Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Tanda Ovulasi Gagal yang Perlu Diperiksa

6 Tanda Ovulasi Gagal yang Perlu Diperiksa
ilustrasi sistem reproduksi perempuan (magnific.com/pikisuperstar)
Intinya Sih
  • Anovulasi terjadi ketika ovarium tidak melepaskan sel telur. Darah menstruasi yang keluar tidak selalu membuktikan bahwa ovulasi telah terjadi.

  • Tanda paling kuat adalah siklus yang sangat tidak teratur atau menstruasi berhenti, tetapi anovulasi kadang juga terjadi pada orang dengan siklus yang tampak teratur.

  • Tes ovulasi rumahan hanya memberikan petunjuk. Pemeriksaan progesteron, riwayat menstruasi, tes hormon, dan USG dapat diperlukan untuk mencari penyebabnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Menstruasi tetap datang, tetapi jadwalnya tidak teratur. Kadang terlambat, kadang sangat deras, lalu hilang selama beberapa bulan. Banyak orang menganggapnya karena ketidaktabilan hormon, padahal salah satu penyebabnya bisa anovulasi, yaitu siklus tanpa pelepasan sel telur. Tanpa ovulasi, tubuh tidak menghasilkan progesteron cukup sehingga lapisan rahim luruh secara tidak teratur.

Satu siklus tanpa ovulasi sesekali belum tentu masalah. Namun, jika berulang, penyebabnya perlu dicari tahu karena bisa memengaruhi kesuburan, pola perdarahan, dan kesehatan rahim.

1. Jarak menstruasi sangat tidak teratur

Pada orang dewasa yang sudah melewati masa awal pubertas, siklus umumnya datang setiap 21–35 hari. Umumnya siklus menstruasi digolongkan tidak teratur jika jaraknya kurang dari 21 hari atau lebih dari 35 hari, terjadi kurang dari delapan kali per tahun, atau ada satu siklus yang berlangsung lebih dari 90 hari.

Siklus panjang dan jarang merupakan petunjuk kuat bahwa ovulasi tidak terjadi secara konsisten. American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menyebut riwayat oligomenorea (menstruasi yang jarang) atau amenorea sudah cukup untuk mencurigai anovulasi dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Mencatat tanggal mulai menstruasi selama beberapa bulan dapat membantu.

2. Menstruasi berhenti selama beberapa bulan

Tidak menstruasi selama tiga bulan atau lebih disebut amenorea sekunder jika sebelumnya sudah pernah haid. Penyebab paling umum adalah kehamilan, jadi itu harus diperiksa lebih dulu.

Jika bukan hamil, berhentinya menstruasi bisa terkait dengan polycystic ovarian syndrome atau PCOS (sekarang disebut polyendocrine metabolic ovarian syndrome/PMOS), gangguan tiroid, kadar prolaktin tinggi, perubahan berat badan drastis, pembatasan makan, stres berat, olahraga berlebihan, insufisiensi ovarium primer, atau perimenopause.

Menstruasi yang berhenti setelah latihan berlebihan atau kurang makan dapat menjadi sinyal energi tidak cukup untuk menjaga fungsi reproduksi.

3. Perdarahan menjadi tidak terduga atau sangat deras

Beberapa pembalut wanita tersusun di atas permukaan cokelat, satu di antaranya memiliki noda merah sebagai ilustrasi menstruasi.
ilustrasi perdarahan menstruasi (pexels.com/Cliff Booth)

Anovulasi tidak selalu membuat menstruasi hilang. Sebagian orang justru mengalami bercak lama, perdarahan di luar jadwal, atau menstruasi yang sangat deras.

Tanpa ovulasi, progesteron tidak meningkat. Lapisan rahim terus menebal di bawah pengaruh estrogen lalu luruh tidak teratur. Gangguan ovulasi bisa menyebabkan perdarahan tidak teratur dan kadang berat.

Jika anovulasi berlangsung lama, lapisan rahim bisa terlalu tebal atau mengalami hiperplasia endometrium. Tidak selalu menjadi kanker, tetapi beberapa jenis hiperplasia bisa berkembang menjadi kanker rahim jika tidak ditangani.

Segera cari pertolongan jika perdarahan menstruasi bikin kamu harus mengganti pembalut atau tampon setiap jam selama lebih dari 2 jam, disertai pusing, sesak, nyeri dada, atau hampir pingsan.

4. Tidak ada pola tanda masa subur yang konsisten

Menjelang ovulasi, sebagian orang mengalami lendir serviks yang lebih bening, licin, dan elastis. Setelah ovulasi, suhu basal tubuh biasanya sedikit meningkat karena pengaruh progesteron.

Jika perubahan tersebut tidak pernah muncul, itu mungkin menandakan ovulasi tidak terjadi. Namun, tanda di rumah tidak cukup akurat untuk menetapkan diagnosis. Cairan vagina dapat berubah akibat infeksi, obat, menyusui, atau penggunaan kontrasepsi, sedangkan suhu tubuh dipengaruhi tidur, penyakit, alkohol, dan waktu pengukuran.

Pencatatan suhu basal harian cukup merepotkan dan sering tidak akurat. Sebagian orang yang berovulasi pun tidak menunjukkan pola suhu dua fase yang jelas.

Tes ovulasi urine juga tidak membuktikan bahwa sel telur benar-benar dilepaskan. Alat tersebut hanya mendeteksi peningkatan hormon luteinisasi (LH) yang biasanya terjadi sebelum ovulasi. Hasil positif atau negatif palsu dapat muncul, dan orang dengan PCOS bisa memiliki kadar LH dasar yang tinggi sehingga tes tampak terus positif.

5. Sulit hamil meskipun sudah berhubungan seksual secara teratur

Tanpa ovulasi, pembuahan tidak bisa terjadi sehingga anovulasi menjadi salah satu penyebab gangguan kesuburan.

Namun, sulit hamil tidak selalu berarti ovulasi gagal. Faktor lain seperti masalah sperma, sumbatan saluran telur, endometriosis, kelainan rahim, usia, dan waktu hubungan seksual juga berperan. Itulah kenapa evaluasi kesuburan sebaiknya menilai kedua pasangan sekaligus.

Umumnya, pemeriksaan dianjurkan setelah 12 bulan berhubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi jika usia di bawah 35 tahun, atau setelah 6 bulan jika usia 35 tahun ke atas. Namun, jika menstruasi sangat tidak teratur, jarang, atau berhenti, pemeriksaan sebaiknya dilakukan lebih cepat karena itu sudah mengarah ke gangguan ovulasi.

6. Muncul tanda gangguan hormon lainnya

waspadai tanda-tanda ovulasi gagal (freepik.com/wayhomestudio)
ilustrasi perempuan yang mengalami ovulasi gagal (magnific.com/wayhomestudio)

Anovulasi sering menjadi bagian dari kondisi lain. Gejala tambahan bisa membantu dokter memperkirakan penyebabnya.

Jerawat parah, rambut kasar berlebihan, rambut kepala menipis, atau kulit gelap di lipatan bisa mengarah ke PCOS atau kelebihan hormon androgen. Cairan seperti susu dari puting saat tidak hamil atau menyusui bisa menandakan kadar prolaktin tinggi.

Hot flash, keringat malam, vagina kering, dan perubahan menstruasi sebelum usia 40 tahun perlu dinilai untuk menyingkirkan insufisiensi ovarium primer. Sementara itu, perubahan berat badan, mudah kedinginan atau kepanasan, jantung berdebar, dan perubahan buang air besar bisa terkait gangguan tiroid.

Gejala yang muncul cepat—seperti suara mendadak berat, pertumbuhan rambut kasar pesat, atau perubahan bentuk tubuh—perlu segera diperiksa untuk menyingkirkan penyebab yang lebih jarang, termasuk tumor penghasil androgen.

Apakah siklus teratur menjamin ovulasi terjadi?

Tidak selalu. Siklus teratur 21–35 hari biasanya berarti ada ovulasi, terutama jika tidak ada tanda kelebihan androgen. Namun, gangguan ovulasi tetap bisa terjadi meski siklus terlihat normal.

Hal ini lebih mungkin dicurigai jika siklus teratur disertai rambut berlebih, jerawat hormonal, atau kesulitan hamil. Dalam kasus seperti itu, dokter bisa memeriksa kadar progesteron untuk memastikan ovulasi.

Perlu diingat, jika menggunakan pil KB kombinasi, suntik KB, implan, atau kontrasepsi hormonal lain, ovulasi memang sengaja ditekan. Perdarahan bulanan saat memakai metode ini bukan menstruasi alami dan tidak bisa dijadikan patokan ovulasi.

Bagaimana memastikan ovulasi benar-benar terjadi?

Dokter biasanya mulai dengan menanyakan riwayat menstruasi, pola perdarahan, penggunaan obat atau kontrasepsi, perubahan berat badan, pola makan, olahraga, stres, serta gejala hormon lain.

Jika siklus tidak jelas, kadar progesteron bisa diperiksa sekitar seminggu sebelum perkiraan haid berikutnya (bukan otomatis hari ke-21). Menurut ASRM, kadar di atas 3 ng/mL menunjukkan ovulasi baru saja terjadi. Satu hasil cukup untuk memastikan ovulasi, tapi tidak bisa menilai kualitas fase luteal karena kadar hormon berubah sepanjang hari.

Tes lain yang mungkin dilakukan antara lain:

  • Tes kehamilan.
  • TSH untuk fungsi tiroid.
  • Prolaktin (jika ada cairan dari puting).
  • FSH dan estradiol.
  • Hormon androgen (jika ada jerawat atau rambut berlebih).
  • USG panggul untuk melihat ovarium dan rahim.

Tidak semua orang perlu semua tes. Pemeriksaan dipilih sesuai gejala dan dugaan penyebab.

Apa yang perlu dilakukan?

Seorang pasien berbicara dengan dokter yang memegang clipboard di latar belakang berwarna merah muda, menggambarkan suasana konsultasi medis.
ilustrasi berkonsultasi dengan dokter (pexels.com/Thirdman)

Jangan mencoba “memancing ovulasi” dengan jamu atau suplemen tanpa tahu penyebabnya. Penanganan anovulasi berbeda tergantung kondisi.

  • PCOS: fokus pada perbaikan metabolik, pengaturan siklus, dan obat pemicu ovulasi bila ingin hamil.
  • Gangguan tiroid atau prolaktin: butuh terapi khusus.
  • Kekurangan energi karena diet atau olahraga berlebihan: perbaiki asupan, kurangi beban latihan, dan kelola stres.

Segera temui dokter kandungan jika siklus berulang kali lebih pendek dari 21 hari atau lebih panjang dari 35 hari, haid tidak datang selama tiga bulan, perdarahan sangat berat, atau kamu sedang merencanakan kehamilan tapi siklus sulit diprediksi.

Tanda ovulasi gagal biasanya terlihat dari menstruasi yang jarang, berhenti, atau sangat tidak teratur. Namun, darah yang tetap keluar tidak selalu berarti ovulasi terjadi, dan siklus teratur pun tidak menjamin ovulasi. Diagnosis yang tepat bukan hanya memastikan ada atau tidaknya ovulasi, tapi juga mencari tahu kenapa tubuh berhenti melepaskan sel telur.

Referensi

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). “Abnormal Uterine Bleeding.” Diakses Juli 2026.

ACOG. “Endometrial Hyperplasia.” Diakses Juli 2026

ACOG. “Heavy Menstrual Bleeding.” Diakses Juli 2026

Practice Committee of the American Society for Reproductive Medicine. “Current Evaluation of Amenorrhea: A Committee Opinion.” Fertility and Sterility 122, no. 1 (2024): 52–61. https://doi.org/10.1016/j.fertnstert.2024.02.001.

Practice Committee of the American Society for Reproductive Medicine. “Fertility Evaluation of Infertile Women: A Committee Opinion.” Fertility and Sterility 116, no. 5 (2021): 1255–65. https://doi.org/10.1016/j.fertnstert.2021.08.038.

Teede, Helena J., Chau Thien Tay, Joop Laven, Anuja Dokras, Lisa Moran, Terhi T. Piltonen, et al. “Recommendations from the 2023 International Evidence-Based Guideline for the Assessment and Management of Polycystic Ovary Syndrome.” Fertility and Sterility 120, no. 4 (2023): 767–793. https://doi.org/10.1016/j.fertnstert.2023.07.025.

Share Article

Related Articles

See More