Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Patah Tulang atau Dislokasi? Ini Cara Membedakannya

Patah Tulang atau Dislokasi? Ini Cara Membedakannya
ilustrasi patah tulang kaki (pexels.com/cottonbro studio)
Intinya Sih
  • Patah tulang terjadi ketika tulang retak atau terputus, sedangkan dislokasi terjadi ketika ujung tulang keluar dari posisi normalnya pada sendi.

  • Nyeri, bengkak, memar, dan perubahan bentuk dapat muncul pada kedua cedera sehingga sulit dibedakan hanya dari penampilan.

  • Jangan mencoba meluruskan tulang atau mengembalikan sendi sendiri karena dapat memperparah kerusakan saraf dan pembuluh darah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat jatuh saat berolahraga, pergelangan tangan atau kaki bisa langsung bengkak, bentuknya tampak berbeda, terasa sangat sakit, dan sulit digerakkan. Pertanyaan yang sering muncul, apakah tulang patah atau sendi bergeser?

Melihatnya saja tidak cukup untuk menemukan jawabannya. Patah tulang dan dislokasi sama-sama bisa menimbulkan nyeri hebat, bengkak, memar, perubahan bentuk, dan sulit digerakkan. Bahkan, keduanya bisa terjadi bersamaan.

Kenali apa saja perbedaan gejala patah tulang dan dislokasi supaya kamu tahu kapan harus segera pergi mencari bantuan medis.

1. Bagian yang mengalami cedera berbeda

Patah tulang atau fraktur berarti terdapat retakan atau putusnya struktur tulang. Retakan tersebut bisa sangat kecil, membuat tulang terbelah menjadi beberapa bagian, atau menyebabkan ujung tulang menembus kulit.

Sementara itu, dislokasi terjadi pada sendi, yaitu tempat dua atau lebih tulang bertemu. Cedera ini membuat ujung tulang terdorong keluar dari posisi normalnya pada sendi. Apabila pergeseran hanya terjadi sebagian, kondisi tersebut dikenal sebagai subluksasi.

Sederhananya:

  • Pada patah tulang, bagian yang rusak adalah tulangnya.
  • Pada dislokasi, hubungan antartulang di dalam sendi berubah.
  • Pada fraktur-dislokasi, tulang patah sekaligus keluar dari posisi sendinya.

Dislokasi juga dapat merusak jaringan di sekitar sendi, seperti ligamen, tendon, otot, saraf, dan pembuluh darah. Karena itu, dislokasi sebaiknya tidak ditarik atau dipijat sendiri.

2. Membedakan gejala patah tulang dan dislokasi

Hasil rontgen menunjukkan tulang bahu yang patah dengan posisi tulang bergeser, memperlihatkan kondisi patah tulang secara jelas.
ilustrasi patah tulang (unsplash.com/Harlie Raethel)

Patah tulang lebih dicurigai jika nyeri terasa tepat pada bagian tulang, muncul nyeri ketika bagian tersebut ditekan atau diberi beban, atau terlihat tulang menembus kulit. Namun, tidak semua fraktur membuat anggota tubuh tampak bengkok. Fraktur yang stabil atau tidak bergeser dapat terlihat lebih ringan dari luar.

Sementara itu, dislokasi biasanya membuat bentuk atau kontur sendi terlihat tidak normal. Sendi juga dapat terasa terkunci, sangat sakit, dan sulit digerakkan. Meski begitu, perubahan bentuk pada patah tulang juga dapat menyerupai dislokasi.

Awam kemungkinan besar tidak dapat membedakan cedera tulang, otot, dan sendi secara akurat, kecuali jika perubahan bentuknya sangat jelas. Karena itu, cedera yang menimbulkan nyeri berat, bengkak, atau gangguan gerak sebaiknya diperlakukan sebagai kemungkinan patah tulang sampai diperiksa oleh tenaga medis.

Masih mampu menggerakkan tangan atau menginjak kaki juga tidak otomatis menyingkirkan kemungkinan fraktur. Menurut studi, beberapa fraktur traumatis dapat tampak sangat samar atau bahkan tidak terlihat pada pemeriksaan sinar-X awal.

3. Perlu pemeriksaan medis untuk memastikannya

Dokter akan menilai lokasi nyeri, pembengkakan, perubahan bentuk, kemampuan bergerak, serta kondisi saraf dan aliran darah di bagian tubuh yang cedera.

Sinar-X umumnya menjadi pemeriksaan awal karena dapat menunjukkan apakah tulang patah dan apakah susunan sendi berubah. Namun, jika hasilnya tidak menunjukkan kelainan sementara kecurigaan terhadap cedera masih kuat, dokter dapat mempertimbangkan pengulangan sinar-X, CT scan, atau MRI sesuai lokasi dan jenis cedera.

Pemeriksaan tetap penting meskipun sendi yang terkilir atau bergeser tampak kembali ke posisi semula. Dokter perlu memastikan tidak ada patah tulang, kerusakan ligamen, atau gangguan saraf dan pembuluh darah yang menyertainya.

4. Jangan mencoba mengembalikan posisinya sendiri

Citra rontgen siku menunjukkan dislokasi sendi posterior tanpa adanya tanda-tanda patah tulang pada area tersebut.
Foto rontgen siku dengan dislokasi sendi posterior tanpa patah tulang. (commons.wikimedia.org/Flibust1er)

Saat melihat tangan atau kaki yang tampak bengkok, reaksi spontan kamu mungkin ingin menarik atau meluruskannya. Awas, tindakan tersebut malah bisa memperparah cedera.

Memaksa sendi kembali ke tempatnya dapat merusak otot, ligamen, saraf, atau pembuluh darah di sekitarnya. Tulang yang patah juga tidak boleh diluruskan atau didorong kembali apabila menembus kulit.

Sambil mencari pertolongan medis, kamu bisa melakukan langkah-langkah ini:

  • Hentikan aktivitas dan jangan membebani bagian yang cedera.
  • Pertahankan posisi anggota tubuh seperti saat ditemukan.
  • Gunakan penyangga sederhana hanya jika kamu memahami cara memasangnya.
  • Tempelkan kompres dingin yang dibungkus kain, bukan langsung ke kulit.
  • Jika ada luka terbuka, tutup menggunakan kain atau perban bersih.
  • Lepaskan cincin, jam tangan, atau benda ketat sebelum tambah bengkak.

5. Kapan harus segera ke IGD?

Cari pertolongan darurat apabila:

  • Tulang terlihat menembus kulit.
  • Anggota tubuh atau sendi tampak sangat bengkok.
  • Terjadi perdarahan berat.
  • Jari tangan atau kaki terasa mati rasa, dingin, pucat, atau kebiruan.
  • Nyeri sangat berat meskipun hanya disentuh atau digerakkan sedikit.
  • Cedera terjadi akibat kecelakaan berat atau jatuh dari ketinggian.
  • Terdapat dugaan cedera pada kepala, leher, punggung, panggul, atau paha.

Dari luar, patah tulang dan dislokasi bisa terlihat hampir sama. Namun, secara medis keduanya memiliki perbedaan yang jelas. Jangan menebak-nebak atau mencoba memperbaikinya sendiri. Langkah paling aman adalah menjaga bagian yang cedera tetap stabil dan membawanya untuk diperiksa oleh tenaga medis.

Referensi

American Academy of Orthopaedic Surgeons. “Fractures (Broken Bones).” Diakses Juli 2026.

American Red Cross. “Fractures: Types, Symptoms, and Treatment.” Diakses Juli 2026.

Mayo Clinic. “Dislocation: First Aid.” Diakses Juli 2026.

Mayo Clinic. “Fractures (Broken Bones): First Aid.” Diakses Juli 2026.

Pinto, Antonio, Daniela Berritto, Anna Russo, Federica Riccitiello, Martina Caruso, Maria Paola Belfiore, Vito Roberto Papapietro, et al. “Traumatic Fractures in Adults: Missed Diagnosis on Plain Radiographs in the Emergency Department.” Acta Biomedica 89, no. 1-S (2018): 111–123. https://doi.org/10.23750/abm.v89i1-S.7015.

Torabi, Maha, Leon Lenchik, Francesca D. Beaman, Daniel E. Wessell, Jennifer K. Bussell, R. Carter Cassidy, Gregory J. Czuczman, et al. “ACR Appropriateness Criteria® Acute Hand and Wrist Trauma.” Journal of the American College of Radiology 16, no. 5 (2019): S7–S17. https://doi.org/10.1016/j.jacr.2019.02.029.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More