Tingkat keparahan gangguan spektrum autisme dipengaruhi oleh faktor berikut:
Pengaruh genetik menyumbang sekitar 80 persen dari heritabilitas autisme, dengan tingkat keparahan sering dikaitkan dengan jenis dan jumlah varian.
Mutasi de novo (baru pada anak) dan varian kehilangan fungsi pada gen seperti CHD8, SHANK3, SCN2A, dan PTEN dikaitkan dengan kasus yang lebih parah, termasuk disabilitas intelektual dan kemampuan berbahasa yang rendah.
Faktor poligenik yang diwariskan (banyak varian umum) cenderung berkorelasi dengan gejala yang lebih ringan dan fungsi yang lebih tinggi.
Paparan prenatal dan perinatal berkontribusi sekitar 40 persen terhadap risiko autisme dan dapat memodulasi tingkat keparahan melalui perubahan epigenetik.
Usia orang tua yang lanjut (terutama ayah di atas 35-40 tahun), kondisi ibu seperti obesitas, diabetes, infeksi, atau gangguan kekebalan tubuh selama kehamilan, dan paparan polusi udara, pestisida, atau valproat meningkatkan kemungkinan autisme yang parah.
Berat badan lahir rendah, prematuritas, dan komplikasi kelahiran seperti hipoksia juga memprediksi gangguan yang lebih besar.
Perkembangan bahasa dan kemampuan sosial sejak dini dapat menjadi indikator tingkat keparahan autisme.
Pada anak kecil, keterlambatan berbicara atau kesulitan menyampaikan kebutuhan sering dikaitkan dengan autisme yang lebih berat.
Pada anak yang lebih besar, kesulitan mengenali warna, menyebut nama orang lain, atau memahami sudut pandang orang lain (theory of mind) juga dapat menunjukkan tantangan sosial yang lebih signifikan.