Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jangan Asal Cabut, Ini 7 Risiko Bahaya Mencabut Bulu Ketiak

Jangan Asal Cabut, Ini 7 Risiko Bahaya Mencabut Bulu Ketiak
ilustrasi ketiak (pexels.com/Sakshi Patwa)
Intinya Sih
  • Mencabut bulu ketiak bisa memicu iritasi, rambut tumbuh ke dalam, hingga infeksi pada folikel rambut.

  • Area ketiak sangat sensitif karena lembap, sering bergesekan, dan kaya kelenjar keringat.

  • Cara menghilangkan bulu ketiak yang lebih aman meliputi trimming, mencukur dengan teknik yang tepat, krim perontok rambut, atau laser.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kulit ketiak sering luput dari perhatian sampai muncul masalah. Area ini tertutup hampir sepanjang hari, mudah berkeringat, sering bergesekan dengan pakaian, dan memiliki banyak folikel rambut serta kelenjar keringat. Tidak heran jika sedikit saja trauma pada kulit ketiak bisa cepat berubah menjadi kemerahan, gatal, nyeri, atau muncul benjolan.

Banyak orang memilih mencabut bulu ketiak atau rambut ketiak karena hasilnya terasa lebih bersih dan tahan lama dibanding mencukur. Namun, kebiasaan ini sebenarnya bukan tanpa risiko. Saat bulu ditarik sampai ke akar, folikel rambut dan jaringan kulit di sekitarnya ikut mengalami tekanan. Jika dilakukan berulang atau tanpa teknik yang higienis, masalah kulit bisa muncul dan makin sulit diatasi.

Kalau kamu termasuk yang lebih memilih untuk mencabut bulu ketiak, kenali beberapa risikonya bagi kesehatan di bawah ini.

Table of Content

1. Iritasi dan peradangan kulit

1. Iritasi dan peradangan kulit

Kulit ketiak termasuk salah satu area paling sensitif. Saat bulu dicabut, akar rambut tertarik keluar dari folikel. Proses ini menciptakan luka mikro yang mungkin tidak terlihat, tetapi cukup untuk memicu peradangan. Akibatnya, kulit bisa terasa perih, panas, gatal, atau kemerahan beberapa jam setelah bulu dicabut.

Masalahnya, iritasi tidak selalu berhenti di situ. Ketiak adalah area yang mudah lembap karena keringat. Gesekan dari pakaian, deodoran, dan aktivitas sehari-hari bisa memperburuk kondisi kulit yang sudah sensitif. Pada sebagian orang, area tersebut bahkan bisa terasa nyeri saat lengan digerakkan.

Jika dilakukan terlalu sering, peradangan ringan bisa menjadi kronis. Kulit menjadi lebih sensitif, lebih mudah memerah, dan lebih rentan terhadap masalah lain seperti infeksi atau hiperpigmentasi. Karena itu, sensasi sedikit perih setelah mencabut bulu sebenarnya bukan hal yang boleh terus-terusan dianggap normal.

2. Rambut tumbuh ke dalam

Ilustrasi pinset untuk mencabut bulu ketiak.
ilustrasi pinset untuk mencabut bulu ketiak (pixabay.com/kropekk_pl)

Salah satu risiko paling umum dari mencabut bulu ketiak adalah rambut tumbuh ke dalam (ingrown hair). Kondisi ini terjadi ketika rambut baru yang tumbuh justru melengkung dan masuk kembali ke kulit, bukan keluar ke permukaan.

Rambut yang tumbuh ke dalam biasanya tampak seperti benjolan kecil, kadang berwarna merah, terasa nyeri, gatal, atau bahkan berisi nanah. Pada kulit yang lebih gelap, kondisi ini juga dapat meninggalkan bekas kehitaman yang sulit hilang. Risiko ini cenderung lebih tinggi pada orang dengan rambut tebal, keriting, atau kasar.

Jika dibiarkan, ingrown hair bisa memicu infeksi, jaringan parut, hingga terbentuknya keloid pada sebagian orang.

3. Folikulitis atau infeksi folikel rambut

Setiap kali bulu dicabut, folikel rambut terbuka untuk sementara waktu. Pada kondisi ideal, folikel akan menutup kembali tanpa masalah. Namun, jika bakteri masuk ke area tersebut, folikel bisa meradang dan menyebabkan folikulitis.

Folikulitis biasanya ditandai dengan munculnya bintik merah kecil, rasa gatal, nyeri, atau benjolan berisi nanah di sekitar tempat tumbuh rambut. Kondisi ini lebih mudah terjadi jika pinset yang digunakan tidak steril, tangan kurang bersih, atau kulit sedang berkeringat saat proses mencabut dilakukan.

Pada kasus yang lebih berat, folikulitis dapat berkembang menjadi infeksi yang lebih dalam dan lebih nyeri. Kulit bisa tampak bengkak, terasa hangat, dan mengeluarkan cairan. Jika infeksi sering berulang, bekas luka dan perubahan warna kulit juga bisa muncul.

4. Kulit menghitam dan bekas kehitaman

Ilustrasi ketiak seorang laki-laki.
ilustrasi ketiak seorang laki-laki (freepik.com/freepik)

Banyak orang mengira kulit ketiak menghitam hanya karena deodoran atau gesekan pakaian. Padahal, kebiasaan mencabut bulu juga bisa menjadi faktor penyebabnya.

Saat kulit mengalami iritasi atau peradangan berulang, tubuh akan memproduksi lebih banyak melanin sebagai respons perlindungan. Akibatnya, area yang sering meradang bisa tampak lebih gelap dibanding kulit sekitarnya. Proses ini dikenal sebagai hiperpigmentasi pascaperadangan.

Masalahnya, bekas kehitaman tidak selalu cepat memudar. Pada sebagian orang, terutama yang memiliki warna kulit lebih gelap, noda bisa bertahan selama berbulan-bulan. Bahkan setelah berhenti mencabut bulu, warna kulit mungkin tidak langsung kembali rata. Ingrown hair dan folikulitis juga dapat memperburuk tampilan kehitaman pada ketiak.

5. Luka, perdarahan, dan lecet

Mencabut bulu terlalu cepat atau terlalu keras bisa melukai permukaan kulit. Kadang, luka yang muncul sangat kecil hingga nyaris tidak terlihat. Namun, di area ketiak yang lembap dan sering bergesekan, luka kecil bisa sangat mengganggu.

Beberapa orang mungkin mengalami titik-titik perdarahan kecil setelah mencabut bulu. Ini terjadi karena akar rambut terhubung dengan pembuluh darah halus di bawah kulit. Jika beberapa helai bulu dicabut sekaligus atau kulit sedang sensitif, risiko perdarahan kecil meningkat.

Lecet dan luka kecil juga meningkatkan peluang bakteri masuk ke dalam kulit. Karena itulah, ketiak yang baru dicabut bulunya sebaiknya tidak langsung diberi deodoran berbahan keras, parfum, atau produk yang mengandung alkohol.

6. Benjolan nyeri dan risiko hidradenitis suppurativa

Hidradenitis suppurativa (Hurley's Staging II) di aksila kiri. (commons.wikimedia.org/BMC Dermatology/Ziyad Alharbi, Jens Kauczok, Norbert Pallua)
Hidradenitis suppurativa (Hurley's Staging II) di aksila kiri. (commons.wikimedia.org/BMC Dermatology/Ziyad Alharbi, Jens Kauczok, Norbert Pallua)

Pada sebagian orang, trauma berulang pada folikel rambut di area ketiak dapat memicu munculnya benjolan nyeri yang lebih serius. Salah satu kondisi yang sering dikaitkan dengan area ketiak adalah hidradenitis suppurativa, yaitu penyakit peradangan kronis pada folikel rambut dan kelenjar di area lipatan tubuh.

Kondisi ini ditandai dengan benjolan besar yang terasa nyeri, mirip bisul, dan bisa pecah atau mengeluarkan cairan. Ketiak termasuk area yang paling sering terkena karena banyak folikel rambut, banyak kelenjar keringat, dan sering mengalami gesekan.

Mencabut bulu memang bukan satu-satunya penyebab hidradenitis suppurativa. Namun, trauma berulang pada folikel rambut dapat memperparah peradangan pada orang yang memang sudah rentan mengalami kondisi tersebut. Jika benjolan di ketiak sering muncul, terasa nyeri, atau meninggalkan bekas, sebaiknya periksa ke dokter kulit.

7. Risiko bekas luka dan keloid

Saat kulit terus-menerus mengalami peradangan, tubuh akan berusaha memperbaiki jaringan yang rusak. Pada beberapa orang, proses penyembuhan ini justru berlebihan dan menghasilkan bekas luka yang menonjol atau keloid.

Bekas luka bisa muncul setelah ingrown hair, folikulitis, atau kebiasaan memencet benjolan di ketiak. Awalnya mungkin hanya berupa noda kecil, tetapi lama-lama bisa menjadi jaringan yang lebih keras dan sulit dihilangkan.

Orang yang punya riwayat keloid atau kulit sensitif sebaiknya lebih berhati-hati saat memilih metode menghilangkan bulu ketiak. Semakin sering kulit mengalami trauma, makin tinggi pula kemungkinan munculnya bekas yang menetap.

Cara yang lebih disarankan untuk menghilangkan bulu ketiak

Ilustrasi mencukur bulu ketiak dengan trimmer.
ilustrasi mencukur bulu ketiak dengan trimmer (freepik.com/freepik)

Jika ingin menghilangkan bulu ketiak dengan risiko lebih rendah, ada beberapa metode yang bisa dipertimbangkan.

  • Trimming dengan gunting kecil atau electric trimmer. Cara ini tidak mencabut akar rambut sehingga risiko iritasi dan ingrown hair lebih kecil.
  • Mencukur dengan pisau bersih dan tajam. Gunakan shaving gel atau sabun lembut, lalu cukur searah pertumbuhan rambut.
  • Gunakan krim perontok rambut. Namun, lakukan tes pada area kecil terlebih dahulu karena bahan kimianya dapat memicu iritasi pada kulit sensitif.
  • Waxing atau epilator dapat bertahan lebih lama dibanding mencukur, tetapi tetap memiliki risiko iritasi dan rambut tumbuh ke dalam.
  • Laser hair removal bisa menjadi pilihan jangka panjang karena mengurangi pertumbuhan rambut dari akar. Akan tetapi, prosedur ini sebaiknya dilakukan oleh tenaga profesional karena ada risiko melepuh, perubahan warna kulit, dan bekas luka.

Ketiak yang sehat tidak harus selalu bebas bulu. Ada orang yang merasa lebih nyaman membiarkan bulu tumbuh alami, ada juga yang memilih menghilangkannya demi kebersihan, estetika, atau rasa percaya diri. Apa pun pilihan kamu, yang penting adalah memahami bahwa kulit ketiak harus dirawat dengan benar.

Jika setelah mencabut bulu muncul benjolan besar, nyeri hebat, nanah, atau bekas yang tidak kunjung hilang, jangan abaikan. Itu bisa menjadi tanda bahwa kulit sedang mengalami peradangan atau infeksi yang perlu penanganan medis.

Referensi

“Ingrown Hair: Symptoms and Causes.” Mayo Clinic. Diakses April 2026.

“Ingrown Hair: Diagnosis and Treatment.” Mayo Clinic. Diakses April 2026.

“Hidradenitis Suppurativa in the Armpits.” Healthline. Diakses April 2026.

“What to Know About Hidradenitis Suppurativa in the Armpits.” Medical News Today. Diakses April 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nuruliar F
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Latest in Health

See More