Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sakit Gigi saat Mendaki? Waspadai Aerodontalgia

Sakit Gigi saat Mendaki? Waspadai Aerodontalgia
ilustrasi mendaki gunung (pexels.com/Xuân Thống Trần)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Aerodontalgia terjadi akibat perubahan tekanan udara di ketinggian yang membuat gas dalam gigi mengembang dan menekan saraf, memicu nyeri mendadak saat mendaki.
  • Karies tersembunyi, tambalan rusak, atau infeksi gigi dapat memperparah rasa sakit karena udara terperangkap dan jaringan menjadi lebih sensitif terhadap tekanan.
  • Pencegahan dilakukan dengan memeriksa kondisi gigi sebelum mendaki, menjaga hidrasi, serta membawa obat pereda nyeri untuk mengantisipasi munculnya gejala di ketinggian.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Perjalanan mendaki sering membawa kejutan. Selain otot yang bekerja lebih keras atau napas memendek, pendaki juga bisa mengalami hal-hal tak terduga, seperti sensasi nyeri tajam di gigi yang muncul tanpa peringatan. Ini bisa membingungkan, terutama bagi pendaki yang sebelumnya tidak punya keluhan gigi.

Dalam dunia kedokteran gigi, ada istilah khusus untuk menjelaskan nyeri gigi akibat perubahan tekanan, dan kondisi ini makin sering dilaporkan pada aktivitas seperti penerbangan dan pendakian. Memahami fenomena ini dapat membantu mencegah masalah yang lebih serius di kemudian hari.

Table of Content

1. Aerodontalgia: efek perubahan tekanan udara

1. Aerodontalgia: efek perubahan tekanan udara

Salah satu penyebab utama gigi sakit saat mendaki adalah aerodontalgia, yaitu rasa sakit pada gigi yang dipicu oleh perubahan tekanan atmosfer. Saat kamu naik ke ketinggian, tekanan udara menurun, menyebabkan gas yang terperangkap di dalam gigi atau jaringan sekitarnya mengembang.

Perubahan tekanan ini dapat menekan saraf gigi, terutama jika ada rongga kecil atau kerusakan yang tidak terlihat secara klinis. Kondisi ini sering kali tidak terasa di permukaan laut, tetapi menjadi signifikan di ketinggian.

Makin tinggi pendakian, makin besar perbedaan tekanan yang terjadi. Inilah sebabnya nyeri bisa muncul tiba-tiba, bahkan pada individu yang merasa giginya baik-baik saja.

2. Ada karies yang tersembunyi

Seorang pria berambut panjang mengenakan sweter merah bergaris hitam memegangi pipinya sambil menahan nyeri akibat sakit gigi.
ilustrasi sakit gigi akibat gigi berlubang (freepik.com/ KamranAydinov)

Gigi berlubang (karies) yang masih kecil atau belum menimbulkan gejala sering menjadi pemicu utama gigi sakit saat mendaki atau saat berada di ketinggian. Rongga kecil dalam gigi dapat menjebak udara, yang kemudian bereaksi terhadap perubahan tekanan.

Studi menunjukkan bahwa bahkan lesi karies awal dapat menyebabkan nyeri signifikan ketika terjadi perubahan tekanan lingkungan. Ini menjelaskan mengapa seseorang bisa mengalami sakit gigi mendadak saat mendaki.

Selain itu, jaringan dentin yang terbuka akibat karies membuat gigi lebih sensitif terhadap perubahan suhu dan tekanan. Kombinasi faktor ini memperparah rasa nyeri.

3. Tambalan atau perawatan gigi yang kurang baik

Tambalan gigi yang tidak rapat atau sudah mulai rusak bisa menjadi “kantong udara” kecil. Saat tekanan berubah, udara di dalamnya mengembang dan menekan jaringan di sekitarnya.

Menurut penelitian, restorasi gigi yang tidak sempurna meningkatkan risiko aerodontalgia secara signifikan. Ini juga berlaku untuk perawatan seperti saluran akar yang belum selesai atau crown yang tidak pas. Dalam kondisi normal mungkin tidak terasa, tetapi di ketinggian akan menjadi masalah.

4. Infeksi dan peradangan pada gigi atau gusi

Pria mengenakan kaus merah dan tas carrier besar berwarna merah sedang mendaki di area perbukitan hijau di bawah sinar matahari.
ilustrasi pria mengenakan tas carrier saat mendaki gunung (freepik.com/pressfoto)

Infeksi seperti pulpitis (peradangan pulpa gigi) dapat memperburuk respons terhadap perubahan tekanan. Saat jaringan sudah meradang, sensitivitas meningkat, sehingga tekanan kecil pun bisa terasa sangat nyeri.

Inflamasi meningkatkan tekanan internal di dalam gigi, yang kemudian diperparah oleh perubahan tekanan eksternal. Akibatnya, nyeri bisa terasa lebih intens.

5. Sinusitis

Tidak semua nyeri gigi saat mendaki berasal dari gigi itu sendiri. Sinus maksilaris (rongga sinus di dekat gigi atas) dapat terpengaruh oleh perubahan tekanan.

Saat sinus mengalami tekanan atau inflamasi, nyeri bisa menjalar ke gigi atas dan terasa seperti sakit gigi. Studi menyebut bahwa sinusitis sering disalahartikan sebagai nyeri gigi. Kondisi ini sering terjadi pada pendaki yang mengalami perubahan suhu dan udara kering.

6. Dehidrasi dan mulut kering

Sekelompok pendaki berjalan di jalur pegunungan hijau dengan latar tebing batu tinggi dan sisa salju di kejauhan.
ilustrasi sekelompok orang mendaki dalam jalurnya (pexels.com/Luka Peric)

Pendakian sering menyebabkan dehidrasi, yang berdampak pada produksi saliva. Padahal, saliva berperan melindungi gigi dan menjaga keseimbangan lingkungan mulut.

Ketika mulut kering, sensitivitas gigi meningkat. Penurunan saliva dapat memperburuk persepsi nyeri pada gigi sensitif. Kombinasi dehidrasi dan tekanan lingkungan membuat nyeri lebih mungkin muncul.

Cara mencegah gigi sakit saat mendaki

Cara terbaik adalah melakukan langkah-langkah pencegahan sebelum mendaki, seperti:

  • Periksa gigi terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada karies atau tambalan bermasalah.
  • Hindari mendaki saat sedang sakit gigi.
  • Jaga hidrasi selama perjalanan.
  • Gunakan pasta gigi untuk gigi sensitif.
  • Bawa obat pereda nyeri sebagai antisipasi.

Jika nyeri muncul saat mendaki, sebaiknya kurangi ketinggian jika memungkinkan, karena tekanan akan kembali normal.

Nyeri gigi saat mendaki merupakan sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres, baik dari gigi itu sendiri maupun lingkungan di sekitarnya. Perubahan tekanan yang terjadi di ketinggian dapat “membuka” masalah yang sebelumnya belum ketahuan. Namun, jangan khawatir, dengan persiapan yang tepat dan pemahaman yang baik, risiko gigi sakit saat mendaki bisa dicegah.

Referensi

Yehuda Zadik, “Barodontalgia,” Journal of Endodontics 35, no. 4 (February 27, 2009): 481–85, https://doi.org/10.1016/j.joen.2008.12.004.

Karl M. Lyons, John C. Rodda, and James A.A. Hood, “Barodontalgia: A Review, and the Influence of Simulated Diving on Microleakage and on the Retention of Full Cast Crowns,” Military Medicine 164, no. 3 (March 1, 1999): 221–27, https://doi.org/10.1093/milmed/164.3.221.

W. Kollmann, “Incidence and Possible Causes of Dental Pain During Simulated High Altitude Flights,” Journal of Endodontics 19, no. 3 (March 1, 1993): 154–59, https://doi.org/10.1016/s0099-2399(06)80512-1.

Seltzer, Samuel, et al. “Pulpal Changes and Pain Mechanisms.” In Seltzer and Bender’s Dental Pulp, rev. ed., edited by Kenneth M. Hargreaves and Harold E. Goodis, xx–xx. Chicago: Quintessence Publishing, 2002.

Pushkar Mehra and Haitham Murad, “Maxillary Sinus Disease of Odontogenic Origin,” Otolaryngologic Clinics of North America 37, no. 2 (April 1, 2004): 347–64, https://doi.org/10.1016/s0030-6665(03)00171-3.

Dawes, Colin. “Salivary Flow Patterns and the Health of Hard and Soft Oral Tissues.” Journal of the American Dental Association 139 (2008): 18S–24S.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More