5 Perkembangan Medis Kanker Payudara yang Memberi Harapan Baru

Terapi terarah modern memberi harapan bagi kanker payudara stadium lanjut, termasuk remisi jangka panjang pada pasien HER2+ dengan kualitas hidup baik.
Onkologi presisi melalui profil genomik membantu menentukan kebutuhan kemoterapi, sementara targeted therapy dan imunoterapi menekan kerusakan sel sehat serta efek samping.
Liquid biopsy memudahkan pemantauan melalui sampel darah, sedangkan perawatan multidisiplin dan deteksi dini lewat SADARI serta skrining tetap penting.
Diagnosis kanker payudara sering menimbulkan ketakutan karena masih dikaitkan dengan pengobatan yang berat dan harapan hidup yang rendah. Padahal, kemajuan medis dalam dua dekade terakhir telah membuat penanganan kanker payudara jauh lebih baik.
Dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Payudara (Pink October), para pakar kesehatan dalam perayaan 20 tahun Parkway Cancer Centre di Shangri-La Jakarta, pada Jumat (25/9) memaparkan lima perkembangan yang menunjukkan bahwa kanker payudara kini dapat ditangani dengan lebih presisi, lebih manusiawi, dan memberikan harapan hidup yang lebih baik.
1. Kanker stadium lanjut bukan lagi vonis akhir
Dulu, kanker payudara stadium lanjut (stadium 4) sering dianggap tidak memiliki harapan. Namun, kemajuan terapi terarah (targeted therapy) telah mengubah pandangan tersebut.
Khoo Kei Siong, Deputy Medical Director dan Senior Consultant Medical Oncologist di Parkway Cancer Centre (PCC), menceritakan pengalaman seorang pasien dengan kanker payudara HER2+ stadium 4 yang terdiagnosis setelah melahirkan.
Berkat kombinasi terapi terarah modern, pasien tersebut mencapai remisi jangka panjang dan tetap hidup dengan kualitas yang baik lebih dari 10 tahun kemudian. Ia bahkan dapat mendampingi anak-anaknya tumbuh hingga dewasa.
2. Tidak semua pasien kanker payudara memerlukan kemoterapi

ilustrasi pasien kanker payudara (IDN Times/Novaya Siantita) Salah satu kekhawatiran terbesar pasien kanker adalah efek samping kemoterapi, seperti rambut rontok dan tubuh sangat lemas. Namun, kemajuan onkologi presisi kini membantu dokter menentukan pasien yang benar-benar memerlukan kemoterapi dan yang tidak.
Melalui tes profil genomik seperti Oncotype DX, dokter dapat menganalisis ekspresi gen dari sel kanker untuk menghitung recurrence score (skor risiko kekambuhan). Jika risikonya rendah, pasien cukup menjalani terapi hormon tanpa kemoterapi. Dengan cara ini, pasien dapat terhindar dari efek samping yang tidak perlu tanpa mengurangi peluang keberhasilan pengobatan.
3. Terapi modern lebih pintar dan minim efek samping
Pengobatan kanker kini tidak lagi hanya mengandalkan kemoterapi konvensional. Terapi yang lebih spesifik, seperti targeted therapy dan imunoterapi, telah menjadi bagian penting dalam penanganan kanker.
Targeted therapy bekerja bak peluru kendali, yang hanya menargetkan bagian tertentu dari sel kanker sehingga kerusakan pada sel sehat dapat diminimalkan. Sementara itu, imunoterapi membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker dengan lebih efektif.
Karena bekerja lebih spesifik, terapi-terapi ini umumnya menimbulkan efek samping yang lebih ringan sehingga banyak pasien tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik.
4. Deteksi dan pemantauan kanker kini makin nyaman lewat sampel darah

ilustrasi kanker payudara (IDN Times/Aditya Pratama) Biopsi jaringan sering kali terasa tidak nyaman dan terkadang sulit dilakukan jika tumor berada di bagian tubuh yang dalam. Kini, tersedia metode yang lebih praktis melalui sampel darah, yang dikenal sebagai liquid biopsy atau pemeriksaan circulating tumor DNA (ctDNA).
Saat sel kanker tumbuh atau mati, sebagian materi genetiknya dapat masuk ke aliran darah. Melalui sampel darah, dokter dapat mempelajari profil genetik tumor, memantau respons pengobatan, dan mendeteksi tanda-tanda kekambuhan lebih dini tanpa perlu menjalani biopsi jaringan berulang kali.
5. Penanganan holistik yang menempatkan pasien di pusat perhatian
Perawatan kanker modern kini mengandalkan kerja sama tim multidisiplin yang melibatkan berbagai dokter spesialis dan tenaga pendukung psikososial seperti jaringan CanHOPE. Pendekatan terpadu ini membantu memastikan pengobatan disesuaikan dengan kondisi medis, kebutuhan emosional, dan tahap kehidupan setiap pasien.
Dengan pendekatan tersebut, pasien tidak hanya dipandang dari diagnosis penyakitnya, tetapi juga sebagai individu yang membutuhkan perawatan yang penuh empati dan rasa hormat.
Meski penanganan kanker payudara telah berkembang pesat, tetapi deteksi dini tetap menjadi kunci untuk mendapatkan hasil terbaik. Karena itu, pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) secara rutin dan skrining berkala tetap penting dilakukan.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)













![[QUIZ] Dari Sinyal Tubuh, Kamu Lebih Butuh Plank, Sit Up, atau Push Up?](https://image.idntimes.com/post/20250305/pexels-maksgelatin-4348653-a8bdf633103f42baecf1db7a242f31a0.jpg)





![[QUIZ] Dari Kebiasaan Olahraga, Cek Metode Jalan Kaki yang Bisa Kamu Lakukan](https://image.idntimes.com/post/20250207/metode-jalan-kaki-yang-bantu-turunkan-berat-badan-ee4894aef27f25c5b09005b6e69b7258.jpg)


