    Menurut dr. Rizki, Sp.JP(K), FIHA, konsultan intervensi jantung Eka Hospital MT Haryono, DES hingga saat ini masih menjadi standar utama dalam penanganan banyak penyumbatan pembuluh darah koroner.

    DES memiliki satu kemampuan yang tidak dimiliki DCB, yaitu menyangga pembuluh secara mekanis.

    Setelah bagian pembuluh yang menyempit dilebarkan, stent tetap berada di sana sehingga membantu mempertahankan diameter pembuluh. Ini penting ketika pembuluh membutuhkan penyangga, misalnya karena hasil setelah pelebaran dengan balon belum optimal atau terdapat masalah seperti diseksi—robekan pada lapisan dinding pembuluh.

    Karena itu, DCB bukan pengganti stent untuk setiap kasus.

    “Meski tidak sepenuhnya menggantikan peran ring (DES), teknologi DCB menjadi pilihan medis yang sangat ideal untuk kondisi tertentu,” jelas dr. Rizki dalam materi yang disampaikannya.

  2. 2. Peran DCB pada penyakit pembuluh koroner berukuran kecil

    Memasang stent pada pembuluh koroner yang sangat kecil memiliki tantangan tersendiri. Diameter pembuluh sudah kecil sejak awal, sementara jaring logam stent akan tetap berada di dalamnya.

    Karena tidak meninggalkan struktur logam, DCB menjadi salah satu pilihan yang sedang banyak diteliti untuk penyakit pembuluh koroner berukuran kecil. Konsensus Drug-Coated Balloon Academic Research Consortium tahun 2025 juga memasukkan pembuluh kecil dan sangat kecil sebagai salah satu konteks penggunaan DCB. Bukti klinisnya terus berkembang.

    Uji klinis acak DISSOLVE SVD terhadap pasien dengan pembuluh berdiameter sekitar 2,25–2,75 mm menemukan bahwa DCB tidak lebih buruk daripada DES pada ukuran utama penyempitan pembuluh setelah sembilan bulan. Angka kegagalan lesi target pada satu tahun juga tidak berbeda secara bermakna antara kedua kelompok.

    Metaanalisis data individual ANDROMEDA yang dipublikasikan dalam European Heart Journal pada 2025 juga memberikan hasil yang menjanjikan untuk DCB pada pembuluh kecil. Namun, para ahli menekankan bahwa pemilihan pasien dan lesi tetap penting dan belum semua kondisi dapat diperlakukan sama.

    Singkatnya, DCB tidak otomatis diterapkan pada pembuluh kecil. Dokter tetap harus menilai apakah hasil pelebaran pembuluh cukup baik tanpa penyangga permanen.

  3. 3. Bagaimana kalau ring yang lama menyempit kembali?

    Ilustrasi prosedur angioplasti menggunakan balon berlapis obat (drug-coated balloon/DCB) pada pembuluh darah.
    Drug-coated balloon (DCB) angioplasty. (Gąsecka et al./Cardiology Journal/Via Medica (2025))

    Stent yang sudah dipasang dapat mengalami penyempitan kembali atau in-stent restenosis (ISR). Pada kondisi ini, salah satu keuntungan DCB adalah dokter dapat menghantarkan obat ke area yang menyempit tanpa menambahkan lapisan stent baru di dalam stent yang lama.

    Pedoman European Society of Cardiology (ESC) 2024 menyebut bahwa setelah penyebab penyempitan dinilai dan area tersebut dipersiapkan dengan baik, ISR dapat ditangani menggunakan DCB atau pemasangan DES kembali. Pada restenosis yang terjadi di dalam DES, sejumlah data jangka panjang menunjukkan DES ulang dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam beberapa situasi.

    Artinya, DCB adalah pilihan penting untuk ISR, tetapi bukan otomatis pilihan terbaik untuk setiap ISR. Mekanisme penyempitan, jenis stent sebelumnya, jumlah lapisan stent , serta anatomi pembuluh ikut menentukan keputusan.

  4. 4. DCB bisa dipertimbangkan untuk pasien dengan risiko perdarahan tinggi

    Setelah pemasangan stent, pasien biasanya membutuhkan obat antiplatelet untuk mengurangi risiko terbentuknya bekuan darah pada stent.

    Karena DCB tidak meninggalkan implan logam permanen, strategi ini dalam kasus tertentu memungkinkan terapi antiplatelet ganda atau dual antiplatelet therapy (DAPT) diberikan dalam durasi yang lebih pendek dibanding strategi stent tertentu.

    Itulah kenapa pasien dengan risiko perdarahan tinggi dianggap sebagai salah satu kelompok yang dapat dipertimbangkan untuk DCB.

    Meski demikian, dokter tetap harus mempertimbangkan apakah pasien mengalami serangan jantung akut, risiko pembentukan bekuan darah, risiko perdarahan, dan kondisi medis lainnya.

  5. 5. Jadi, siapa lebih cocok DCB dan siapa lebih cocok ring?

    Secara sederhana, DCB lebih menarik ketika dokter ingin memberikan terapi antiproliferatif tanpa meninggalkan lapisan logam permanen, misalnya pada beberapa kasus pembuluh kecil, ISR, atau pasien tertentu dengan risiko perdarahan tinggi.

    DES tetap penting ketika pembuluh butuh penyangga permanen serta pada berbagai lesi koroner ketika bukti manfaat stent lebih kuat.

    Bahkan pada DCB, prosedur baru dapat berhasil jika persiapan lesi memberikan hasil yang baik. Jika setelah pelebaran dengan balon masih terjadi penyempitan berat, aliran darah tidak memadai, atau terjadi diseksi yang mengancam aliran darah, stent dapat tetap diperlukan.

    Karena itu, dr. Rizki menekankan bahwa pemilihan metode tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan keinginan menghindari ring.

    “Pemilihan metode intervensi jantung, baik menggunakan ring berbalut obat (DES) maupun balon berbalut obat (DCB), harus didasarkan pada evaluasi klinis serta struktur anatomi pembuluh darah pasien.”

    Referensi

    Drug Coated Balloon Academic Research Consortium, “Definitions and Standardized Endpoints for the Use of Drug-Coated Balloon in Coronary Artery Disease: Consensus Document of the Drug Coated Balloon Academic Research Consortium,” European Heart Journal 46, no. 26 (2025): 2498–2519.

    Shengwen Liu et al., “Comparison of Drug-Coated Balloon and Drug-Eluting Stent for the Treatment of Small Vessel Disease (from the Dissolve SVD Randomized Trial),” American Journal of Cardiology 211 (2024): 29–39, https://doi.org/10.1016/j.amjcard.2023.05.057. PubMed — DISSOLVE SVD trial

    Simone Fezzi et al., “Individual Patient Data Meta-analysis of Paclitaxel-Coated Balloons vs. Drug-Eluting Stents for Small-Vessel Coronary Artery Disease: The ANDROMEDA Study,” European Heart Journal 46, no. 17 (2025): 1586–1599.

    Christiaan Vrints et al., “2024 ESC Guidelines for the Management of Chronic Coronary Syndromes,” European Heart Journal 45, no. 36 (2024): 3415–3537, https://doi.org/10.1093/eurheartj/ehae177.

    Cardiovascular Intervention Association of Thailand, “Consensus Statement on Drug-Coated Balloons in Coronary Artery Disease,” 2025.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More