Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pakai Earbuds Bikin Kotoran Telinga Menumpuk, Benarkah?
ilustrasi orang menggunakan earbuds (pexels.com/Mikhail Nilov)
  • Earbuds belum terbukti pasti membuat semua orang memproduksi lebih banyak kotoran telinga.

  • Penggunaan terlalu lama atau terlalu dalam dapat menghambat keluarnya serumen dan mendorongnya kembali ke dalam liang telinga.

  • Telinga terasa penuh, pendengaran meredup, berdenging, gatal, atau nyeri dapat menandakan sumbatan yang perlu diperiksa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat earbuds dilepas, kamu melihat ada lapisan kekuningan di permukaannya. Besoknya, kotoran yang sama kembali menempel. Ini mudah menimbulkan kesan bahwa earbuds membuat telinga memproduksi serumen jauh lebih banyak.

Earbuds memang bisa ikut menyebabkan kotoran telinga menumpuk, tetapi belum tentu meningkatkan produksinya secara langsung pada setiap orang. Masalahnya lebih sering terjadi karena alat yang masuk ke liang telinga mengganggu proses pembersihan alami, menahan serumen (kotoran telinga), atau mendorongnya makin dalam.

1. Fungsi penting kotoran telinga

Serumen merupakan campuran sekresi kelenjar, sel kulit mati, rambut halus, dan partikel lain yang membantu melembapkan liang telinga, menangkap debu, serta memberikan perlindungan terhadap air dan mikroorganisme.

Dalam kondisi normal, liang telinga dapat membersihkan dirinya sendiri. Gerakan rahang ketika mengunyah dan berbicara membantu memindahkan serumen perlahan-lahan ke bagian luar telinga. Setelah mencapai pintu liang telinga, serumen biasanya mengering dan terlepas tanpa perlu dikorek.

Produksi serumen juga berbeda pada setiap orang. Bentuk liang telinga, konsistensi serumen, kondisi kulit, usia, dan faktor genetik dapat menentukan apakah kotoran mudah keluar atau justru cenderung menumpuk.

2. Earbuds lebih mungkin menghambat keluarnya serumen

Earbuds yang berada di dalam liang telinga dapat menjadi penghalang mekanis bagi serumen yang sedang bergerak keluar. Saat dipasang berulang kali, ujung earbuds juga dapat mendorong sebagian serumen kembali ke bagian yang lebih dalam dan membuatnya makin padat.

Tinjauan klinis menyebut penggunaan benda yang masuk ke liang telinga, termasuk beberapa jenis earbuds, earplug, dan alat bantu dengar, dapat mengganggu migrasi alami serumen. Penyisipan benda secara berulang juga mungkin merangsang kulit liang telinga dan memengaruhi produksi atau komposisi serumen.

Namun, bukti langsung yang membandingkan jumlah produksi kotoran telinga pada pengguna dan non pengguna earbuds masih terbatas. Sebuah penelitian terhadap pengguna alat bantu dengar tidak menemukan hubungan yang signifikan antara pemakaian alat tersebut dan sumbatan serumen. Jadi, mungkin ini bergantung pada anatomi dan karakteristik telinga masing-masing orang.

Sampai di sini, kesimpulannya earbuds dapat membuat serumen lebih sulit keluar dan tampak lebih cepat menumpuk, bukannya membuat kotoran bertambah.

3. Siapa yang lebih mudah mengalami penumpukan?

ilustrasi earbuds TWS (Unsplash.com/Andrey Matveev)

Risiko bisa lebih besar pada orang yang:

  • Memakai earbuds berjam-jam hampir setiap hari.

  • Memasangnya terlalu dalam atau menggunakan bantalan yang sangat rapat.

  • Memiliki liang telinga sempit atau bentuknya berkelok.

  • Menghasilkan serumen yang kering, keras, atau sangat lengket.

  • Mengalami eksim, psoriasis, atau iritasi kulit di sekitar telinga.

  • Rutin membersihkan telinga dengan cotton bud atau alat pengorek.

  • Sebelumnya pernah mengalami sumbatan serumen berulang.

Penggunaan cotton bud setelah melepas earbuds dapat memperburuk masalah. Serat kapas memang mengambil sedikit kotoran di permukaan, tetapi bagian lainnya dapat terdorong lebih dekat ke gendang telinga. Para ahli tidak menganjurkan memasukkan benda ke dalam liang telinga untuk membersihkan kotoran telinga.

4. Kenali tanda kotoran telinga sudah menyumbat

Kotoran yang terlihat pada permukaan earbuds belum tentu menandakan masalah. Serumen baru disebut mengalami impaksi atau sumbatan ketika menumpuk hingga menimbulkan gejala atau menghalangi pemeriksaan liang telinga dan gendang telinga.

Gejalanya dapat berupa:

  • Telinga terasa penuh atau tersumbat.

  • Pendengaran seperti tertutup atau volumenya menurun.

  • Telinga berdenging.

  • Gatal atau rasa mengganjal.

  • Nyeri telinga.

  • Pusing pada sebagian orang.

Keluhan tersebut tidak selalu disebabkan serumen. Infeksi telinga, gangguan tuba eustachius, masalah gendang telinga, atau gangguan saraf pendengaran dapat menimbulkan gejala serupa. Jika pendengaran tiba-tiba menurun, terutama hanya pada satu telinga, jangan langsung menganggapnya sekadar kotoran. Kondisi tersebut perlu dievaluasi oleh dokter.

5. Cara memakai earbuds agar serumen tidak mudah menumpuk

Tidak ada keharusan berhenti menggunakan earbuds jika telinga tidak bermasalah. Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu mengurangi risikonya:

  • Jangan mendorong earbuds lebih dalam dari yang diperlukan.

  • Beri jeda penggunaan agar liang telinga tidak terus tertutup.

  • Selingi dengan headphone yang tidak masuk ke dalam liang telinga.

  • Bersihkan permukaan dan bantalan earbuds sesuai petunjuk produsen.

  • Jangan berbagi earbuds dengan orang lain.

  • Jangan mengorek telinga setelah pemakaian.

  • Bersihkan hanya bagian luar telinga menggunakan kain lembut.

Jika kamu terus menemukan banyak serumen pada earbuds tetapi tidak memiliki keluhan, telinga biasanya tidak perlu dibersihkan. Membersihkan secara berlebihan justru dapat mengiritasi kulit, menghilangkan lapisan pelindung, dan meningkatkan risiko sumbatan.

Bagaimana jika telinga sudah terasa tersumbat?

ilustrasi telinga terasa tersumbat (magnific.com/freepik)

Obat tetes pelunak serumen dapat membantu pada sebagian orang. Namun, jangan menggunakannya atau melakukan irigasi sendiri jika pernah mengalami gendang telinga berlubang, memasang tabung telinga, menjalani operasi telinga, atau sedang mengalami nyeri berat dan keluar cairan dari telinga.

Orang dengan diabetes, daya tahan tubuh lemah, penggunaan obat pengencer darah, atau bentuk liang telinga yang tidak normal sebaiknya meminta bantuan tenaga kesehatan. Dokter dapat mengeluarkan serumen dengan obat pelunak, irigasi yang tepat, alat manual, atau penyedotan sambil melihat langsung liang telinga.

Hindari ear candle, alat pengorek berkamera, penjepit, atau cotton bud yang dimasukkan jauh ke dalam telinga. Selain mendorong serumen lebih dalam, alat tersebut dapat menggores liang telinga atau melukai gendang telinga.

Referensi

Horton, Garret A., Matthew T. W. Simpson, Michael M. Beyea, dan Jason A. Beyea. “Cerumen Management: An Updated Clinical Review and Evidence-Based Approach for Primary Care Physicians.” Journal of Primary Care & Community Health 11 (2020): 1–5. https://doi.org/10.1177/2150132720904181.

Manchaiah, Vinaya, Jonathan Arthur, dan Huw Williams. “Does Hearing Aid Use Increase the Likelihood of Cerumen Impaction?” Journal of Audiology & Otology 19, no. 3 (2015): 168–71. https://doi.org/10.7874/jao.2015.19.3.168.

Schwartz, Seth R., Anna E. Magit, Richard M. Rosenfeld, et al. “Clinical Practice Guideline (Update): Earwax (Cerumen Impaction).” Otolaryngology–Head and Neck Surgery 156, suppl. 1 (2017): S1–S29. https://doi.org/10.1177/0194599816671491.

Sevy, Justin O., Marc H. Hohman, dan Anumeha Singh. “Cerumen Impaction Removal.” Dalam StatPearls. Treasure Island, FL: StatPearls Publishing. Diperbarui 1 Maret 2023. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK448155/.

Curated For You

Editorial Team

Related Article