Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apakah Pakai Bra Kawat Meningkatkan Risiko Kanker Payudara?

4 min read
Apakah Pakai Bra Kawat Meningkatkan Risiko Kanker Payudara?
ilustrasi bra berkawat (unsplash.com/Uliana Kopanytsia)
  • Belum ada bukti ilmiah bahwa bra berkawat, bra tanpa kawat, bantalan, atau pemakaian bra lama meningkatkan risiko kanker payudara.
  • Mitos kawat bra menghambat aliran getah bening dan menumpuk racun tidak didukung bukti; risiko lebih terkait usia, riwayat keluarga, hormon, dan faktor kesehatan tertentu.
  • Bra terlalu ketat dapat menyebabkan nyeri atau iritasi. Waspadai benjolan, perubahan bentuk, kulit, puting, atau cairan tidak biasa, lalu segera konsultasi dokter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebagian perempuan memilih bra berkawat karena terasa lebih kokoh saat menopang payudara. Namun, ada juga yang sengaja menghindarinya setelah mendengar kabar bahwa kawat bra bisa memicu kanker payudara. Hal ini cukup meresahkan, apalagi bra termasuk pakaian yang digunakan banyak perempuan hampir setiap hari.

Anggapan tersebut sering dikaitkan dengan kawat yang menekan payudara hingga menghambat aliran getah bening. Lantas, benarkah pakai bra kawat meningkatkan risiko kanker payudara? Dari mana mitos ini berasal dan apa saja hal yang sebenarnya perlu diperhatikan?

  1. 1. Bra berkawat tidak terbukti menyebabkan kanker payudara

    ilustrasi bra berkawat
    ilustrasi bra berkawat (pexels.com/Castorly Stock)

    Sampai saat ini, belum ada bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa penggunaan bra berkawat dapat memicu kanker payudara. Hal yang sama berlaku untuk bra tanpa kawat, bra dengan bantalan, maupun kebiasaan memakai bra dalam waktu lama. Jadi, kamu gak perlu langsung berhenti memakai bra berkawat hanya karena merasa khawatir terhadap risiko kanker.

    Kanker payudara terjadi ketika sel-sel di jaringan payudara mengalami perubahan dan tumbuh secara tidak terkendali. Perkembangannya berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk usia, riwayat keluarga, perubahan hormon, dan kondisi kesehatan tertentu. Penggunaan bra bukan faktor risiko yang telah terbukti menyebabkan penyakit ini. Meski begitu, bukan berarti risiko kanker payudara bisa diabaikan hanya karena seseorang tidak memiliki faktor risiko tertentu.

  2. 2. Mitos ini muncul dari anggapan bahwa kawat bra menghambat aliran getah bening

    ilustrasi bra berkawat
    ilustrasi bra berkawat (unsplash.com/Malta Gordos)

    Salah satu mitos yang sering beredar menyebutkan bahwa kawat bra menekan jaringan payudara sehingga aliran getah bening terganggu. Akibatnya, racun dianggap menumpuk di payudara dan akhirnya memicu kanker. Penjelasan ini terdengar masuk akal bagi sebagian orang, tetapi tidak didukung bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa pemakaian bra berkawat memang bisa menyebabkan kanker melalui mekanisme tersebut.

    Sistem limfatik merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh yang membantu mengalirkan cairan dan mendukung proses pembuangan zat sisa dari jaringan. Sistem ini melibatkan pembuluh dan kelenjar getah bening di berbagai bagian tubuh, termasuk area sekitar payudara. Tekanan dari bra yang dipakai sehari-hari tidak terbukti membuat racun menumpuk hingga menyebabkan kanker.

  3. 3. Bra yang terlalu ketat tetap bisa menimbulkan keluhan

    ilustrasi dada sesak
    ilustrasi dada sesak (freepik.com/jcomp)

    Walaupun gak terbukti menyebabkan kanker, bukan berarti semua bra nyaman dan aman dipakai dalam kondisi apa pun. Bra yang ukurannya terlalu kecil atau kawatnya menekan bagian tertentu bisa menimbulkan rasa nyeri, bekas kemerahan, lecet, atau iritasi kulit. Keluhan biasanya terasa di sekitar bawah payudara, sisi dada, bahu, atau punggung, terutama jika bra dipakai berjam-jam.

    Kalau bra membuat dada terasa tertekan, sebaiknya periksa kembali ukuran dan bentuknya. Kawat bra seharusnya mengikuti lipatan bawah payudara, bukan menusuk jaringan atau menekan kulit kita. Tali yang terlalu kencang juga bisa membuat bahu terasa sakit. Kamu boleh memilih bra berkawat, tanpa kawat, atau model lain sesuai kebutuhan, selama ukurannya pas dan tidak menimbulkan keluhan. Rasa nyeri akibat bra yang kurang nyaman perlu dibedakan dari kanker payudara karena keduanya bukan hal yang sama.

  4. 4. Usia, riwayat keluarga, dan faktor hormon lebih perlu diperhatikan

    ilustrasi kanker payudara
    ilustrasi kanker payudara (unsplash.com/National Cancer Institute)

    Ada sejumlah faktor yang memang berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker payudara. Usia menjadi salah satu faktor karena risiko cenderung meningkat seiring bertambahnya umur. Riwayat kanker payudara pada keluarga dekat, perubahan gen tertentu seperti BRCA1 dan BRCA2, serta riwayat paparan radiasi di area dada juga dapat meningkatkan risiko.

    Faktor lain meliputi kepadatan jaringan payudara, penggunaan terapi hormon tertentu setelah menopause, riwayat reproduksi serta kelebihan berat badan setelah menopause. Konsumsi alkohol dan kurangnya aktivitas fisik juga berkaitan dengan peningkatan risiko. Namun, memiliki satu atau beberapa faktor tersebut bukan berarti seseorang pasti akan terkena kanker payudara. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki faktor risiko tetap bisa mengalami penyakit ini.

  5. 5. Kenali perubahan payudara dan jangan menunda pemeriksaan

    ilustrasi memeriksa payudara
    ilustrasi memeriksa payudara (unsplash.com/Sasun Bughdaryan)

    Daripada terlalu khawatir dengan jenis bra yang digunakan, lebih baik mengenali perubahan pada payudara sendiri. Perhatikan jika muncul benjolan baru, perubahan bentuk atau ukuran payudara, kulit yang tampak berlekuk seperti kulit jeruk, puting yang tertarik ke dalam, atau cairan dari puting yang tidak biasa, terutama jika bercampur darah. Perubahan tersebut tidak selalu menandakan kanker, tetapi tetap perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya.

    Jangan menunggu sampai terasa sakit untuk mencari pertolongan medis karena kanker payudara tidak selalu menimbulkan nyeri pada tahap awal. Jika menemukan perubahan yang terasa tidak biasa, segera konsultasikan dengan dokter. Pemeriksaan lanjutan dan skrining juga bisa disesuaikan dengan usia serta faktor risiko masing-masing. Mengenali perubahan sejak dini membantu seseorang memperoleh pemeriksaan dan penanganan yang tepat bila memang diperlukan.

    Jadi, pakai bra kawat meningkatkan risiko kanker payudara adalah kebiasaan yang belum terbukti. Kamu bisa memilih model bra yang paling nyaman tanpa harus merasa takut terhadap kawatnya. Sesungguhnya yang lebih penting adalah memahami faktor risiko yang sebenarnya, memperhatikan perubahan pada payudara, dan tidak menunda pemeriksaan ketika menemukan sesuatu yang terasa berbeda.

    Referensi

    "Myth: Bras with underwire can cause breast cancer." National Breast Cancer Foundation. Diakses pada Oktober 2026.

    "Does wearing a bra increase my risk of breast cancer?" Canadian Cancer Society. Diakses pada Oktober 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More