Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Cara Mengatasi Cegukan saat Puasa, Tanpa Minum Air!

7 Cara Mengatasi Cegukan saat Puasa, Tanpa Minum Air!
ilustrasi orang cegukan (pixabay/Robin Higgins
Intinya Sih
  • Cegukan terjadi akibat kontraksi tiba-tiba diafragma dan bisa dipicu perubahan pola makan saat puasa.

  • Teknik pernapasan dan stimulasi saraf vagus dapat membantu menghentikan cegukan tanpa minum air.

  • Jika cegukan berlangsung lebih dari 48 jam, perlu evaluasi medis karena bisa menandakan kondisi serius.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Cegukan sering datang tiba-tiba, bahkan saat berpuasa. Saat puasa Ramadan, situasinya bisa lebih menantang karena pilihan paling umum untuk meredakannya, yaitu minum air, tidak bisa kamu lakukan.

Cegukan (hiccups) terjadi ketika diafragma berkontraksi secara tiba-tiba dan tidak terkendali, diikuti dengan penutupan cepat pita suara yang menghasilkan bunyi “hic”. Sebagian besar cegukan bersifat ringan dan hilang sendiri dalam beberapa menit. Namun, faktor seperti makan terlalu cepat saat sahur atau berbuka, perubahan suhu lambung, dan stres dapat memicunya.

Kabar baiknya, ada sejumlah cara untuk membantu menghentikan cegukan tanpa perlu minum air. Sebagian besar bekerja dengan cara memengaruhi saraf vagus atau menormalkan ritme diafragma. Penasaran apa saja? Cek di bawah ini jaga-jaga kamu membutuhkannya.

Table of Content

1. Tahan napas selama 10–20 detik

1. Tahan napas selama 10–20 detik

Menahan napas adalah teknik klasik yang memiliki dasar fisiologis. Saat kamu menahan napas, kadar karbon dioksida (CO₂) dalam darah meningkat. Peningkatan CO₂ dapat membantu menghambat refleks kontraksi diafragma yang tidak terkendali.

Peningkatan CO₂ dapat “mengganggu” pola refleks cegukan dan membantu menghentikannya.

Cara melakukannya:

  • Tarik napas dalam melalui hidung.
  • Tahan selama 10–20 detik.
  • Hembuskan perlahan.
  • Ulangi beberapa kali bila perlu.

2. Teknik pernapasan diafragma (deep breathing)

Latihan pernapasan, teknik pernapasan.
ilustrasi latihan pernapasan (IDN Times/NRF)

Alih-alih bernapas dangkal, coba bernapas dalam dan perlahan menggunakan diafragma.

Teknik ini membantu menstabilkan kontraksi otot pernapasan dan mengurangi iritasi pada saraf frenikus yang mengontrol diafragma.

Langkahnya:

  • Duduk tegak.
  • Letakkan satu tangan di dada, satu di perut.
  • Tarik napas perlahan hingga perut mengembang.
  • Embuskan perlahan selama 5–10 menit.

3. Peluk lutut ke arah dada

Posisi ini memberi tekanan lembut pada diafragma.

Manuver yang memberi tekanan ringan pada dada atau perut dapat membantu menghentikan cegukan.⁴

Caranya:

  • Duduk atau berbaring.
  • Tarik kedua lutut ke arah dada.
  • Tahan 30–60 detik.

Tekanan tersebut membantu “mereset” spasme diafragma.

4. Lakukan manuver Valsalva

Seorang pasien melakukan manuver Valsalva sambil diperiksa dengan otoskop oleh dokter.
Seorang pasien melakukan manuver Valsalva sambil diperiksa dengan otoskop oleh dokter. (commons.wikimedia.org/U.S. Air Force photo by Airman 1st Class Kate Thornton)

Manuver ini melibatkan usaha mengembuskan napas saat mulut dan hidung tertutup. Teknik ini meningkatkan tekanan intratorakal dan merangsang saraf vagus.

Stimulasi saraf vagus diketahui dapat membantu menghentikan cegukan karena refleks cegukan melibatkan jalur saraf ini.

Langkahnya:

  • Tarik napas dalam.
  • Tutup hidung dan mulut.
  • Coba embuskan napas perlahan selama 10–15 detik tanpa membiarkan udara keluar.

Lakukan dengan hati-hati, terutama jika memiliki masalah jantung.

5. Menarik lidah secara perlahan

Meski terdengar unik, tetapi teknik ini memiliki dasar neurologis.

Menarik lidah dapat merangsang saraf vagus dan saraf glossopharyngeal, yang berperan dalam refleks cegukan.

Caranya:

  • Pegang ujung lidah dengan tisu bersih.
  • Tarik perlahan ke depan selama beberapa detik.
  • Lepaskan dan ulangi jika perlu.

6. Kompres hangat pada area diafragma

Ilustrasi kompres hangat.
ilustrasi kompres hangat (freepik.com/rawrpixel.com)

Rasa hangat dapat membantu merilekskan otot yang tegang, termasuk diafragma.

Meskipun bukti ilmiahnya lebih terbatas dibanding teknik pernapasan, tetapi pendekatan relaksasi otot sering direkomendasikan dalam praktik klinis untuk spasme ringan.

Tempelkan handuk hangat di area ulu hati selama beberapa menit untuk membantu relaksasi.

7. Alihkan fokus dan relaksasi

Stres dan kecemasan dapat memperpanjang cegukan karena meningkatkan stimulasi saraf otonom.

Teknik relaksasi seperti mindful breathing atau distraksi mental ringan dapat membantu menurunkan respons saraf simpatik.

Cobalah:

  • Fokus pada hitungan napas.
  • Lakukan relaksasi otot progresif.
  • Alihkan perhatian dengan aktivitas ringan.

Kapan harus waspada?

Pasien berkonsultasi dengan dokter.
ilustrasi pasien berkonsultasi dengan dokter (freepik.com/pressfoto)

Sebagian besar cegukan akan hilang dalam beberapa menit. Namun, cegukan yang berlangsung lebih dari 48 jam disebut cegukan persisten dan bisa berkaitan dengan gangguan saraf, gangguan metabolik, atau efek obat tertentu.

Jika cegukan berlangsung lebih dari dua hari, disertai nyeri dada atau muntah, atau mengganggu tidur dan makan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Cegukan saat puasa memang mengganggu, tetapi biasanya tidak berbahaya. Teknik sederhana seperti menahan napas, pernapasan diafragma, atau manuver Valsalva bekerja dengan memengaruhi refleks saraf yang mengontrol diafragma.

Yang terpenting, pahami bahwa tubuh memiliki mekanisme alami untuk kembali ke ritme normal. Jika cegukan bersifat ringan, kamu bisa mengatasinya tanpa harus membatalkan puasa. Namun, jika berlangsung lama atau muncul berulang tanpa sebab jelas, evaluasi medis tetap diperlukan demi keamanan.

Referensi

“Hiccups: Symptoms and Causes.” Mayo Clinic. Diakses Februari 2026.

“Hiccups: Symptoms and Causes.” Cleveland Clinic. Diakses Februari 2026.

Juan Brañuelas Quiroga, José Urbano García, and Julio Bolaños Guedes, “Hiccups: A Common Problem With Some Unusual Causes and Cures,” British Journal of General Practice 66, no. 652 (October 27, 2016): 584–86, https://doi.org/10.3399/bjgp16x687913.

“Hiccups.” National Health Service. Diakses Februari 2026.

Peter J Kahrilas and Guoxiang Shi, “Why Do We Hiccup?,” Gut 41, no. 5 (November 1, 1997): 712–13, https://doi.org/10.1136/gut.41.5.712.

Full-Young Chang and Ching-Liang Lu, “Hiccup: Mystery, Nature and Treatment,” Journal of Neurogastroenterology and Motility 18, no. 2 (April 10, 2012): 123–30, https://doi.org/10.5056/jnm.2012.18.2.123.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More