Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Zika Berbahaya bagi Janin meski Ibu Cuma Sakit Ringan?

Kenapa Zika Berbahaya bagi Janin meski Ibu Cuma Sakit Ringan?
ilustrasi ibu hamil dan janin, bayi dalam kandungan (IDN Times/NRF)
  • Ringan atau tidak adanya gejala pada ibu tidak berarti risiko pada janin juga rendah.

  • Zika dapat melewati penghalang plasenta dan kemudian menginfeksi sel-sel yang berperan penting dalam perkembangan otak janin.

  • Infeksi pada awal kehamilan membawa risiko lebih besar, meski tidak setiap janin yang terpapar akan mengalami kelainan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pada kebanyakan orang, infeksi virus Zika berupa demam ringan, ruam, mata merah, nyeri sendi, atau bahkan tidak merasa sakit sama sekali.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut sebagian besar orang yang terinfeksi bahkan tidak mengalami gejala, sedangkan keluhan yang muncul biasanya ringan dan berlangsung sekitar 2–7 hari.

Namun, ini bisa sangat berbeda pada ibu hamil karena virus memiliki kemampuan untuk berpindah dari tubuh ibu ke janin dan menyerang jaringan yang sedang berada dalam tahap perkembangan sangat cepat.

  1. Gejala pada ibu tidak mencerminkan dampak yang mungkin dialami janin

    Beratnya gejala pada ibu tidak mencerminkan seberapa besar dampak yang mungkin dialami janin.

    Data U.S. Zika Pregnancy and Infant Registry menunjukkan kelainan bawaan terkait Zika ditemukan pada sekitar 5,3 persen bayi dari ibu yang bergejala dan 4,2 persen dari ibu yang tidak bergejala. Jadi, tidak mengalami demam tinggi atau sakit berat bukan berarti janin otomatis aman.

    Kelainan kongenital dapat terjadi setelah infeksi Zika baik yang bergejala maupun tanpa gejala. Secara keseluruhan, diperkirakan sekitar 5–15 persen bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi Zika selama kehamilan menunjukkan komplikasi terkait virus tersebut.

    Gejala yang dirasakan ibu terutama mencerminkan bagaimana tubuh orang dewasa merespons infeksi. Sementara itu, risiko bagi janin bergantung antara lain pada apakah virus mencapai plasenta dan janin serta kapan infeksi terjadi selama perkembangan kehamilan.

  2. Zika bisa melewati pertahanan plasenta

    Plasenta menjadi penghubung sekaligus penghalang antara sirkulasi ibu dan janin, tetapi pertahanan ini tidak sepenuhnya kebal terhadap Zika.

    Penelitian menemukan bahwa Zika dapat menginfeksi dan bereplikasi dalam sel Hofbauer, yaitu makrofag yang terdapat di jaringan plasenta, serta menginfeksi sel sitotrofoblas dalam tingkat lebih rendah. Temuan ini memberi sedikit penjelasan biologis bagaimana virus dapat memperoleh akses menuju janin.

    Studi jaringan plasenta lainnya juga menemukan keberadaan virus di sel Hofbauer pada kasus infeksi kongenital. Artinya, plasenta dapat menjadi salah satu lokasi tempat Zika bertahan dan memperbanyak diri sebelum mencapai janin.

  3. Masalah serius terjadi ketika virus mencapai otak janin yang sedang berkembang

    Ilustrasi ibu hamil sebagai visual yang menggambarkan masa kehamilan dan pengalaman seorang calon ibu.
    ilustrasi ibu hamil (pexels.com/cottonbro studio)

    Janin sangat rentan karena otaknya belum selesai terbentuk. Pada masa ini, terdapat banyak sel progenitor saraf, yaitu sel yang terus membelah dan nantinya menghasilkan berbagai sel penyusun otak.

    Penelitian eksperimental menggunakan sel manusia menunjukkan bahwa Zika dapat secara langsung menginfeksi sel progenitor saraf. Infeksi mengganggu siklus sel, meningkatkan kematian sel, dan menghambat pertumbuhan populasi sel tersebut.

    Studi menggunakan brain organoid—model tiga dimensi yang menyerupai otak manusia yang sedang berkembang—juga menunjukkan Zika dapat mengganggu neurogenesis dan pertumbuhan jaringan otak.

    Itulah salah satu alasan mengapa akibatnya dapat jauh lebih berat pada janin daripada pada ibu. Tubuh orang dewasa sudah memiliki jaringan otak yang matang. Sebaliknya, pada janin, gangguan terhadap sejumlah besar sel pembentuk otak pada periode kritis dapat memengaruhi struktur otak yang sedang dibangun.

    Dampaknya pun tidak terbatas pada mikrosefali. Sindrom Zika kongenital dapat mencakup gangguan perkembangan otak, kelainan mata, gangguan pendengaran, kejang, kekakuan otot, kontraktur sendi, dan kesulitan menelan.

  4. Makin awal terinfeksi, umumnya risikonya makin besar

    Waktu infeksi menjadi faktor penting karena perkembangan organ, termasuk otak, berlangsung sangat intens pada awal kehamilan.

    Data menunjukkan kelainan bawaan terkait Zika paling sering ditemukan setelah infeksi pada trimester pertama dan kedua. Dalam data Amerika Serikat (AS), sekitar 8 persen ibu dengan infeksi Zika terkonfirmasi pada trimester pertama memiliki bayi dengan kelainan bawaan terkait Zika.

    Studi prospektif di wilayah Prancis di Amerika juga menemukan kelainan neurologis dan mata lebih sering setelah infeksi trimester pertama dibandingkan trimester berikutnya.

    Metaanalisis data individual yang diterbitkan dalam jurnal EClinicalMedicine pada 2025 mencakup 9.568 kehamilan dari 18 studi di 11 negara. Risiko mikrosefali primer berat tercatat 1,5 persen pada kehamilan positif Zika dibanding 0,3 persen pada kelompok negatif, atau sekitar 4,5 kali lebih tinggi dalam salah satu model analisis.

    Meski demikian, infeksi Zika pada ibu tidak berarti setiap janin pasti mengalami kelainan. Yang membuat virus ini perlu mendapat perhatian khusus justru karena kondisi ibu yang terlihat ringan tidak dapat digunakan untuk memastikan bahwa janin tidak terdampak.

    Referensi

    World Health Organization, “Zika Virus,” diakses Agustus 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Congenital Zika Syndrome and Other Birth Defects,” diakses Agustus 2026.

    Kendra M. Quicke et al., “Zika Virus Infects Human Placental Macrophages,” Cell Host & Microbe 20, no. 1 (2016): 83–90, https://doi.org/10.1016/j.chom.2016.05.015. PubMed

    Hengli Tang et al., “Zika Virus Infects Human Cortical Neural Progenitors and Attenuates Their Growth,” Cell Stem Cell 18, no. 5 (2016): 587–90, https://doi.org/10.1016/j.stem.2016.02.016. PubMed

    Bruno Hoen et al., “Pregnancy Outcomes after ZIKV Infection in French Territories in the Americas,” New England Journal of Medicine 378, no. 11 (2018): 985–94, https://doi.org/10.1056/NEJMoa1709481. New England Journal of Medicine

    Zika Virus Individual Participant Data Consortium, “Adverse Fetal and Perinatal Outcomes Associated with Zika Virus Infection during Pregnancy: An Individual Participant Data Meta-analysis,” EClinicalMedicine 83 (2025): 103231, https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2025.103231.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More