"Prenatal wildfire smoke exposure linked to higher autism risk in children." News Medical Life Sciences. Diakses Januari 2026.
David G. Luglio et al., “Prenatal Exposure to Wildfire and Autism in Children,” Environmental Science & Technology, January 20, 2026, https://doi.org/10.1021/acs.est.5c08256.
Paparan Asap Karhutla saat Hamil Dikaitkan dengan Risiko Autisme

- Paparan asap kebakaran hutan pada trimester ketiga dikaitkan dengan kenaikan risiko autisme hingga 23 persen.
- Risiko tertinggi ditemukan pada ibu hamil yang terpapar asap lebih dari 10 hari menjelang persalinan.
- Periode akhir kehamilan merupakan fase krusial perkembangan otak janin yang sensitif terhadap polusi udara.
Di banyak wilayah, kebakaran hutan bukan lagi peristiwa langka. Asap tebal yang menyelimuti kota sering kali dianggap gangguan sementara—mengganggu pernapasan, membuat mata perih, lalu berlalu bersama hujan atau angin. Namun, bagi ibu hamil, paparan asap ini bisa membawa dampak yang jauh lebih panjang.
Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa paparan asap kebakaran hutan pada bulan-bulan terakhir kehamilan berkaitan dengan meningkatnya risiko anak didiagnosis autisme di usia dini. Temuan ini menambah daftar panjang kekhawatiran tentang bagaimana kualitas udara memengaruhi perkembangan otak janin, terutama di tengah krisis iklim yang membuat kebakaran hutan makin sering dan intens.
Temuan dari ratusan ribu kelahiran
Dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science & Technology, para peneliti dari Tulane University menganalisis data lebih dari 200.000 kelahiran di California Selatan, Amerika Serikat (AS), selama periode 2006–2014.
Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak yang ibunya terpapar asap kebakaran hutan pada trimester ketiga kehamilan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk didiagnosis autisme sebelum usia 5 tahun.
Hubungan terkuat terlihat pada kelompok ibu yang terpapar asap selama lebih dari 10 hari pada tiga bulan terakhir kehamilan. Pada kelompok ini, risiko autisme tercatat 23 persen lebih tinggi dibanding anak-anak yang ibunya tidak terpapar asap karhutla selama kehamilan.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa studi ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Temuan ini lebih tepat dipahami sebagai sinyal peringatan, bagian dari bukti yang makin menguat bahwa polusi udara dapat memengaruhi perkembangan saraf janin.
Mengapa asap karhutla menjadi perhatian serius?

Asap kebakaran hutan mengandung partikel halus dan berbagai zat berbahaya. Saat vegetasi dan bangunan terbakar, logam berat serta polutan toksik dilepaskan ke udara dan dapat terhirup. Partikel-partikel ini, bahkan tanpa sifat racun sekalipun, dapat memicu peradangan dan stres biologis dalam tubuh.
Trimester ketiga kehamilan adalah periode ketika otak janin berkembang sangat cepat. Gangguan pada fase ini—termasuk akibat paparan polusi udara—diduga dapat memengaruhi jalur perkembangan saraf. Temuan ini sejalan dengan studi Harvard University tahun 2021 yang juga menemukan peningkatan risiko autisme pada anak yang terpapar polusi udara pada akhir masa kehamilan.
Dalam studi ini, ibu dari anak dengan diagnosis autisme cenderung berusia lebih tua, lebih sering mengalami kehamilan pertama, serta memiliki prevalensi diabetes dan obesitas sebelum hamil yang lebih tinggi. Selain itu, diagnosis autisme ditemukan empat kali lebih banyak pada anak laki-laki dibandingkan perempuan.
Para peneliti menegaskan bahwa riset lanjutan masih sangat dibutuhkan untuk memahami bagaimana paparan asap kebakaran hutan berinteraksi dengan faktor biologis, genetik, dan lingkungan lainnya. Di tengah meningkatnya frekuensi kebakaran hutan akibat perubahan iklim, pemahaman ini menjadi krusial untuk merancang kebijakan pencegahan yang lebih baik—terutama demi melindungi ibu hamil dan generasi yang akan lahir.
Referensi


















