Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bagaimana Cara Buka Puasa agar Tidak Memicu Asam Lambung Naik?

Bagaimana Cara Buka Puasa agar Tidak Memicu Asam Lambung Naik?
ilustrasi buka puasa (commons.wikimedia.org/Miansari66)
Intinya Sih
  • Beri jeda dan porsi kecil saat awal berbuka agar lambung punya waktu beradaptasi.

  • Hindari kombinasi gula tinggi, lemak berlebih, dan suhu makanan yang terlalu ekstrem.

  • Makan perlahan dan jaga posisi tubuh tetap tegak untuk mencegah asam lambung naik.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Buka puasa bisa terasa tidak nyaman ketika perut langsung bereaksi dengan nyeri, perih, atau sensasi panas di dada sesaat setelah makan pertama. Kondisi ini terjadi karena lambung tetap memproduksi asam selama puasa meski tidak ada makanan yang masuk. Karena itu, dindingnya menjadi lebih sensitif saat menerima makanan kembali.

Yang perlu diperhatikan bukan hanya jenis makanan, melainkan juga urutan, suhu, serta kebiasaan makan. Berikut beberapa hal penting yang perlu dipahami agar buka puasa tidak memicu kenaikan asam lambung. Apa saja?

1. Lambung memerlukan transisi bertahap saat menerima makanan

ilustrasi buka puasa
ilustrasi buka puasa (pexels.com/Michael Burrows)

Perut yang kosong selama puasa sebenarnya tetap memproduksi asam, hanya saja tidak digunakan untuk mencerna makanan. Ketika makanan langsung masuk dalam jumlah besar, lambung seperti kaget karena harus bekerja mendadak setelah lama tidak aktif. Situasi ini membuat produksi asam meningkat lebih cepat daripada kemampuan lambung melindungi dindingnya. Rasa perih yang muncul saat buka puasa sering berasal dari kondisi tersebut, bukan semata karena jenis makanannya.

Memberi jeda kecil sebelum makan besar membantu lambung menyesuaikan diri secara alami. Minum air putih, lalu mengonsumsi sedikit makanan ringan, memberi sinyal awal bahwa proses pencernaan akan dimulai. Cara ini membuat produksi asam meningkat secara bertahap, bukan melonjak sekaligus. Dampaknya, risiko nyeri lambung saat berbuka bisa jauh berkurang.

2. Kombinasi gula tinggi dan lemak memperlambat pengosongan lambung

ilustrasi es buah
ilustrasi es buah (vecteezy.com/dina marlina)

Makanan manis cepat diserap tubuh. Namun, saat dikonsumsi dalam jumlah besar ketika perut kosong, gula dapat memicu produksi asam lebih tinggi. Jika langsung disusul makanan berlemak seperti gorengan, proses pencernaan menjadi jauh lebih lambat. Lemak membutuhkan waktu cerna panjang sehingga makanan tertahan lebih lama di lambung.

Ketika isi lambung bertahan terlalu lama, tekanan di dalamnya meningkat. Kondisi ini mempermudah asam naik ke kerongkongan dan menimbulkan rasa panas di dada. Mengurangi kombinasi manis berlebihan dan lemak saat buka puasa membantu lambung bekerja lebih ringan. Perut pun terasa lebih nyaman setelah makan.

3. Suhu makanan terlalu ekstrem dapat mengiritasi dinding lambung

ilustrasi air es
ilustrasi air es (vecteezy.com/NARONG KHUEANKAEW)

Minuman yang sangat dingin memang terasa segar, tetapi suhu ekstrem dapat memicu kontraksi mendadak pada otot lambung. Reaksi ini membuat lambung menjadi lebih sensitif terhadap asam. Pada sebagian orang, kondisi tersebut bisa menimbulkan kram atau rasa tidak nyaman sesaat setelah minum.

Makanan terlalu panas juga dapat mengiritasi lapisan pelindung lambung. Ketika lapisan ini terganggu, asam lebih mudah menimbulkan rasa perih. Memilih makanan dan minuman dengan suhu sedang membantu menjaga keseimbangan kerja lambung. Cara sederhana ini sering diabaikan, padahal cukup berpengaruh.

4. Posisi tubuh setelah makan mempengaruhi risiko refluks

ilustrasi rebahan
ilustrasi rebahan (pexels.com/Karola G)

Setelah makan, isi lambung membutuhkan waktu untuk turun menuju usus. Jika tubuh langsung berbaring, posisi tersebut memudahkan asam bergerak kembali ke atas. Itulah sebabnya rasa panas di dada sering muncul ketika seseorang langsung rebahan setelah berbuka.

Menjaga posisi duduk tegak membantu gravitasi menahan isi lambung tetap di bawah. Kebiasaan ini memberi waktu bagi makanan untuk diproses secara bertahap. Bahkan, berjalan santai sebentar dapat membantu pencernaan bekerja lebih lancar. Cara ini sederhana, tetapi efektif mencegah keluhan asam lambung.

5. Kecepatan makan berpengaruh pada tekanan di dalam lambung

ilustrasi buka puasa
ilustrasi buka puasa (vecteezy.com/sfaafaa)

Saat makan terlalu cepat, udara ikut tertelan bersama makanan. Udara yang terperangkap meningkatkan tekanan di dalam lambung. Tekanan ini dapat mendorong asam naik dan menimbulkan sendawa atau rasa penuh mendadak.

Mengunyah makanan lebih lama membantu mengurangi udara yang masuk. Proses ini juga membuat makanan lebih halus sehingga mudah dicerna. Kecepatan makan yang lebih tenang membantu tubuh mengenali rasa kenyang lebih tepat waktu. Manfaatnya, risiko makan berlebihan saat berbuka bisa ditekan.

Buka puasa yang aman bagi lambung bukan hanya soal pilihan menu, tetapi juga berkaitan dengan cara makan dan kebiasaan setelahnya. Perubahan kecil, seperti memberi jeda, mengatur porsi, serta menjaga posisi tubuh, dapat menurunkan risiko asam lambung naik secara signifikan. Jika kebiasaan sederhana ini mulai diterapkan, bukankah buka puasa bisa terasa jauh lebih nyaman tanpa gangguan perut?

Referensi
"Comfortable fasting tips for GERD sufferers". Unair. Diakses pada Februari 2026.
"Stomach Acid Interferes When Fasting? Here's How to Overcome It". EMC Hospital. Diakses pada Februari 2026.
"Tips for Fasting for People with Acid Reflux". PB PEGI. Diakses pada Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us

Latest in Health

See More