Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Makin Banyak Protein Makin Sehat?

Benarkah Makin Banyak Protein Makin Sehat?
ilustrasi sumber protein (IDN Times/NRF)
  • Kebutuhan protein berbeda menurut usia, berat badan, aktivitas, dan kondisi kesehatan; dewasa umumnya membutuhkan sekitar 0,8 gram per kilogram berat badan per hari, sedangkan pelaku latihan kekuatan bisa mendekati 2 gram.
  • Menambah protein setelah kebutuhan terpenuhi tidak otomatis memperbesar otot atau menyehatkan tubuh; kelebihannya dapat menjadi energi dan berkontribusi pada lemak jika total kalori berlebih.
  • Jumlah bukan satu-satunya faktor: protein perlu berasal dari sumber beragam dan seimbang dengan serat, vitamin, mineral, serta lemak sehat; penderita penyakit ginjal perlu mengatur asupan bersama tenaga kesehatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Protein sering dianggap sebagai salah satu kunci untuk menjaga tubuh tetap sehat. Nutrisi ini dibutuhkan untuk membangun dan memperbaiki jaringan, mempertahankan massa otot, serta mendukung berbagai fungsi tubuh. Tidak heran jika makanan tinggi protein dan suplemen protein populer, terutama di kalangan orang yang aktif berolahraga.

Namun, apakah makin banyak protein yang dikonsumsi berarti makin sehat? Faktanya, tubuh memiliki kebutuhan protein tertentu dan menambah asupannya secara berlebihan tidak otomatis memberikan manfaat yang lebih besar.

  1. 1. Berapa banyak protein yang sebenarnya dibutuhkan?

    Kebutuhan protein setiap orang berbeda-beda, tergantung usia, berat badan, tingkat aktivitas, dan kondisi kesehatan. Angka kecukupan gizi yang selama ini sering digunakan adalah sekitar 0,8 gram protein per kilogram berat badan per hari untuk orang dewasa.

    Namun, orang yang aktif berolahraga, terutama yang rutin melakukan latihan kekuatan, mungkin membutuhkan protein lebih banyak. Asupan sekitar 1,2–1,6 gram per kilogram berat badan per hari dapat membantu mendukung pemeliharaan massa otot dan pemulihan tubuh. Pada orang yang melakukan resistance training secara rutin, kebutuhan tersebut dapat mendekati 2 gram per kilogram berat badan per hari.

    Artinya, kebutuhan protein tidak bisa disamaratakan. Jumlah yang tepat untuk seseorang belum tentu sama untuk orang lain.

  2. 2. Kapan protein berlebih tidak lagi memberikan manfaat

    Protein memang penting untuk pembentukan dan pemeliharaan otot. Namun, setelah kebutuhan tubuh terpenuhi, menambahkan lebih banyak protein tidak otomatis membuat otot makin besar atau tubuh makin sehat.

    Tubuh memiliki kemampuan tertentu dalam menggunakan asam amino untuk berbagai proses, termasuk sintesis protein otot. Kelebihan protein dapat digunakan sebagai sumber energi. Jika asupan kalori secara keseluruhan berlebihan, energi tersebut juga dapat berkontribusi terhadap penyimpanan lemak.

    Masalah lainnya adalah ketika protein mengambil porsi terlalu besar dalam pola makan. Diet yang sangat tinggi protein berpotensi membuat seseorang mengurangi konsumsi makanan lain yang juga penting, seperti sayuran, buah, biji-bijian utuh, dan sumber lemak sehat. Padahal, makanan tersebut menyediakan serat, vitamin, mineral, antioksidan, dan berbagai zat gizi lain yang dibutuhkan tubuh.

  3. 3. Terlalu banyak protein bisa berdampak pada kesehatan

    Ilustrasi aneka bahan makanan sebagai sumber protein untuk mendukung kebutuhan nutrisi harian dan pola makan seimbang.
    ilustrasi sumber protein (magnific.com/magnific)

    Pada orang sehat, asupan protein yang cukup tinggi tidak serta-merta terbukti menyebabkan kerusakan ginjal. Namun, ini berbeda bagi orang yang sudah memiliki penyakit ginjal. Asupan protein yang tinggi dapat meningkatkan beban kerja ginjal sehingga pengaturannya sebaiknya dilakukan bersama dokter.

    Asupan protein yang sangat tinggi dalam jangka panjang juga perlu diperhatikan, terutama jika sebagian besar berasal dari daging olahan atau makanan tinggi lemak jenuh.

    Pilihan sumber protein seperti ini dapat memberikan dampak yang berbeda terhadap kesehatan jantung dibandingkan protein dari ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, atau produk susu rendah lemak.

  4. 4. Sumber protein juga sama pentingnya

    Dua orang bisa mengonsumsi jumlah protein yang sama, tetapi memperoleh manfaat kesehatan yang berbeda karena pilihan makanannya. Protein bisa diperoleh dari ikan, telur, ayam, susu, yoghurt, kacang-kacangan, lentil, tahu, tempe, dan berbagai sumber lainnya. Protein nabati bahkan dapat memberikan bonus berupa serat dan senyawa bioaktif yang tidak ditemukan dalam sumber protein hewani.

    Sebaliknya, jika sebagian besar protein diperoleh dari daging olahan atau makanan yang tinggi lemak jenuh, pola makan tersebut belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk kesehatan jangka panjang. Karena itu, membangun pola makan tinggi protein sebaiknya tidak hanya berfokus pada angka gram protein, tetapi juga mempertimbangkan kualitas dan keberagaman makanan.

  5. 5. Jadi, apakah makin banyak protein berarti makin sehat?

    Protein memang penting, tetapi bukan berarti makin banyak selalu makin baik.

    Bagi orang dewasa yang aktif, asupan sekitar 1,2–1,6 gram protein per kilogram berat badan per hari dapat menjadi kisaran yang cukup untuk mendukung kebutuhan tubuh.

    Orang yang rutin melakukan latihan kekuatan mungkin membutuhkan lebih banyak, tetapi kebutuhan tersebut tetap harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

    Yang tidak kalah penting, protein sebaiknya dikonsumsi secara seimbang sepanjang hari dan berasal dari beragam sumber. Jangan sampai mengejar asupan protein tinggi justru membuat tubuh kekurangan serat, vitamin, mineral, atau lemak sehat.

    Pada akhirnya, pola makan sehat bukan tentang mendapatkan nutrisi sebanyak-banyaknya, melainkan memenuhi kebutuhan tubuh secara tepat dan seimbang. Jadi, lebih baik fokus pada kualitas makanan dan kebutuhan tubuh sendiri.

    Referensi

    BodySpec. Diakses pada Agustus 2026. "How Much Protein Is Too Much? Your Safe Limit."

    Care Focus Daily. Diakses pada Agustus 2026. "Mayo Clinic Protein Intake Guide."

    Live Science. Diakses pada Agustus 2026. "Is There Such a Thing as 'Too Much' Protein?"

    The Times of India. Diakses pada Agustus 2026. "Wellness Wednesday: Social Media Myth Buster-“More Protein is Always Better.”

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More