William Stewart Halsted, “Ligature and Suture Material: The Employment of Fine Silk in Preference to Catgut and the Advantages of Transfixion of Tissues and Vessels in Control of Hemorrhage; Also an Account of the Introduction of Gloves, Gutta-Percha Tissue and Silver Foil,” JAMA 60, no. 15 (1913): 1119–26, https://doi.org/10.1001/jama.1913.04340150001001.
Johns Hopkins Medicine, “The Founding Physicians,” diakses 22 September 2026.
Science History Institute, “The Nurse Who Introduced Gloves to the Operating Room,” Science History Institute, 5 Mei 2020, diakses 22 September 2026.
Sylvia R. Lathan, “Caroline Hampton Halsted: The First to Use Rubber Gloves in the Operating Room,” Baylor University Medical Center Proceedings 23, no. 4 (2010): 389–92, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2943454/.
World Health Organization, “Gloves Do Not Replace Hand Hygiene—Reminder from WHO,” diakses 22 September 2026.
Sejarah Sarung Tangan Operasi yang Jarang Diketahui

Sarung tangan karet tipis yang dipakai di ruang operasi Johns Hopkins pada 1889–1890 dibuat untuk melindungi tangan perawat Caroline Hampton dari bahan antiseptik.
Manfaatnya untuk pasien baru diperhatikan beberapa tahun kemudian, saat ahli bedah Joseph Bloodgood melaporkan lebih sedikit infeksi pada operasi yang menggunakan sarung tangan.
Sarung tangan membantu mengurangi risiko penularan kuman, tetapi tidak menggantikan kebersihan dan persiapan tangan tenaga kesehatan.
Di ruang operasi pada akhir abad ke-19, sarung tangan belum dipandang sebagai pelindung pasien. Kisah sarung tangan karet tipis yang kemudian menjadi bagian dari operasi modern bermula dari kulit seorang perawat yang mengalami iritasi.
Table of Content
1. Awalnya, sarung tangan dibuat untuk melindungi perawat
Pada musim dingin 1889–1890, Caroline Hampton, perawat bedah di Johns Hopkins Hospital, mengalami dermatitis pada tangan dan lengannya. William Halsted, dokter bedah yang memimpin ruang operasi, mengaitkan masalah itu dengan larutan antiseptik merkuri klorida yang digunakan saat itu. Ia meminta perusahaan Goodyear membuat dua pasang sarung tangan karet tipis untuk melindungi tangan Hampton.¹
Bagi Hampton, sarung tangan itu menjawab masalah nyata mengenai tangannya yang sakit akibat bahan yang digunakan untuk menjaga ruang operasi tetap bersih. Pada awalnya, sarung tangan tersebut ditujukan untuk melindungi tenaga medis, bukan untuk mencegah infeksi pada pasien.
2. Sarung tangan medis sebenarnya sudah ada sebelumnya
Bentuk sederhana sarung tangan sudah dipakai dalam beberapa tindakan medis sebelumnya, tetapi tidak praktis untuk pekerjaan operasi yang membutuhkan gerakan tangan terampil. Sarung tangan karet tipis yang dibuat untuk Hampton menjadi langkah penting karena lebih memungkinkan dipakai saat bekerja dengan instrumen bedah.
3. Rekan-rekan Hampton ikut memakainya

ilustrasi sarung tangan medis (unsplash.com/philippe spitalier) Sarung tangan itu kemudian digunakan oleh tenaga lain di ruang operasi. Sejumlah asisten Halsted merasa sarung tangan membantu mereka memegang instrumen yang licin. Namun, manfaatnya untuk mengendalikan kuman belum langsung menjadi alasan utama pemakaian. Johns Hopkins mencatat bahwa gagasan tersebut baru terpikir beberapa tahun kemudian.
4. Perhatian beralih ke perlindungan pasien
Pada 1890-an, ahli bedah Joseph Bloodgood mulai memakai sarung tangan saat operasi hernia. Dalam laporan yang terbit pada 1899, ia mencatat lebih sedikit infeksi luka pada operasi yang menggunakan sarung tangan.
Temuan itu ikut memperkuat alasan pemakaian sarung tangan untuk membantu melindungi pasien. Catatan tersebut merupakan laporan historis, bukan uji klinis dengan rancangan penelitian modern.
5. Sarung tangan tetap tidak menggantikan kebersihan tangan
Kini, sarung tangan medis menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko penularan kuman dalam pelayanan kesehatan. Namun, sarung tangan tidak menggantikan kebersihan tangan. Perlindungan pasien dan tenaga kesehatan tetap membutuhkan langkah pencegahan yang dilakukan dengan benar.
Dari dermatitis yang dialami seorang perawat, sarung tangan karet tipis berkembang menjadi perlengkapan penting di ruang operasi. Sejarahnya juga menunjukkan bahwa alat tersebut awalnya hadir untuk melindungi orang yang merawat pasien—sebelum manfaatnya bagi pasien dipahami lebih luas.
Referensi






.jpg)














