Comscore Tracker

Glomerulonefritis: Penyebab, Gejala, Pengobatan

Melibatkan kerusakan pada glomeruli di dalam ginjal

Glomerulonefritis adalah salah satu jenis penyakit ginjal yang melibatkan kerusakan pada glomeruli (filter kecil) di dalam ginjal. Pada orang dengan glomerulonefritis, ginjal dapat mengalami kesulitan membuang limbah dan cairan dari tubuh. Jika kondisinya menjadi parah, gagal ginjal dapat terjadi.

Glomerulonefritis bisa datang tiba-tiba (akut) atau bertahap (kronis). Beberapa orang dapat mengalami serangan akut dan kemudian kondisi kronis bertahun-tahun kemudian. Penyakit ini bisa terjadi dengan sendirinya atau sebagai bagian dari penyakit lain, misalnya lupus dan diabetes.

1. Penyebab

Ada banyak kondisi yang dapat menyebabkan glomerulonefritis. Kadang, penyakit ini diturunkan dalam keluarga dan terkadang penyebabnya tidak diketahui. Seperti dipaparkan dalam laman Mayo Clinic, faktor-faktor yang dapat menyebabkan peradangan glomeruli antara lain:

Infeksi

Penyakit infeksi bisa secara langsung atau tidak langsung menyebabkan glomerulonefritis. Infeksi ini meliputi:

  • Glomerulonefritis post-streptococcal: Glomerulonefritis dapat berkembang satu atau dua minggu setelah pemulihan dari infeksi radang tenggorokan atau (jarang) infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri streptokokus (impetigo). Peradangan terjadi ketika antibodi terhadap bakteri menumpuk di glomeruli. Anak-anak lebih mungkin untuk mengembangkan jenis ini daripada orang dewasa, dan mereka juga lebih mungkin untuk pulih dengan cepat.
  • Endokarditis bakterial: Ini adalah infeksi pada lapisan dalam bilik dan katup jantung. Tidak jelas apakah peradangan pada ginjal adalah hasil dari aktivitas sistem kekebalan saja atau faktor lainnya.
  • Infeksi ginjal virus: Infeksi virus pada ginjal, seperti hepatitis B dan C, menyebabkan peradangan pada glomeruli dan jaringan ginjal lainnya.
  • HIV: Infeksi HIV dapat menyebabkan glomerulonefritis dan kerusakan ginjal yang progresif, bahkan sebelum berkembang menjadi AIDS.

Penyakit autoimun

Penyakit autoimun adalah penyakit yang disebabkan oleh sistem kekebalan yang menyerang jaringan sehat. Penyakit autoimun yang dapat menyebabkan glomerulonefritis meliputi:

  • Lupus: Penyakit ini dapat memengaruhi banyak bagian tubuh, termasuk kulit, sendi, ginjal, sel darah, jantung, dan paru-paru.
  • Sindrom Goodpasture: Pada gangguan langka ini sistem kekebalan menciptakan antibodi terhadap jaringan di paru-paru dan ginjal. Ini dapat menyebabkan kerusakan progresif dan permanen pada ginjal.
  • Nefropati IgA: Imunoglobulin A (IgA) adalah antibodi garis pertahanan pertama melawan agen infeksi. Nefropati IgA terjadi ketika deposit antibodi menumpuk di glomeruli. Peradangan dan kerusakan selanjutnya mungkin tidak terdeteksi untuk waktu yang lama. Gejala yang paling umum adalah darah dalam urine.

Vaskulitis

Vaskulitis adalah peradangan pembuluh darah. Jenis vaskulitis yang dapat menyebabkan glomerulonefritis meliputi:

  • Poliarteritis: Jenis vaskulitis yang memengaruhi pembuluh darah menengah dan kecil di banyak bagian tubuh, termasuk ginjal, kulit, otot, sendi, dan saluran pencernaan.
  • Granulomatosis dengan polyangiitis: Jenis ini memengaruhi pembuluh darah kecil dan menengah di paru-paru, saluran udara bagian atas, dan ginjal.

Kondisi sklerotik

Beberapa penyakit atau kondisi menyebabkan jaringan parut pada glomeruli yang mengakibatkan fungsi ginjal yang buruk dan menurun. Ini termasuk:

  • Hipertensi: Tekanan darah tinggi jangka panjang yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan jaringan parut dan peradangan glomeruli. Glomerulonefritis menghambat peran ginjal dalam mengatur tekanan darah.
  • Penyakit ginjal diabetik (nefropati diabetik): Kadar gula darah yang tinggi berkontribusi pada jaringan parut pada glomeruli dan meningkatkan laju aliran darah melalui nefron.
  • Glomerulosklerosis segmental fokal: Dalam kondisi ini, jaringan parut tersebar di antara beberapa glomeruli. Ini mungkin akibat dari penyakit lain atau mungkin terjadi tanpa alasan yang diketahui.

Penyebab lainnya

Jarang, glomerulonefritis kronis berjalan dalam keluarga. Salah satu bentuk yang diturunkan, sindrom Alport, juga dapat mengganggu pendengaran atau penglihatan.

Glomerulonefritis dikaitkan dengan kanker tertentu, seperti kanker lambung, kanker paru-paru dan leukemia limfositik kronis.

2. Gejala

Glomerulonefritis: Penyebab, Gejala, Pengobatanilustrasi glomerulonefritis (kidney.org)

Ada dua jenis glomerulonefritis, yaitu akut dan kronis. Bentuk akut berkembang secara tiba-tiba. Seseorang mungkin mendapatkannya setelah infeksi di tenggorokan atau kulit. Terkadang, kondisi bisa membaik dengan sendirinya. Di lain waktu, ginjal mungkin berhenti bekerja kecuali perawatan yang tepat dimulai dengan cepat, mengutip National Kidney Foundation.

Gejala awal glomerulonefritis akut adalah:

  • Wajah bengkak pada pagi hari.
  • Darah dalam urine atau urine berwarna cokelat.
  • Buang air kecil lebih sedikit dari biasanya.

Seseorang mungkin sesak napas dan batuk karena cairan ekstra di paru-paru. Bisa juga memiliki tekanan darah tinggi. Jika memiliki satu atau semua gejala di atas, segera temui dokter.

Bentuk kronis dapat berkembang secara diam-diam (tanpa gejala) selama beberapa tahun. Ini sering menyebabkan gagal ginjal total. Tanda dan gejala awal dari bentuk kronis mungkin termasuk:

  • Darah atau protein dalam urine (hematuria, proteinuria).
  • Tekanan darah tinggi.
  • Pembengkakan pergelangan wajah atau kaki (edema).
  • Sering buang air kecil pada malam hari.
  • Urine yang sangat berbuih atau berbusa.

Gejala gagal ginjal antara lain:

  • Kurang nafsu makan.
  • Mual dan muntah.
  • Kelelahan.
  • Sulit tidur.
  • Kulit kering dan gatal.
  • Kram otot pada malam hari.

Baca Juga: Studi: 3 Cangkir Kopi Sehari Kurangi Risiko Kerusakan Ginjal

3. Diagnosis

Glomerulonefritis mungkin tidak menimbulkan gejala. Itu sebabnya kondisi ini sering ditemukan saat melakukan tes untuk masalah kesehatan lain. Jika dokter mencurigai pasien menderita glomerulonefritis, tes berikut ini mungkin akan direkomendasikan:

  • Tes urine: Tes ini akan menentukan apakah seseorang memiliki protein atau darah dalam urine.
  • Tes darah: Untuk mengukur tingkat kreatinin (produk limbah yang disaring oleh ginjal) dalam sampel darah.
  • Biopsi ginjal: Dokter akan menggunakan jarum untuk mengeluarkan sepotong kecil jaringan ginjal. Jaringan diperiksa di bawah mikroskop.
  • Ultrasound (USG): USG memeriksa ukuran ginjal, mencari penyumbatan, dan mengidentifikasi masalah.

4. Pengobatan

Glomerulonefritis: Penyebab, Gejala, Pengobatanilustrasi obat-obatan (IDN Times/Aditya Pratama)

Dirangkum dari Johns Hopkins Medicine, dokter akan mencari pengobatan terbaik berdasarkan faktor-faktor seperti:

  • Usia.
  • Riwayat kesehatan dan medis secara keseluruhan.
  • Tingkat keparahan gejala atau penyakit.
  • Seberapa baik seseorang menangani obat-obatan, prosedur, atau terapi tertentu.
  • Berapa lama kondisi ini diperkirakan akan bertahan.
  • Pendapat atau preferensi pasien.

Sayangnya, penyakit ginjal tidak bisa disembuhkan. Perawatan berfokus pada memperlambat perkembangan penyakit dan mencegah komplikasi. Perawatan mungkin termasuk:

  • Obat tekanan darah seperti angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor yang melindungi aliran darah ke ginjal.
  • Kortikosteroid untuk mengurangi peradangan yang mengarah ke jaringan parut.
  • Diuretik (pil air) untuk menghilangkan kelebihan cairan dalam tubuh melalui lebih banyak produksi urine.
  • Perubahan pola makan, termasuk makan lebih sedikit protein, natrium, dan kalium.
  • Dialisis (cuci darah) untuk membuang limbah dan cairan dari darah setelah ginjal berhenti bekerja.
  • Transplantasi atau cangkok ginjal.

5. Komplikasi yang dapat terjadi

Glomerulonefritis memengaruhi kemampuan nefron untuk menyaring aliran darah secara efisien. Kerusakan dalam penyaringan dapat mengakibatkan:

  • Akumulasi limbah atau racun dalam aliran darah.
  • Regulasi yang buruk dari mineral dan nutrisi penting.
  • Kehilangan sel darah merah.
  • Kehilangan protein darah.

Kemungkinan komplikasi glomerulonefritis meliputi:

  • Gagal ginjal akut: Penurunan fungsi ginjal yang tiba-tiba dan cepat, sering dikaitkan dengan penyebab infeksi glomerulonefritis. Akumulasi limbah dan cairan dapat mengancam jiwa jika tidak segera ditangani dengan mesin dialisis. Ginjal sering melanjutkan fungsi khasnya setelah pemulihan.
  • Penyakit ginjal kronis: Peradangan terus-menerus menyebabkan kerusakan jangka panjang dan penurunan fungsi ginjal. Penyakit ginjal kronis secara umum didefinisikan sebagai kerusakan atau penurunan fungsi ginjal selama tiga bulan atau lebih. Penyakit ginjal kronis dapat berkembang menjadi penyakit ginjal stadium akhir, yang memerlukan dialisis atau transplantasi ginjal.
  • Tekanan darah tinggi: Kerusakan glomeruli akibat peradangan atau jaringan parut dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.
  • Sindrom nefrotik: Kondisi ketika ada terlalu banyak protein darah dalam urine dan terlalu sedikit dalam aliran darah. Protein ini berperan dalam mengatur cairan dan kadar kolesterol. Penurunan protein darah menyebabkan kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi dan pembengkakan (edema) pada wajah, tangan, kaki dan perut. Dalam kasus yang jarang, sindrom nefrotik dapat menyebabkan pembekuan darah di pembuluh darah ginjal.

6. Pencegahan

Glomerulonefritis: Penyebab, Gejala, Pengobatanilustrasi pola makan sehat (freepik.com/rawpixel.com)

Tidak ada cara yang terbukti untuk mencegah glomerulonefritis. Akan tetapi, dilansir Cleveland Clinic, beberapa tindakan berikut ini dapat membantu:

  • Kelola tekanan darah tinggi dengan pola makan rendah garam, olahraga rutin, dan obat-obatan.
  • Makan makanan yang sehat dan minim pemrosesan.
  • Cegah infeksi dengan mempraktikkan kebersihan yang baik dan seks yang aman. Hindari juga penggunaan jarum suntik untuk obat-obatan terlarang dan tato.
  • Temui dokter setiap kali jika curiga memiliki infeksi seperti radang tenggorokan (strep throat).

Glomerulonefritis disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari infeksi hingga masalah dengan sistem kekebalan tubuh. Kadang, glomerulonefritis ringan dan bisa membaik dengan sendirinya, tetapi di lain waktu bisa menyebabkan gagal ginjal dan komplikasi lainnya. Apabila kamu merasa memiliki gejala serta faktor risiko glomerulonefritis, sebaiknya segera temui dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Baca Juga: Cuci Darah, CAPD, dan Cangkok, Mana Terapi Terbaik untuk Ginjal?

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya