Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mitos atau Fakta: Orang dengan Masalah Asam Lambung Tidak Boleh Puasa

Mitos atau Fakta: Orang dengan Masalah Asam Lambung Tidak Boleh Puasa
ilustrasi seorang perempuan memiliki masalah asam lambung saat puasa (freepik.com/benzoix)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Puasa Ramadan tidak selalu memperburuk gejala GERD; sebagian pasien justru mengalami penurunan keluhan seperti heartburn dan regurgitasi berkat pola makan yang lebih teratur.

  • Perbaikan gejala saat puasa dipengaruhi oleh frekuensi makan terbatas, berkurangnya kebiasaan makan larut malam, serta stabilnya produksi asam lambung akibat adaptasi fisiologis tubuh.

  • Dokter menegaskan pasien GERD ringan hingga sedang dapat berpuasa dengan aman jika menjaga pola makan, menghindari pemicu refluks, dan berkonsultasi bila gejala berat muncul.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bagi banyak orang, memiliki riwayat asam lambung sering dianggap sebagai alasan untuk tidak berpuasa. Kekhawatiran bahwa lambung yang kosong terlalu lama akan memicu peningkatan asam dan memperparah gejala membuat banyak orang memilih untuk tidak berpuasa.

Namun, apakah anggapan itu benar secara medis? Sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa pada sebagian pasien dengan gastroesophageal reflux disease (GERD), gejala refluks tidak selalu memburuk saat berpuasa. Bahkan, dalam beberapa kasus keluhan dapat menjadi lebih ringan ketika pola makan menjadi lebih teratur selama Ramadan.

Table of Content

1. Gejala yang dirasakan lebih ringan

1. Gejala yang dirasakan lebih ringan

Sejumlah studi klinis menunjukkan, puasa Ramadan tidak selalu memperburuk gejala GERD. Pada sebagian pasien, keluhan seperti heartburn (rasa terbakar di dada) dan regurgitasi (kondisi ketika isi lambung atau kerongkongan naik kembali ke mulut tanpa mual atau kontraksi perut yang kuat) dilaporkan lebih ringan selama periode puasa.

Satu penelitian yang melibatkan 130 pasien GERD di Indonesia menemukan bahwa keluhan nyeri ulu hati dan regurgitasi cenderung menurun saat pasien berpuasa. Penelitian lain juga melaporkan adanya penurunan signifikan pada skor gejala heartburn dan regurgitasi setelah periode puasa dibanding sebelum Ramadan.

Perubahan ini diduga berkaitan dengan perubahan pola makan selama Ramadan. Frekuensi makan biasanya menjadi lebih terstruktur, yaitu saat sahur dan berbuka, tanpa camilan berulang sepanjang hari. Pola makan seperti ini dapat mengurangi distensi lambung yang berulang, yang merupakan salah satu pemicu episode refluks.

Selain itu, berkurangnya kebiasaan makan larut malam juga dapat menurunkan risiko refluks saat seseorang berada dalam posisi berbaring.

2. Mengapa gejala bisa membaik saat puasa?

Seorang laki-laki mengalami masalah asam lambung.
ilustrasi mengalami masalah asam lambung (pexels.com/cottonbro studio)

Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa sebagian pasien GERD mengalami perbaikan gejala selama Ramadan.

  • Frekuensi makan lebih terbatas

Refluks asam sering dipicu oleh distensi lambung lambung mengalami pembesaran atau peregangan) setelah makan, terutama jika makan terlalu sering atau dalam porsi besar.

Secara fisiologis, episode refluks juga berkaitan dengan transient lower esophageal sphincter relaxation (TLESR), yaitu relaksasi sementara pada sfingter esofagus bawah yang sering terjadi setelah lambung mengalami distensi.

Saat puasa, frekuensi makan umumnya hanya dua kali sehari. Dengan frekuensi makan yang lebih terbatas, peningkatan tekanan di dalam lambung tidak terjadi terlalu sering sehingga risiko refluks dapat berkurang.

  • Berkurangnya kebiasaan makan larut malam

Makan terlalu dekat dengan waktu tidur dapat memperburuk refluks. Saat seseorang berbaring, isi lambung lebih mudah naik kembali ke kerongkongan.

Selama Ramadan, banyak orang waktu makan malamnya lebih teratur dan lebih jarang ngemil larut malam. Ini dapat membantu mengurangi risiko refluks asam yang terjadi pada malam hari.

  • Adaptasi fisiologis tubuh

Produksi asam lambung tidak cuma dipengaruhi oleh kondisi lambung kosong. Sekresi asam juga diatur oleh berbagai mekanisme hormonal dan saraf, termasuk stimulasi oleh hormon gastrin, histamin, dan asetilkolin yang biasanya meningkat setelah makan.

Tanpa rangsangan makan yang berulang sepanjang hari, fluktuasi sekresi asam pada sebagian individu dapat menjadi lebih stabil.

  • Pola makan yang lebih terkontrol

Bagi sebagian orang, Ramadan menjadi momen untuk lebih memperhatikan pola makan. Pasien dengan GERD yang menghindari pemicu seperti kopi, makanan berlemak tinggi, gorengan, atau makanan pedas sering kali mengalami perbaikan gejala.

Meski demikian, pola makan saat berbuka juga berperan penting. Konsumsi makanan dalam porsi besar secara tiba-tiba, makanan tinggi lemak, minuman berkafein, serta kebiasaan langsung berbaring setelah makan dapat memicu refluks pada sebagian orang.

3. Perspektif klinis dokter

Dalam praktik klinis, tidak sedikit pasien dengan GERD yang tetap bisa berpuasa tanpa mengalami perburukan gejala. Bahkan, pada sebagian pasien dengan gejala ringan hingga sedang yang terkontrol, perubahan pola makan selama Ramadan berkaitan dengan kondisi yang lebih stabil.

Menurut dokter, puasa Ramadan bisa membawa perbaikan bagi pasien GERD jika pola makan selama berbuka dan sahur dijaga dengan baik.

Jika terjadi kekambuhan gejala, ini sering kali bukan disebabkan oleh puasanya, melainkan oleh pola makan yang kurang tepat saat berbuka, misalnya makan dalam porsi besar secara tiba-tiba, makanan tinggi lemak, atau langsung berbaring setelah makan.

Karena itu, bagi orang dengan GERD, kuncinya bukan hanya keputusan untuk berpuasa atau tidak, tetapi bagaimana mengatur pola makan dan gaya hidup selama Ramadan.

4. Siapa saja yang perlu berhati-hati?

Ilustrasi seorang laki-laki mengalami heartburn.
ilustrasi seorang laki-laki mengalami heartburn (freepik.com/Jcomp)

Walaupun banyak orang dengan GERD bisa berpuasa, tetapi bukan berarti semua orang dengan GERD aman berpuasa tanpa evaluasi medis.

Beberapa kelompok yang perlu berhati-hati antara lain:

  • Pasien dengan gejala GERD yang berat atau tidak terkontrol

Pasien yang masih sering mengalami heartburn berat, nyeri dada seperti terbakar, muntah berulang, atau gangguan tidur akibat refluks sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

  • Pasien dengan esofagitis erosif

Pada pasien yang memiliki luka atau peradangan pada kerongkongan akibat refluks, iritasi berulang dapat memperburuk kondisi.

  • Pasien dengan penyakit penyerta

Pasien dengan penyakit lain seperti diabetes yang belum terkontrol, gangguan lambung kronis, atau penyakit sistemik tertentu perlu mempertimbangkan kondisi kesehatannya sebelum memutuskan untuk berpuasa.

  • Pola makan yang tidak terkontrol saat berbuka

Jika saat berbuka seseorang langsung makan dalam porsi sangat besar, mengonsumsi makanan tinggi lemak atau pedas, serta langsung berbaring setelah makan, risiko kambuhnya refluks tetap tinggi.

5. Tips aman berpuasa bagi orang dengan masalah asam lambung

Bagi pasien dengan GERD yang kondisinya terkontrol, puasa Ramadan tetap dapat dijalani dengan nyaman dengan beberapa langkah ini:

  • Berbuka secara bertahap

Mulailah dengan makanan ringan seperti air putih, kurma, atau sup hangat sebelum mengonsumsi makanan utama.

  • Hindari makanan pemicu refluks

Batasi makanan berlemak tinggi, gorengan, makanan sangat pedas, cokelat, minuman berkafein, dan minuman bersoda.

  • Makan dalam porsi sedang

Hindari makan dalam jumlah besar sekaligus karena dapat meningkatkan tekanan dalam lambung.

  • Jangan langsung berbaring setelah makan

Berikan jarak sekitar 2–3 jam antara makan malam dan waktu tidur.

  • Pilih menu sahur yang lebih ramah lambung

Makanan dengan karbohidrat kompleks, protein, dan serat dapat membantu menjaga rasa kenyang lebih lama.

  • Konsumsi obat sesuai anjuran dokter

Bagi pasien yang minum obat seperti proton pump inhibitor (PPI), waktu konsumsi obat dapat disesuaikan dengan waktu sahur atau berbuka sesuai rekomendasi dokter.

Anggapan bahwa orang dengan masalah asam lambung tidak boleh berpuasa tidak sepenuhnya benar. Pada pasien GERD ringan hingga sedang yang kondisinya terkontrol, puasa justru dapat dikaitkan dengan perbaikan gejala pada sebagian kasus.

Namun, keputusan untuk berpuasa tetap perlu mempertimbangkan kondisi klinis masing-masing individu. Dengan pengaturan pola makan yang tepat dan kondisi penyakit yang terkontrol, banyak pasien GERD tetap dapat menjalani puasa Ramadan dengan aman dan nyaman.

Referensi

Mardhiyah R, Radhiyatam, Makmun D, Syam AF, Setiati S. "The Effects of Ramadhan Fasting on Clinical Symptoms in Patients with Gastroesophageal Reflux Disease." Acta Med Indones. 2016;48(3):169–174.

Bohamad AH, Aladhab WA, Alhashem SS, et al. "Impact of Ramadan Fasting on the Severity of Symptoms among a Cohort of Patients with GERD." Cureus. 2023.

Rahimi, Hojjatolah and Najmeh Tavakol. “Effects of Ramadan Fasting on the Symptoms of Gastroesophageal Reflux Disease.” (2018).

Katz PO, Dunbar KB, Schnoll-Sussman FH, et al. “ACG Clinical Guideline: Diagnosis and Management of GERD.“ American Journal of Gastroenterology. 2022.

Gyawali CP, Fass R. “Clinical practice update on the diagnosis and management of GERD.“ American Gastroenterological Association.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More