Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Checklist Persiapan sebelum Hamil untuk Mencegah Stunting

Checklist Persiapan sebelum Hamil untuk Mencegah Stunting
ilustrasi test pack positif hamil (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya Sih
  • Stunting merupakan masalah pertumbuhan yang dipengaruhi banyak faktor. Persiapan sebelum hamil dapat mengurangi sebagian risikonya, tetapi tidak memberikan jaminan mutlak.

  • Status gizi, anemia, penyakit kronis, rokok, dan jarak kehamilan perlu diperhatikan sebelum pembuahan terjadi.

  • Asam folat penting untuk mencegah cacat tabung saraf, tetapi bukan suplemen khusus untuk mencegah stunting.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Seringnya, persiapan kehamilan baru dimulai setelah dua garis muncul pada test pack. Pola makan diperbaiki, beli suplemen, lalu mulai menjadwalkan pemeriksaan kesehatan.

Mungkin banyak yang belum tahu bahwa pada minggu-minggu pertama kehamilan, ketika seseorang mungkin belum menyadari dirinya hamil, proses penting pembentukan organ dan pertumbuhan janin sudah berlangsung.

Kondisi tubuh sebelum pembuahan ikut menentukan lingkungan tempat janin tumbuh. Stunting didefinisikan sebagai tinggi badan yang terlalu rendah menurut usia akibat kekurangan gizi kronis atau berulang. Kondisi ini sering berkaitan dengan kesehatan dan gizi ibu yang buruk, infeksi berulang, masalah pemberian makan, perawatan yang kurang memadai, serta kondisi sosial ekonomi.

Dari situ, bisa ditarik kesimpulan bahwa pencegahan stunting tidak hanya dimulai ketika anak belajar makan. Sebagian fondasinya bisa dibangun sebelum kehamilan.

1. Lakukan pemeriksaan prakonsepsi

Tujuan dari pemeriksaan prakonsepsi bertujuan mengenali dan memperbaiki faktor yang dapat memengaruhi kesehatan ibu, kehamilan, dan pertumbuhan janin. Pemeriksaan bisa dilakukan beberapa bulan sebelum mulai mencoba hamil agar masih ada waktu untuk menangani masalah yang ditemukan.

Tenaga kesehatan biasanya akan menilai riwayat kehamilan, pola menstruasi, berat badan, tekanan darah, status gizi, penyakit kronis, obat dan suplemen yang digunakan, imunisasi, kebiasaan merokok, serta risiko infeksi atau kelainan genetik. Tes darah dan pemeriksaan lain diberikan sesuai kebutuhan.

Pemeriksaan menjadi makin penting jika kamu memiliki diabetes, hipertensi, penyakit tiroid, gangguan ginjal, penyakit autoimun, gangguan penyerapan makanan, menstruasi sangat banyak, atau riwayat melahirkan bayi prematur dan berat lahir rendah.

2. Memperbaiki status gizi

Tubuh membutuhkan cadangan energi dan zat gizi yang memadai untuk mendukung pembentukan plasenta dan pertumbuhan janin. Jadi, program hamil bukan waktu untuk diet ketat, menghilangkan banyak kelompok makanan, atau mengejar penurunan berat badan dalam waktu singkat.

Sebuah penelitian kohort di Vietnam menemukan bahwa status gizi ibu sebelum hamil berkaitan dengan pertumbuhan janin serta tinggi anak saat lahir dan pada usia 2 tahun. Tinggi dan berat badan ibu sebelum hamil memang tidak seluruhnya dapat diubah, tetapi hasil tersebut menunjukkan masalah pertumbuhan bisa berawal sebelum kehamilan terdeteksi.

Jika berat badan terlalu rendah, fokuskan perbaikan pada makanan padat nutrisi dan penambahan berat secara bertahap. Jika memiliki obesitas, perubahan pola makan dan aktivitas fisik juga sebaiknya dilakukan secara realistis serta didampingi tenaga kesehatan. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kesehatan metabolik dan kecukupan nutrisi sebelum hamil.

3. Perbaiki kualitas makanan sejak sebelum pembuahan

Seorang wanita tersenyum sambil menikmati hidangan makan malam di meja dengan pencahayaan hangat dan suasana nyaman.
ilustrasi makan malam (pexels.com/cottonbro studio)

Pola makan untuk persiapan kehamilan sebaiknya menyediakan sumber protein, zat besi, folat, vitamin B12, yodium, kalsium, zink, lemak sehat, dan energi yang cukup.

Sumbernya dapat berasal dari telur, ikan, daging tanpa banyak lemak, susu atau alternatifnya, tahu, tempe, kacang-kacangan, sayuran, buah, serta makanan pokok yang bervariasi.

Uji klinis Women First di India dan Pakistan menemukan bahwa intervensi nutrisi yang dimulai setidaknya tiga bulan sebelum pembuahan menghasilkan panjang lahir yang lebih baik. Proporsi bayi yang sudah tergolong pendek saat lahir adalah 9,9 persen pada kelompok intervensi prakonsepsi, dibandingkan dengan 17,7 persen pada kelompok kontrol.

Akan tetapi, penelitian tersebut menggunakan kombinasi suplemen energi, protein, dan mikronutrien dalam populasi dengan risiko kekurangan gizi. Hasilnya tidak berarti semua orang perlu membeli suplemen serupa.

Sebuah tinjauan tahun 2025 juga menyimpulkan bahwa intervensi nutrisi prakonsepsi menjanjikan, tetapi jenis intervensi dan kekuatan buktinya masih beragam.

4. Periksa dan obati anemia sesuai penyebabnya

Selain karena kekurangan zat besi, anemia bisa muncul akibat kekurangan vitamin B12 atau folat, perdarahan menstruasi, infeksi, penyakit kronis, maupun kelainan darah seperti talasemia.

Sebuah tinjauan sistematis menemukan bahwa sebagian besar penelitian yang dianalisis menunjukkan hubungan antara anemia ibu dan pertumbuhan anak yang lebih pendek atau stunting. Namun, hasilnya tidak konsisten di semua penelitian sehingga anemia tidak dapat disebut sebagai penyebab tunggal.

Jika pemeriksaan menunjukkan anemia, penyebabnya perlu dicari sebelum langsung mengonsumsi zat besi dosis tinggi.

Orang dengan menstruasi berat, pola makan vegan, punya gangguan lambung atau usus, maupun punya riwayat anemia berulang mungkin butuh pemeriksaan tambahan. Pengobatannya kemudian disesuaikan, misalnya zat besi, vitamin B12, folat, atau mengobati sumber perdarahannya.

5. Mulai asam folat saat merencanakan kehamilan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan semua perempuan yang mulai mencoba hamil untuk mengonsumsi 400 mikrogram asam folat setiap hari hingga usia kehamilan 12 minggu.

Asam folat terbukti membantu mencegah cacat tabung saraf, seperti spina bifida, yang terbentuk sangat awal dalam kehamilan.

Namun, asam folat bukan obat khusus pencegah stunting. Manfaat utamanya adalah mengurangi risiko cacat tabung saraf. Kebutuhan dosis yang lebih tinggi hanya berlaku pada kondisi tertentu, misalnya riwayat kehamilan dengan cacat tabung saraf, dan harus mengikuti arahan dokter.

Hindari menggabungkan beberapa vitamin kehamilan tanpa memeriksa kandungannya. Dosis ganda belum tentu memberi manfaat tambahan dan dapat membuat asupan beberapa zat gizi menjadi berlebihan.

6. Kendalikan penyakit dan evaluasi obat yang digunakan

Beberapa botol obat dan kemasan tablet serta kapsul berbagai warna tersusun di atas meja dengan latar belakang buram.
ilustrasi obat-obatan (pexels.com/Atlantic Ambience)

Diabetes, hipertensi, penyakit tiroid, penyakit ginjal, gangguan autoimun, dan sejumlah infeksi dapat memengaruhi kehamilan serta pertumbuhan janin jika tidak terkontrol. Sebelum merencanakan kehamilan, kondisi penyakit harus stabil dan pengobatannya telah disesuaikan.

Jangan menghentikan obat rutin secara mendadak karena mengetahui atau merencanakan kehamilan. Sebagian obat memang perlu diganti, tetapi penyakit yang tidak terkontrol juga dapat membahayakan ibu dan janin. Bawa daftar seluruh obat, jamu, suplemen, serta produk olahraga saat konsultasi prakonsepsi.

Status imunisasi dan risiko infeksi juga perlu diperiksa. Beberapa vaksin idealnya diberikan sebelum kehamilan.

7. Stop rokok, hindari alkohol, dan atur jarak kehamilan

Paparan tembakau selama kehamilan berkaitan dengan hambatan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, dan berat lahir rendah.

Paparan asap rokok dari pasangan atau lingkungan rumah ikut berkontribusi terhadap masalah pertumbuhan anak. Selain calon ibu, pasangan dan anggota keluarga juga perlu menciptakan rumah bebas asap rokok.

Hentikan konsumsi alkohol sejak mulai merencanakan kehamilan karena pembuahan dapat terjadi sebelum seseorang menyadarinya. Tidak ada jumlah alkohol yang telah dipastikan aman selama kehamilan.

Untuk kehamilan berikutnya, jarak juga perlu direncanakan. WHO merekomendasikan menunggu sedikitnya 24 bulan setelah melahirkan sebelum mencoba hamil lagi, meskipun keputusan akhirnya perlu mempertimbangkan usia, kesuburan, riwayat operasi sesar, dan kondisi kesehatan.

Menurut sebuah metaanalisis di kawasan Asia-Pasifik, anak yang lahir dari jarak kehamilan terlalu dekat memiliki kemungkinan stunting sekitar 47 persen lebih tinggi dibandingkan jarak yang tidak pendek.

Perbaikan gizi sebelum hamil bukan satu-satunya kunci mencegah stunting

Memperbaiki kesehatan dari sebelum hamil memang baik, tetapi stunting tetap dipengaruhi oleh pertumbuhan selama kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan.

Dalam tindak lanjut studi Women First, intervensi nutrisi prakonsepsi memperbaiki jalur pertumbuhan anak hingga usia 2 tahun. Namun, perbedaan angka stunting pada usia 2 tahun tidak lagi signifikan antara kelompok intervensi dan kontrol. Panjang badan saat lahir justru menjadi prediktor terkuat pertumbuhan berikutnya.

Temuan tersebut menunjukkan dua hal. Pertama, memperbaiki pertumbuhan janin sejak awal memang penting. Kedua, manfaatnya harus dilanjutkan dengan pemeriksaan kehamilan, nutrisi yang cukup, pemberian ASI, MPASI berkualitas, imunisasi, penanganan infeksi, air bersih, sanitasi, dan pemantauan pertumbuhan anak.

Pencegahan stunting sebelum hamil bukan cuma minum vitamin atau menambah berat badan. Yang terpenting adalah memulai kehamilan dengan status gizi baik, anemia dan penyakit lain teratasi, membiasakan hidup sehat, serta mendapatkan dukungan keluarga dan layanan kesehatan.

Referensi

Benedetto, Chiara, et al. “FIGO Preconception Checklist: Preconception Care for Mother and Baby.” International Journal of Gynecology & Obstetrics. 2024. https://doi.org/10.1002/ijgo.15446.

Dhaded, Sangappa M., K. Michael Hambidge, Sumera Aziz Ali, Manjunath Somannavar, Sarah Saleem, Omrana Pasha, Ubaidullah Khan, et al. “Preconception Nutrition Intervention Improved Birth Length and Reduced Stunting and Wasting in Newborns in South Asia: The Women First Randomized Controlled Trial.” PLOS ONE 15, no. 1 (2020): e0218960. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0218960.

Khan, Md Nuruzzaman, Melissa L. Harris, Tahir Ahmed Hassen, Tanmay Bagade, Desalegn Markos Shifti, Tesfaye Regassa Feyissa, dan Catherine Chojenta. “Effects of Short Birth Interval on Child Malnutrition in the Asia-Pacific Region: Evidence from a Systematic Review and Meta-Analysis.” Maternal & Child Nutrition 20, no. 3 (2024): e13643. https://doi.org/10.1111/mcn.13643.

Krebs, Nancy F., K. Michael Hambidge, Jamie L. Westcott, Ana L. Garcés, Lester Figueroa, Antoinette K. Tshefu, Adrien L. Lokangaka, et al. “Birth Length Is the Strongest Predictor of Linear Growth Status and Stunting in the First 2 Years of Life after a Preconception Maternal Nutrition Intervention: The Children of the Women First Trial.” American Journal of Clinical Nutrition 116, no. 1 (2022): 86–96. https://doi.org/10.1093/ajcn/nqac051.

Nadhiroh, Siti Rahayu, Fitria Micheala, Stella Evangeline Halim Tung, dan Taufiq Candra Kustiawan. “Association between Maternal Anemia and Stunting in Infants and Children Aged 0–60 Months: A Systematic Literature Review.” Nutrition 115 (2023): 112094. https://doi.org/10.1016/j.nut.2023.112094.

Saville, Naomi M., Sophiya Dulal, Faith Miller, et al. “Effects of Preconception Nutrition Interventions on Pregnancy and Birth Outcomes in South Asia: A Systematic Review.” The Lancet Regional Health–Southeast Asia 36 (2025). https://www.thelancet.com/journals/lansea/article/PIIS2772-3682(25)00051-4/fulltext.

World Health Organization (WHO) “Birth Spacing: Report from a WHO Technical Consultation.” Report of a WHO Technical Consultation on Birth Spacing. June 13–15, 2005. Diakses Juli 2026.

WHO. “Malnutrition.” Diakses Juli 2026.

WHO. “Periconceptional Folic Acid Supplementation to Prevent Neural Tube Defects.” Diakses Juli 2026.

WHO. "Preconception Care: Maximizing the Gains for Maternal and Child Health." Diakses Juli 2026.

WHO. "Tobacco and Stunting." Diakses Juli 2026.

Young, Melissa F., Phuong H. Nguyen, Isabel Gonzalez Casanova, O. Yaw Addo, Lan M. Tran, Son Nguyen, Reynaldo Martorell, dan Usha Ramakrishnan. “Role of Maternal Preconception Nutrition on Offspring Growth and Risk of Stunting across the First 1000 Days in Vietnam: A Prospective Cohort Study.” PLOS ONE 13, no. 8 (2018): e0203201. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0203201.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More