Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Risiko Kanker Paru dan Skor Akademik Rendah pada Anak akibat Karhutla
Seorang pelajar tingkat Taman Kanak-kanak memakai masker saat hendak berangkat sekolah di tengah paparan asap diduga dari kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Rabu (14/10/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)
  • Kabut asap karhutla membawa PM2.5 yang memicu batuk, sesak, mengi, dan memperburuk asma; paparan berulang dikhawatirkan mengganggu fungsi paru hingga dewasa.
  • Partikel dan senyawa berbahaya dalam asap berpotensi meningkatkan risiko kanker paru, serta dikaitkan dengan gangguan kardiovaskular, pertumbuhan, dan tinggi badan anak.
  • Paparan asap dan pengalaman kebakaran dikaitkan dengan penurunan skor akademik serta gejala PTSD dan depresi, sehingga dampak kesehatan anak perlu dipantau jangka panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kabut asap karhutla dapat mencapai wilayah yang jauh dari titik api. Anak-anak yang hidup di wilayah terdampak bisa menghirup partikel halus, termasuk PM2.5, yang masuk jauh ke saluran pernapasan. Mereka juga lebih rentan karena paru-paru, jantung, sistem kekebalan, dan kemampuan kognitifnya masih berkembang.

Dalam seminar media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang digelar secara daring pada Jumat (16/10), dr. Fifi Sofiah, Sp.A, Subsp.Respi(K) dari UKK Respirologi IDAI mengingatkan bahwa dampak paparan dapat melampaui keluhan yang muncul saat kabut asap berlangsung.

1. Asap dapat memicu gangguan pernapasan sejak paparan berlangsung

Asap kebakaran mengandung partikel halus dan gas yang dapat mengiritasi mata serta saluran napas. Pada anak, paparan dapat memicu batuk, sesak, mengi, atau serangan asma. Anak dengan asma maupun penyakit paru dan jantung juga berisiko lebih tinggi mengalami gejala yang memburuk.

Tinjauan sistematis terhadap 24 penelitian pada anak menemukan bukti yang cukup konsisten bahwa paparan kebakaran berkaitan dengan gangguan pernapasan.

2. Fungsi paru mungkin terdampak hingga anak dewasa

Paparan berulang ketika paru-paru masih berkembang pada anak dikhawatirkan dapat mengganggu perkembangan atau fungsi paru. Tinjauan sistematis tentang dampak jangka panjang kebakaran mencatat temuan terkait penurunan fungsi paru dan penyakit pernapasan, meskipun bukti berbasis populasi yang kuat masih terbatas.

“Itu bisa menjadi gangguan fungsi respiratory paru permanen apabila memang terus-menerus menghirup udara yang berasal dari karhutla ini. Jadi bisa kita bilang anak-anak punya potensi (mengalami) penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) ke depannya,” dr. Fifi menjelaskan kekhawatirannya.

3. Risiko kanker paru menjadi perhatian

Sesi media daring Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) "Dampak Asap Karhutla pada Anak dan Pertolongan Pertama saat Karhutla", Jumat (16/10/2026).

Asap kebakaran merupakan campuran polutan yang dapat mencakup PM2.5 dan senyawa berbahaya, seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). IARC, lembaga kanker di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), telah menggolongkan polusi udara luar ruang dan partikulat di dalamnya sebagai karsinogen bagi manusia.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap partikel halus dalam asap karhutla dapat berkontribusi pada peningkatan risiko kanker paru, meski besarnya risiko masih terus diteliti.

“Ke depannya karena partikel bahan kimia dan sebagainya bisa meningkatkan risiko kanker paru,” kata dr. Fifi.

4. Pertumbuhan anak juga perlu diperhatikan

Dampak paparan asap dikhawatirkan tidak terbatas pada paru-paru. Dokter Fifi juga menyinggung potensi gangguan pada sistem kardiovaskular serta masalah pertumbuhan anak.

"... Kondisi ini, karena ada sistem imun yang terganggu terus, intake makan dan kualitas hidup tidak teratasi, stunting dan masalah pertumbuhan juga menjadi penting—terpengaruh dalam kondisi ini," jelas dr. Fifi.

Ada penelitian di Indonesia terhadap anak-anak masih dalam kandungan saat kebakaran besar pada 1997. Paparan polusi pada masa kehamilan berkaitan dengan skor tinggi badan menurut usia yang lebih rendah ketika mereka berusia sekitar 17 tahun.

5. Skor akademik juga bisa terdampak, berpotensi mengancam masa depan anak

Dokter Fifi juga menyebut beberapa penelitian mengenai paparan karhutla terkait kualitas inteligensi anak-anak yang dapat memengaruhi masa depannya kelak.

"Ternyata dari banyak penelitian, dievaluasi dari penelitian yang mengikuti anak-anak yang terdampak karhutla, ternyata terdapat penurunan skor akademik sehingga anak-anak ini tidak menjadi berkualitas performa akademik dan artinya nanti ke depannya sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja, dan akhirnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan menjadi rendah pada saat dewasa," dr. Fifi mengungkapkan.

Penelitian di Amerika Serikat menganalisis paparan asap dan nilai tes terstandar di hampir 11.700 distrik sekolah. Paparan PM2.5 dari asap selama tahun ajaran berkaitan dengan skor yang lebih rendah, terutama pada murid yang lebih muda. Peneliti juga memperkirakan paparan asap pada 2016 mengurangi potensi pendapatan masa depan.

6. Pengalaman menghadapi kebakaran dapat memengaruhi kesehatan mental anak

Sejumlah anak-anak di Sekayu, Kabupaten Muba mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah di tengah kabut asap. (IDN Times/Yuliani)

Dampak psikologis dapat berkaitan dengan pengalaman langsung menghadapi kebakaran, seperti merasa terancam, mengungsi, kehilangan rumah, atau melihat anggota keluarga terluka.

Tinjauan terhadap 19 penelitian tentang kebakaran hutan dan kesehatan mental remaja menemukan kaitan dengan gejala PTSD dan depresi. Rasa terancam, kehilangan harta benda, masalah tempat tinggal, serta cedera pada diri sendiri atau keluarga termasuk faktor yang berkaitan dengan hasil mental yang lebih buruk.

"Dampak kesehatan mental bisa jadi trauma intergenerasi, itu menjadi penting, bisa terjadi post-traumatic stress disorder jika tidak kita tangani lebih lanjut. Untuk meminimalisirnya kita harus antisipasi agar nantinya dampak ke depannya jangka panjang pada anak-anak itu tidak terjadi," dr. Fifi mengingatkan.

Dalam satu penelitian di Fort McMurray, Kanada, 18 bulan setelah kebakaran besar, 37 persen dari 3.070 murid kelas 7–12 memenuhi kriteria kemungkinan PTSD berdasarkan survei.

Tidak semua anak mengalami PTSD setelah menghadapi peristiwa traumatis. Sebagian besar anak pulih seiring waktu. Namun, evaluasi tenaga kesehatan patut dipertimbangkan apabila gejala menetap lebih dari sebulan dan mengganggu keseharian, hubungan, atau kegiatan anak.

Dampak kebakaran hutan pada anak tidak selalu hilang saat asap sirna. Sebagian masalah kesehatan muncul langsung, tetapi dampaknya terhadap paru-paru, tumbuh kembang, belajar, dan kesehatan mental perlu dipantau dalam jangka panjang. Karena itu, penting untuk mengurangi paparan asap dan memastikan anak yang bergejala atau memiliki penyakit kronis mendapat penanganan yang tepat.

Anak-anak tidak menyebabkan kebakaran hutan, tetapi sayangnya mereka ikut merasakan dampaknya.

Referensi

Takudzwa Mkorombindo and Ron Balkissoon, “Journal Club-Respiratory Impact of Wildfire Smoke,” Chronic Obstructive Pulmonary Diseases Journal of the COPD Foundation 8, no. 3 (January 1, 2021): 408–13, https://doi.org/10.15326/jcopdf.2021.0244.

World Health Organization, “Wildfires,” diakses 17 Oktober 2026.

Amal Syed and Rupa Basu, “The Effect of Wildfire Smoke on Children’s Health: A Systematic Review,” Paediatric and Perinatal Epidemiology 39, no. 1 (2025): 110–19, https://doi.org/10.1111/ppe.13141.

Yuan Gao, Wenzhong Huang, Pei Yu, Rongbin Xu, Zhengyu Yang, Danijela Gasevic, Tingting Ye, Yuming Guo, and Shanshan Li, “Long-Term Impacts of Non-Occupational Wildfire Exposure on Human Health: A Systematic Review,” Environmental Pollution 320 (2023): 121041, https://doi.org/10.1016/j.envpol.2023.121041.

International Agency for Research on Cancer, “IARC: Outdoor Air Pollution a Leading Environmental Cause of Cancer Deaths,” October 17, 2013, https://www.iarc.who.int/news-events/iarc-outdoor-air-pollution-a-leading-environmental-cause-of-cancer-deaths/.

Jie-Sheng Tan-Soo and Subhrendu K. Pattanayak, “Seeking Natural Capital Projects: Forest Fires, Haze, and Early-Life Exposure in Indonesia,” Proceedings of the National Academy of Sciences 116, no. 12 (2019): 5239–45, https://doi.org/10.1073/pnas.1802876116.

Jeff Wen and Marshall Burke, “Lower Test Scores from Wildfire Smoke Exposure,” Nature Sustainability 5 (2022): 947–55, https://doi.org/10.1038/s41893-022-00956-y.

Maria C. Lo Bue, “Early Childhood during Indonesia’s Wildfires: Health Outcomes and Long-Run Schooling Achievements,” Economic Development and Cultural Change 67, no. 4 (2019): 969–1003, https://doi.org/10.1086/700099.

Paul Kemel, Joanne E. Porter, Louisa Remedios, and Andrew J. Lewis, “Bushfire and Adolescent Mental Health: A Systematic Review,” Australian and New Zealand Journal of Psychiatry 59, no. 12 (2025): 1059–76, https://doi.org/10.1177/00048674251370108.

Matthew R. G. Brown et al., “Significant PTSD and Other Mental Health Effects Present 18 Months after the Fort McMurray Wildfire: Findings from 3,070 Grades 7–12 Students,” Frontiers in Psychiatry 10 (2019): 623, https://doi.org/10.3389/fpsyt.2019.00623.

Centers for Disease Control and Prevention, “Post-Traumatic Stress Disorder in Children,” diakses 17 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article