Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sejarah Pengobatan Kanker dari Masa ke Masa

6 min read
Sejarah Pengobatan Kanker dari Masa ke Masa
ilustrasi obat kemoterapi (unsplash.com/National Cancer Institute)
  • Upaya menangani kanker sudah tercatat sejak Mesir kuno, tetapi pengetahuan dan alat pengobatan saat itu masih terbatas.

  • Perkembangan operasi, radioterapi, kemoterapi, dan terapi hormon membuat pilihan pengobatan makin beragam.

  • Kini, dokter dapat mempertimbangkan ciri biologis dan genetik tumor untuk menentukan terapi, meski tidak semua metode cocok untuk setiap pasien.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jauh sebelum ada kemoterapi dan terapi presisi, orang sudah mencoba menangani kanker dengan alat sederhana, obat oles, hingga pembakaran jaringan. Catatan medis dari Mesir kuno bahkan memuat gambaran tumor payudara yang dianggap tidak memiliki pengobatan.

Sejak itu, pemahaman tentang kanker dan cara menanganinya berkembang melalui berbagai penemuan, serta banyak percobaan yang hasilnya belum tentu berhasil.

Berikut sejumlah tonggak yang mengubah pengobatan kanker dari masa ke masa.

  1. 1. Mesir dan Yunani kuno: tumor dioles, dipotong, atau dibakar

    Papirus Edwin Smith, salah satu catatan medis tertua, menggambarkan benjolan payudara sebagai penyakit serius yang tidak diketahui pengobatannya. Pada masa itu, sebagian upaya penanganan dilakukan dengan pisau, bahan oles, atau kauterisasi (membakar jaringan menggunakan panas). Para tabib Yunani kuno juga melakukan kauterisasi dan mencoba mengangkat tumor yang tampak di permukaan tubuh.

    Pemahaman tentang penyebab kanker masih keliru. Galen, tabib Yunani yang pemikirannya berpengaruh selama berabad-abad, mengaitkan kanker dengan “empedu hitam” yang menumpuk di tubuh. Tanpa pemeriksaan modern, anestesi, antibiotik, dan pemahaman tentang penyebaran tumor, tindakan operasi pun berisiko tinggi dan hasilnya sulit dipastikan.

  2. 2. Abad ke-19: operasi menjadi makin luas

    Ilustrasi dokter bedah mengenakan pakaian operasi dan masker saat melakukan tindakan bedah pada pasien di ruang operasi.
    ilustrasi dokter sedang melakukan operasi pada pasien (pexels.com/CARLOSCRUZ ARTEGRAFIA)

    Pada 1882, dokter bedah William Halsted melakukan mastektomi radikal untuk menangani kanker payudara. Operasi ini mengangkat payudara beserta jaringan di sekitarnya dan menjadi prosedur yang umum digunakan selama beberapa dekade. Cara berpikir saat itu adalah mengangkat jaringan seluas mungkin untuk mengendalikan kanker.

    Seiring waktu, penelitian menunjukkan bahwa operasi yang lebih luas tidak selalu diperlukan bagi setiap pasien. Pada 1985, hasil uji klinis menunjukkan bahwa untuk kanker payudara stadium awal, operasi yang mempertahankan payudara dilanjutkan radioterapi dapat memberikan angka kesintasan yang serupa dengan mastektomi. Ini menjadi bagian dari perubahan menuju pilihan operasi yang disesuaikan dengan kondisi kanker.

  3. 3. Akhir abad ke-19: radiasi mulai digunakan

    ilustrasi persiapan terapi radiasi atau radioterapi (unsplash.com/National Cancer Institute)
    ilustrasi persiapan terapi radiasi atau radioterapi (unsplash.com/National Cancer Institute)

    Penemuan sinar-X oleh Wilhelm Röntgen pada 1895 membuka jalan bagi pemanfaatan radiasi dalam pengobatan. Beberapa tahun kemudian, dokter mulai melaporkan kanker kulit yang berhasil ditangani dengan terapi sinar-X. Radiasi dosis tinggi dapat merusak DNA sel kanker sehingga sel tersebut berhenti membelah atau mati.

    Radioterapi menjadi salah satu cara untuk menargetkan kanker di bagian tubuh tertentu. Dalam perkembangannya, terapi ini digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan operasi dan pengobatan lain. Pilihannya bergantung pada jenis, ukuran, dan lokasi kanker serta kondisi pasien.

  4. 4. 1940-an hingga 1950-an: obat kanker mulai menunjukkan hasil

    Sebelum 1950-an, pengobatan banyak kanker terutama mengandalkan operasi atau radiasi. Kemudian, obat-obatan yang bekerja pada sel yang membelah cepat mulai dicoba.

    Pada 1947, Sidney Farber melaporkan bahwa aminopterin dapat membawa anak-anak dengan leukemia akut ke dalam remisi sementara.

    Remisi berarti tanda atau gejala kanker berkurang atau tidak terdeteksi untuk sementara, tidak selalu berarti kanker sembuh.

    Tonggak lain terjadi pada 1953. Methotrexate digunakan untuk menyembuhkan koriokarsinoma, kanker langka pada jaringan reproduksi.

    Pada 1958, kombinasi lebih dari satu obat kemoterapi juga terbukti dapat menghasilkan remisi dan memperpanjang hidup sebagian pasien leukemia.

    Temuan tersebut menunjukkan bahwa obat kanker dapat bekerja lebih baik ketika digunakan dalam susunan tertentu, bukan selalu sebagai obat tunggal.

  5. 5. Terapi hormon dan pilihan operasi yang lebih terarah

    Pada 1941, Charles Huggins menunjukkan bahwa menurunkan kadar hormon testosteron dapat membuat sebagian tumor prostat mengecil.

    Beberapa dekade berikutnya, obat seperti tamoxifen dikembangkan untuk menangani kanker payudara yang pertumbuhannya dipengaruhi hormon. Terapi hormon tidak cocok untuk semua kanker; manfaatnya bergantung pada apakah tumor menggunakan hormon tertentu untuk tumbuh.

    Sementara itu, pendekatan operasi juga berubah. Modifikasi mastektomi radikal pada 1932 mengangkat jaringan lebih sedikit dibanding prosedur Halsted.

    Kemudian, penelitian tentang operasi konservasi payudara memberi pilihan lain bagi pasien yang memenuhi kriteria medis.

    Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa pengobatan berangsur bergerak dari pendekatan seragam menuju pilihan yang mempertimbangkan karakter kanker dan kebutuhan pasien.

  6. 6. 1990-an hingga 2000-an: obat mulai menyasar perubahan tertentu pada tumor

    Ilustrasi pengobatan kanker yang menggambarkan tema perawatan medis bagi pasien dengan penyakit kanker.
    ilustrasi pengobatan kanker (magnific.com/magnific)

    Ketika ilmuwan semakin memahami gen dan protein yang mendorong pertumbuhan kanker, muncul obat yang dirancang untuk menghambat sasaran tertentu. Salah satu contohnya imatinib, yang dikembangkan untuk menarget protein abnormal terkait kromosom Philadelphia pada leukemia mieloid kronis. Hasil uji klinis pada 2001 menunjukkan obat ini efektif untuk penyakit tersebut.

    Trastuzumab, yang disetujui untuk kanker payudara HER2-positif pada tahun 1998, merupakan contoh lain. Obat ini menyasar protein HER2 yang berlebih pada sebagian tumor payudara.

    Terapi bertarget dapat membantu ketika tumor memiliki sasaran yang sesuai, tetapi tidak semua kanker mempunyai sasaran yang sama atau merespons obat dengan cara serupa.

  7. 7. 2010-an hingga kini: sistem imun dan ciri genetik ikut menentukan terapi

    Imunoterapi berupaya membantu sistem kekebalan tubuh mengenali atau menyerang sel kanker.

    Pada 2011, obat ipilimumab disetujui untuk sebagian pasien melanoma.

    Pada 2017, terapi CAR T pertama disetujui untuk jenis leukemia tertentu pada anak dan dewasa muda. Dalam CAR T, sel kekebalan pasien diambil, diubah di laboratorium agar mengenali sasaran pada sel kanker, lalu dimasukkan kembali ke tubuh. Terapi ini dapat membantu beberapa pasien dan penggunaannya terbatas pada kondisi tertentu.

    Pada tahun yang sama, pembrolizumab menjadi obat pertama yang disetujui di Amerika Serikat untuk kanker berdasarkan ciri genetik tertentu pada tumor, bukan hanya lokasi asal kanker. Pemeriksaan biomarker—penanda biologis seperti perubahan gen atau protein—dapat membantu dokter menilai apakah terapi tertentu mungkin bermanfaat. Namun, hasil pemeriksaan tetap harus dibaca bersama jenis kanker, stadium, kondisi kesehatan, serta pilihan pengobatan lain.

  8. Pengobatan kanker kini menggabungkan beberapa pendekatan

    Perjalanan panjang ini tidak berarti satu terapi telah menggantikan semua terapi sebelumnya. Operasi, radioterapi, kemoterapi, terapi hormon, terapi bertarget, dan imunoterapi masih digunakan.

    Banyak pasien menerima kombinasi beberapa metode, dengan rencana yang ditentukan berdasarkan jenis dan stadium kanker serta kondisi masing-masing pasien.

    Kemajuan pengobatan kanker tumbuh dari catatan kasus, penelitian dasar, uji klinis, dan pengalaman pasien selama berabad-abad. Pilihan terapi kini jauh lebih beragam, tetapi pengobatan terbaik tetap perlu direncanakan bersama tim medis.

    Referensi

    Niki Papavramidou, Theodossis Papavramidis, and Thespis Demetriou, “Ancient Greek and Greco-Roman Methods in Modern Surgical Treatment of Cancer,” Annals of Surgical Oncology 17 (2010): 665–67, https://doi.org/10.1245/s10434-009-0886-6.

    Steven I. Hajdu, “A Note from History: Landmarks in History of Cancer, Part 1,” Cancer 117, no. 5 (2011): 1097–1102, https://doi.org/10.1002/cncr.25553.

    National Cancer Institute, “Milestones in Cancer Research and Discovery,” diakses 3 Oktober 2026.

    National Cancer Institute, “Radiation Therapy to Treat Cancer,” diakses 3 Oktober 2026.

    National Cancer Institute, “Discovery—Methotrexate: Chemotherapy Treatment for Cancer,” diakses 3 Oktober 2026.

    National Cancer Institute, “How Imatinib Transformed Leukemia Treatment and Cancer Research,” diakses 3 Oktober 2026.

    National Cancer Institute, “CAR T Cells: Engineering Immune Cells to Treat Cancer,” diakses 3 Oktober 2026.

    National Cancer Institute, “Developing the First Precision Immunotherapy,” diakses 3 Oktober 2026.

    National Cancer Institute, “Types of Cancer Treatment,” diakses 3 Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More