Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Minuman Ini Bisa Menyehatkan Sendi

7 Minuman Ini Bisa Menyehatkan Sendi
ilustrasi minum teh hijau, minuman yang bisa membantu kesehatan sendi (pexels.com/Anh Nguyen)
Intinya Sih
  • Pilihan minuman seperti air putih, teh hijau, susu atau alternatifnya, serta jus kaya vitamin C berperan penting menjaga hidrasi, mengurangi peradangan, dan mendukung kesehatan sendi.
  • Air putih membantu menjaga fungsi tulang rawan dan cairan sinovial, sementara teh hijau dengan kandungan EGCG memiliki efek antiinflamasi yang mendukung perlindungan jaringan sendi.
  • Susu, susu kedelai fortifikasi, kopi moderat, dan smoothie rendah gula dapat melengkapi pola makan seimbang untuk memperkuat tulang serta menekan risiko gangguan metabolik yang membebani sendi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Bicara tentang kesehatan sendi, banyak orang lebih melirik makanan seperti ikan berlemak, sayuran hijau, atau sumber kolagen. Namun, ternyata apa yang kamu minum setiap hari juga dapat memengaruhi kondisi sendi.

Tak cuma bertugas sebagai engsel yang menghubungkan tulang, di dalam sendi terdapat tulang rawan, cairan sinovial, ligamen, tendon, dan berbagai jaringan lain yang bekerja sama agar tubuh bisa bergerak dengan nyaman. Semua komponen itu butuh lingkungan yang sehat agar fungsinya optimal.

Peradangan kronis tingkat rendah, dehidrasi, obesitas, dan gangguan metabolisme diketahui dapat mempercepat penurunan fungsi sendi. Jadi, memilih minuman yang tepat dapat menjadi bagian dari strategi menjaga kesehatan sendi dalam jangka panjang.

Berikut ini beberapa jenis minuman yang dapat menyehatkan sendi.

Table of Content

1. Air putih

1. Air putih

Jika harus memilih satu minuman penting untuk kesehatan sendi, jawabannya adalah air putih.

Sekitar 70–80 persen tulang rawan terdiri atas air. Tulang rawan berfungsi sebagai bantalan yang membantu mengurangi gesekan antar tulang saat bergerak. Ketika tubuh kekurangan cairan, kemampuan jaringan ini untuk menyerap tekanan dapat menurun.

Selain itu, cairan sinovial yang melumasi sendi juga sangat bergantung pada status hidrasi tubuh. Cairan ini membantu mengurangi gesekan sekaligus menyalurkan nutrisi ke tulang rawan yang tidak memiliki pembuluh darah sendiri.

Meski dehidrasi bukan penyebab langsung osteoartritis, berbagai penelitian menunjukkan bahwa hidrasi yang baik merupakan bagian penting dari pemeliharaan kesehatan jaringan muskuloskeletal secara keseluruhan.

2. Teh hijau

Teh hijau merupakan salah satu minuman yang paling banyak diteliti terkait efek antiinflamasi.

Teh hijau kaya akan katekin, terutama epigallocatechin gallate (EGCG), yaitu senyawa antioksidan yang diketahui dapat memengaruhi jalur-jalur peradangan dalam tubuh.

Penelitian laboratorium dan studi pada hewan menunjukkan bahwa EGCG dapat membantu mengurangi aktivitas molekul yang berkontribusi terhadap kerusakan tulang rawan dan peradangan sendi. Meski hasil penelitian pada manusia masih terus berkembang, tetapi temuannya cukup menjanjikan.

Selain itu, teh hijau relatif rendah kalori jika dikonsumsi tanpa tambahan gula. Ini penting karena menjaga berat badan merupakan salah satu cara paling efektif untuk mengurangi beban pada sendi lutut dan pinggul.

3. Susu dan minuman tinggi kalsium

Seorang pria mengenakan kaus putih sedang meminum segelas susu dengan latar belakang berwarna biru gelap.
ilustrasi minum susu (pexels.com/cottonbro studio)

Kesehatan sendi dan tulang tak bisa dipisahkan. Tulang yang kuat membantu menopang dan melindungi struktur sendi. Jadi, minuman yang mengandung kalsium dan vitamin D memiliki peran tidak langsung dalam menjaga sistem muskuloskeletal.

Susu merupakan salah satu sumber kalsium yang paling mudah didapat. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi produk susu tertentu berkaitan dengan progresivitas osteoartritis lutut yang lebih lambat, walaupun hubungan ini masih terus diteliti.

Bagi individu yang tidak mengonsumsi susu sapi, alternatif produk yang diperkaya kalsium dan vitamin D, seperti susu kedelai fortifikasi, dapat menjadi pilihan.

4. Jus jeruk dan minuman kaya akan vitamin C tanpa tambahan gula

Vitamin C memiliki peran penting dalam pembentukan kolagen. Kolagen merupakan protein struktural utama yang ditemukan pada tulang rawan, tendon, ligamen, dan berbagai jaringan ikat lainnya. Tubuh membutuhkan vitamin C untuk memproduksi kolagen secara optimal.

Beberapa studi observasional menunjukkan bahwa asupan vitamin C yang cukup berkaitan dengan kesehatan sendi yang lebih baik dan risiko progresi osteoartritis yang lebih rendah.

Namun, pastikan memilih jus buah tanpa tambahan gula berlebih. Konsumsi minuman manis secara berlebihan justru dapat meningkatkan peradangan dan berkontribusi terhadap kenaikan berat badan, yang pada akhirnya membebani sendi.

5. Kopi dalam jumlah moderat

Penelitian dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa kopi mengandung berbagai senyawa bioaktif dan antioksidan yang dapat membantu melawan stres oksidatif.

Beberapa studi epidemiologi menemukan hubungan antara konsumsi kopi dalam jumlah moderat dengan penurunan risiko sejumlah penyakit kronis yang berkaitan dengan peradangan sistemik.

Meski demikian, bukti khusus mengenai manfaat kopi terhadap kesehatan sendi masih beragam. Karena itu, kopi sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan, bukan sebagai terapi untuk penyakit sendi.

Yang perlu diperhatikan adalah tambahan gula, sirup, dan krimer tinggi kalori yang justru dapat menghilangkan manfaat potensial tersebut.

6. Susu kedelai

Segelas susu kedelai diletakkan di atas meja putih bersama mangkuk berisi biji kedelai dan beberapa butir kedelai yang berserakan.
ilustrasi susu kedelai (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Susu kedelai mengandung protein nabati berkualitas tinggi dan berbagai senyawa fitokimia, termasuk isoflavon. Isoflavon memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang telah diteliti dalam berbagai kondisi kesehatan.

Bagi sebagian orang yang tidak dapat mengonsumsi produk susu, susu kedelai fortifikasi juga dapat menjadi sumber kalsium dan vitamin D yang baik.

Selain itu, mengganti sebagian sumber lemak jenuh dengan protein nabati dapat membantu mendukung kesehatan metabolik secara keseluruhan, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap kesehatan sendi.

7. Smoothie buah dan sayur yang rendah atau tanpa gula tambahan

Smoothie yang terdiri dari buah utuh, sayuran hijau, yoghurt tanpa gula, atau susu rendah lemak dapat menjadi cara praktis untuk meningkatkan asupan antioksidan dan mikronutrien.

Sayuran hijau mengandung berbagai senyawa bioaktif yang membantu melawan stres oksidatif. Buah beri, jeruk, kiwi, dan buah-buahan berwarna cerah juga kaya akan vitamin C dan polifenol.

Hindari tambahan pemanis seperti sirop, gula, susu kental manis, atau jus buah dalam jumlah besar, ya.

Jenis minuman yang sebaiknya dibatasi

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minuman berpemanis secara berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas, peradangan, dan berbagai penyakit metabolik.

Kelebihan berat badan memberikan tekanan tambahan yang besar pada sendi penopang berat badan seperti lutut dan pinggul.

Pada orang dengan gout atau penyakit asam urat, minuman tinggi fruktosa seperti soda dan minuman manis tertentu juga dapat meningkatkan kadar asam urat sehingga memperbesar risiko serangan gout.

Tidak ada satu minuman ajaib yang mampu memperbaiki sendi yang rusak atau menghilangkan nyeri sendi dalam semalam. Namun, pilihan minuman sehari-hari dapat memengaruhi hidrasi, peradangan, berat badan, kesehatan tulang, dan metabolisme tubuh—faktor-faktor yang semuanya berperan dalam kesehatan sendi.

Jadikan air putih sebagai prioritas. Setelah itu, teh hijau, susu atau alternatif yang diperkaya kalsium, minuman kaya vitamin C, kopi dalam jumlah moderat, dan smoothie sehat dapat menjadi bagian dari pola makan yang mendukung fungsi sendi.

Jaga kesehatan sendi lewat pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur cukup, pengendalian berat badan, dan kebiasaan hidup sehat yang dijalankan secara konsisten.

Referensi

David J Hunter and David T Felson, “Osteoarthritis,” BMJ 332, no. 7542 (March 16, 2006): 639–42, https://doi.org/10.1136/bmj.332.7542.639.

National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases. "Osteoarthritis." Diakses Juni 2026.

Salahuddin Ahmed, “Green Tea Polyphenol Epigallocatechin 3-gallate in Arthritis: Progress and Promise,” Arthritis Research & Therapy 12, no. 2 (January 1, 2010): 208, https://doi.org/10.1186/ar2982.

Y. Henrotin et al., “Nutraceuticals: Do They Represent a New Era in the Management of Osteoarthritis? – a Narrative Review From the Lessons Taken With Five Products,” Osteoarthritis and Cartilage 19, no. 1 (October 29, 2010): 1–21, https://doi.org/10.1016/j.joca.2010.10.017.

T.E. McAlindon et al., “OARSI Guidelines for the Non-surgical Management of Knee Osteoarthritis,” Osteoarthritis and Cartilage 22, no. 3 (January 24, 2014): 363–88, https://doi.org/10.1016/j.joca.2014.01.003.

Centers for Disease Control and Prevention. "Healthy Weight and Arthritis." Diakses Juni 2026.

National Institutes of Health Office of Dietary Supplements. "Vitamin C Fact Sheet for Health Professionals." Diakses Juni 2026.

Peter Mandl et al., “2023 EULAR Recommendations on Imaging in Diagnosis and Management of Crystal-induced Arthropathies in Clinical Practice,” Annals of the Rheumatic Diseases 83, no. 6 (February 6, 2024): 752–59, https://doi.org/10.1136/ard-2023-224771.

Harvard T.H. Chan School of Public Health. "The Nutrition Source: Coffee." Diakses Juni 2026.

World Health Organization. "Healthy Diet." Diakses Juni 2026.

Share Article
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More