Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Cuaca Dingin Bisa Membuat Hidung Tersumbat?
Ilustrasi hidung tersumbat (magnific.com/magnific)
  • Udara dingin dan kering dapat melebarkan pembuluh darah hidung, membengkakkan jaringan, serta mempersempit aliran udara sehingga hidung terasa mampet.
  • Hidung meningkatkan aliran darah dan produksi lendir untuk menghangatkan serta melembapkan udara sebelum ke paru-paru; respons saraf juga dapat memicu hidung berair.
  • Keluhan lebih mudah dialami pemilik rinitis, asma, atau hidung sensitif; penggunaan syal, saline, cukup cairan, dan menghindari udara kering dapat membantu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa hidung mampet saat udara sedang dingin? Kondisi ini cukup umum, terutama ketika keluar rumah pada pagi hari, masuk ke ruangan ber-AC, atau menghirup udara dingin saat berolahraga.

Hidung tersumbat memang sering dikaitkan dengan pilek atau alergi. Namun, suhu udara itu sendiri juga bisa memicu berbagai reaksi di dalam hidung.

Perubahan aliran darah, aktivitas saraf, hingga produksi lendir dapat membuat saluran hidung membengkak dan terasa lebih sempit.

1. Udara dingin bisa membuat jaringan hidung membengkak

Bagian dalam hidung dilapisi selaput lembap yang memiliki banyak pembuluh darah kecil. Jaringan ini punya tugas penting, yaitu menghangatkan, melembapkan, sekaligus menyaring udara sebelum masuk lebih jauh ke saluran pernapasan.

Ketika terkena udara dingin, pembuluh darah di lapisan hidung dapat melebar. Akibatnya, volume darah di jaringan tersebut meningkat sehingga lapisan hidung ikut membengkak. Pembengkakan ini kemudian membuat ruang untuk aliran udara menjadi lebih sempit dan hidung terasa tersumbat.

Reaksi tersebut terutama dapat terlihat pada orang yang mengalami rinitis nonalergi. Kondisi ini menyebabkan hidung tersumbat, bersin, atau berair tanpa adanya reaksi alergi seperti yang terjadi pada alergi biasa. Perubahan suhu dan kelembapan, termasuk udara dingin, dapat menjadi salah satu pemicunya.

Selain itu, paparan udara dingin dan kering dapat mengurangi keterbukaan saluran hidung pada orang yang memiliki hidung sensitif.

2. Hidung sedang berusaha menghangatkan udara

Hidung sebenarnya tidak sekadar menjadi jalan masuk bagi udara. Organ ini bekerja seperti sistem pengatur suhu dan kelembapan sebelum udara mencapai paru-paru.

Udara dingin umumnya memiliki kelembapan yang lebih rendah. Ketika udara tersebut masuk melalui hidung, jaringan di dalamnya harus menambahkan panas dan uap air agar udara yang diteruskan ke saluran pernapasan lebih sesuai dengan kondisi tubuh.

Pada sebagian orang, terutama yang memiliki saluran hidung sensitif, respons ini bisa berlangsung lebih kuat. Aliran darah ke jaringan hidung meningkat dan produksi lendir dapat bertambah. Tujuannya sebenarnya untuk melindungi serta menjaga kelembapan saluran pernapasan.

Masalahnya, ketika jaringan hidung membengkak dan lendir bertambah secara bersamaan, ruang untuk bernapas menjadi lebih sempit. Hasilnya adalah hidung terasa mampet atau sulit bernapas melalui hidung.

3. Saraf di dalam hidung ikut bereaksi

ilustrasi hidung tersumbat (unsplash.com/Curated Lifestyle)

Selain memengaruhi pembuluh darah dan lendir, udara dingin juga dapat merangsang saraf yang peka terhadap perubahan suhu di dalam hidung. Rangsangan tersebut dapat memicu refleks saraf parasimpatik, yaitu bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis.

Salah satu efeknya adalah meningkatnya aktivitas kelenjar di dalam lapisan hidung. Itulah sebabnya udara dingin tidak hanya bisa membuat hidung tersumbat, tetapi juga menyebabkan hidung berair.

Pada beberapa orang, respons ini dapat muncul hanya dalam hitungan menit. Hidung bisa terasa tersumbat, mengeluarkan cairan bening, atau bahkan terasa sedikit perih. Biasanya, keluhan tersebut berangsur membaik setelah tubuh kembali berada di lingkungan yang lebih hangat.

4. Mengapa ada orang yang lebih mudah mengalaminya?

Reaksi ini cenderung lebih kuat pada orang yang memiliki rinitis alergi, rinitis nonalergi, asma, atau saluran hidung yang memang lebih sensitif.

Orang dengan hidung hiperreaktif juga mungkin mengalami keluhan serupa ketika terpapar perubahan suhu, kelembapan, asap, parfum, atau polusi udara.

Cuaca dingin juga dapat berkontribusi secara tidak langsung. Saat suhu turun, orang biasanya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan. Paparan debu, bulu hewan, jamur, atau udara ruangan yang terlalu kering kemudian bisa memperparah hidung tersumbat pada sebagian orang.

Selain itu, infeksi saluran pernapasan memang lebih sering menyebar pada musim atau periode yang lebih dingin. Namun, udara dingin itu sendiri tidak menyebabkan seseorang terkena virus. Infeksi tetap terjadi karena adanya paparan terhadap mikroorganisme penyebab penyakit.

5. Cara mengurangi hidung tersumbat saat cuaca dingin

Jika hidung mudah tersumbat ketika udara dingin, beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi keluhannya:

  • Bernapas melalui hidung dan gunakan syal untuk menutupi hidung ketika berada di udara yang sangat dingin.

  • Gunakan semprotan saline atau larutan garam untuk membantu menjaga kelembapan hidung.

  • Pastikan tubuh mendapatkan cukup cairan.

  • Hindari udara dalam ruangan yang terlalu kering.

  • Kurangi paparan terhadap debu, asap rokok, parfum, dan pemicu lain yang membuat hidung sensitif.

  • Jika hidung tersumbat terus-menerus atau makin parah, konsultasikan dengan dokter.

Hidung tersumbat saat cuaca dingin pada dasarnya merupakan hasil dari respons alami tubuh terhadap udara yang dingin dan kering. Pembuluh darah dapat melebar, jaringan hidung membengkak, saraf terangsang, dan produksi lendir meningkat untuk membantu menghangatkan serta melembapkan udara yang masuk.

Pada kebanyakan orang, reaksi ini hanya sementara. Namun, jika keluhan sering muncul atau sangat mengganggu, bisa jadi ada kondisi seperti rinitis yang perlu diperiksa oleh dokter.

Referensi

Amsterdam UMC. Diakses pada Agustus 2026. "Short-time Cold Dry Air Exposure: A Useful Diagnostic Tool for Nasal Hyperresponsiveness."

Cruz, A. A., & Togias, A. (2008). Upper airways reactions to cold air. Current Allergy and Asthma Reports, 8(2), 111–117. https://doi.org/10.1007/s11882-008-0020-z.

Mayo Clinic. Diakses pada Agustus 2026. "Nonallergic rhinitis."

Mayo Clinic Health System. Diakses pada Agustus 2026. "Get Relief from Our Ear, Nose & Throat Experts."

Curated For You

Editorial Team

Related Article