Ingrid B. Rabe et al., “A Review of the Recent Epidemiology of Zika Virus Infection,” American Journal of Tropical Medicine and Hygiene 112, no. 5 (2025): 1026–35, https://doi.org/10.4269/ajtmh.24-0420.
Zika Virus Individual Participant Data Consortium, “Adverse Fetal and Perinatal Outcomes Associated with Zika Virus Infection during Pregnancy: An Individual Participant Data Meta-Analysis,” eClinicalMedicine 83 (2025): 103231, https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2025.103231.
Centers for Disease Control and Prevention, “Zika in Indonesia,” Travelers’ Health, August 7, 2026.
European Centre for Disease Prevention and Control, Communicable Disease Threats Report, Week 16, 11–17 April 2026 (Stockholm: ECDC, 2026).
World Health Organization, “Zika Epidemiology Update—May 2026,” diakses Agustus 2026.
World Health Organization, “Zika Virus,” diakses Agustus 2026.
CDC Terbitkan Travel Alert Level 2 Zika untuk Bali, Apa Artinya?

Pada 7 Agustus 2026, CDC AS menerbitkan Travel Health Notice Level 2 untuk Zika di Indonesia setelah kasus dilaporkan pada pelancong yang kembali dari Bali.
Level 2 berarti “Practice Enhanced Precautions”, bukan larangan bepergian. Namun, CDC menyarankan orang yang sedang hamil menghindari perjalanan ke Bali.
Zika sering tidak bergejala atau hanya menyebabkan sakit ringan, tetapi infeksi selama kehamilan dapat menyebabkan kelainan bawaan serius pada janin.
Bali kini masuk dalam Travel Health Notice Level 2 dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat terkait virus Zika.
Peringatan yang diterbitkan pada 7 Agustus 2026 tersebut muncul karena kasus Zika dilaporkan pada pelancong yang kembali dari Bali. CDC meminta semua pelancong ke Bali meningkatkan perlindungan dari gigitan nyamuk dan mencegah penularan Zika melalui hubungan seksual selama maupun setelah perjalanan.
Apa arti travel alert level 2?
Table of Content
Level 2 bukan larangan pergi ke Bali
CDC membagi Travel Health Notice menjadi empat tingkat.
Level 1 berarti melakukan tindakan pencegahan biasa, sedangkan Level 2 berarti “Practice Enhanced Precautions” atau melakukan tindakan pencegahan tambahan.
Level 3 baru berarti mempertimbangkan kembali perjalanan yang tidak penting, sementara Level 4 adalah menghindari seluruh perjalanan.
Ada pengecualian penting: orang yang sedang hamil disarankan untuk menghindari perjalanan ke Bali. Jika perjalanan tidak dapat dihindari, pencegahan terhadap gigitan nyamuk dan penularan seksual harus dilakukan secara ketat. Orang atau pasangan yang sedang merencanakan kehamilan juga dianjurkan mempertimbangkan penundaan kehamilan setelah perjalanan.
Sinyal Zika dari Bali sudah muncul sebelumnya

ilustrasi nyamuk Aedes yang dapat menyebarkan virus Zika (National Institute of Allergy and Infectious Diseases) Beberapa bulan sebelum peringatan CDC, European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) telah melaporkan 11 kasus Zika terkait perjalanan dari Indonesia pada pelancong di Prancis antara Juli 2025 dan Maret 2026. Sebagian besar terkait dengan perjalanan ke Bali dan pulau di sekitarnya.
Saat penilaian tersebut diterbitkan pada April 2026, ECDC menyebut Bali sebagai wilayah dengan peningkatan transmisi yang terdeteksi pada pelancong internasional, meskipun transmisinya dinilai masih terbatas dan kemungkinan seorang pelancong terinfeksi dianggap rendah.
Kasus pada pelancong dapat menjadi petunjuk epidemiologis penting. Menurut sebuah tinjauan tahun 2025, Zika dapat tidak terdeteksi karena sebagian besar infeksi tidak bergejala atau hanya ringan, sementara kapasitas pemeriksaan dan surveilans berbeda-beda antarnegara.
Pembaruan epidemiologi WHO Mei 2026 mencatat bukti transmisi lokal Zika saat ini atau sebelumnya telah ditemukan di 97 negara dan wilayah.
Ibu hamil harus hati-hati
Pada kebanyakan orang, Zika tidak menyebabkan penyakit berat. Sebagian besar orang yang terinfeksi bahkan tidak mengalami gejala. Jika bergejala, keluhannya biasanya berupa ruam, demam, mata merah, sakit kepala, serta nyeri otot dan sendi selama sekitar 2–7 hari.
Risikonya sangat berbeda ketika infeksi terjadi selama kehamilan.
Virus dapat berpindah dari ibu kepada janin dan menyebabkan sindrom Zika kongenital, yang dapat meliputi mikrosefali, kelainan perkembangan otak, gangguan mata dan pendengaran, serta kontraktur anggota gerak. Infeksi juga dikaitkan dengan keguguran, lahir mati, dan kelahiran prematur.
Metaanalisis dari data 9.568 kehamilan dalam jurnal eClinicalMedicine pada 2025 menemukan bahwa mikrosefali berat terjadi pada sekitar 1,5 persen kehamilan dengan infeksi Zika dibandingkan 0,3 persen pada kelompok negatif Zika. Risiko relatifnya sekitar 4,5 kali lebih tinggi, meskipun estimasi untuk berbagai luaran kehamilan masih memiliki ketidakpastian.
Pencegahan

ilustrasi mosquito repellent dalam botol spray (pexels.com/Michelangelo Buonarroti) Zika terutama menyebar melalui gigitan nyamuk Aedes, tetapi virus juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual, termasuk dari orang yang tidak pernah merasa sakit.
Dianjurkan untuk menggunakan repelan yang terdaftar, pakaian yang menutupi kulit, serta perlindungan terhadap nyamuk di dalam dan sekitar tempat tinggal.
Setelah kemungkinan terpapar Zika, ada pula batas waktu untuk mencegah penularan seksual. Laki-laki dianjurkan menggunakan kondom atau tidak berhubungan seksual selama setidaknya tiga bulan, sedangkan perempuan selama setidaknya dua bulan, dihitung sejak kembali dari perjalanan atau sejak gejala/diagnosis jika mengalami infeksi.
Bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan, waktu tersebut menjadi penting karena virus dapat bertahan lebih lama dalam air mani.
Jika setelah berada di Bali muncul demam, ruam, sakit kepala, nyeri otot atau sendi, atau mata merah, sebaiknya cari pertolongan medis.
Referensi









![[QUIZ] Dari Durasi Workout Kamu, Kami Bisa Tebak Masalah Hidupmu](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)






![[QUIZ] Cek Kebiasaan Buang Air Besar Kamu, Sudah Sehat Belum?](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)




