Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Terpapar Abu Vulkanis Saat Hamil, Apa Risikonya bagi Janin?

3 min read
Terpapar Abu Vulkanis Saat Hamil, Apa Risikonya bagi Janin?
ilustrasi seorang ibu hamil melakukan telemedicine dengan dokter kandungan (IDN Times/NRF)
  • Abu vulkanis dapat mengiritasi mata dan saluran napas serta memperburuk asma.

  • Penelitian mengaitkan peningkatan partikel udara akibat erupsi dengan kelahiran prematur, tetapi tidak berarti setiap paparan akan membahayakan janin.

  • Kurangi paparan, gunakan N95 yang pas saat harus keluar, dan segera periksa jika sesak atau gerakan janin berkurang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat ada paparan abu vulkanis akibat erupsi gunung berapi, normal jika ibu hamil merasa khawatir akan abu yang terhirup dan apakah ini membawa risiko pada janin.

Paparan abu vulkanis memang perlu diminimalkan. Dampak yang paling jelas adalah iritasi mata dan saluran napas, sementara penelitian juga menemukan kaitan antara peningkatan partikel udara setelah erupsi dan kelahiran prematur.

  1. 1. Keluhan yang paling langsung terasa adalah gangguan pernapasan

    Abu vulkanis terdiri dari pecahan batuan yang sangat kecil. Sebagian partikelnya cukup halus untuk masuk jauh ke paru-paru ketika terhirup. Keluhan dapat berupa hidung berair, tenggorokan terasa perih, batuk, dan rasa tidak nyaman saat bernapas. Abu juga bisa mengiritasi mata.

    Pada ibu hamil yang memiliki asma, paparan ini perlu lebih diwaspadai karena dapat memicu batuk, mengi (napas berbunyi seperti siulan), dan sesak. Tingkat keparahannya dipengaruhi jumlah partikel di udara, ukuran partikel, lama paparan, serta kondisi kesehatan sebelumnya.

  2. 2. Penelitian menemukan kaitan dengan kelahiran prematur

    Ilustrasi janin, bayi dalam kandungan.
    ilustrasi ibu hamil dan janin, bayi dalam kandungan (IDN Times/NRF)

    Studi dalam jurnal Environmental Health Perspectives meneliti hasil kehamilan di Montevideo, Uruguay, setelah erupsi Gunung Puyehue di Cile pada tahun 2011. Abu dan debu dari erupsi tersebut meningkatkan konsentrasi PM10, yaitu partikel udara berdiameter sekitar 10 mikrometer atau lebih kecil.

    Peneliti menemukan bahwa paparan PM10 yang lebih tinggi pada trimester ketiga berkaitan dengan kemungkinan kelahiran prematur yang lebih tinggi. Temuan ini menjadi alasan untuk membatasi paparan, khususnya ketika kualitas udara memburuk.

    Namun, penelitian tersebut menilai paparan melalui data pencemaran udara, bukan mengukur jumlah abu yang terhirup setiap ibu. Jadi, hasilnya tidak dapat dipakai untuk memastikan kondisi janin setelah satu kali paparan.

  3. 3. Utamakan udara yang lebih bersih

    Saat abu masih beterbangan, batasi aktivitas outdoor dan pilih ruangan yang tidak berabu. Tutup pintu serta jendela, tetapi pastikan ruangan tidak menjadi terlalu panas. Hindari asap rokok dan kegiatan yang menghasilkan banyak asap di dalam rumah.

    Sebaiknya minta bantuan orang lain untuk membersihkan endapan abu agar ibu tidak ikut terpapar selama pembersihan. Abu perlu dibersihkan secara hati-hati dengan metode lembap supaya tidak kembali beterbangan.

    Jika harus keluar, gunakan respirator N95 atau setara yang menutup hidung dan mulut dengan rapat.

    Apabila ibu hamil memiliki penyakit paru atau jantung, konsultasikan kesesuaian respirator dengan tenaga kesehatan.

    Segera cari pertolongan medis jika ibu hamil mengalami kesulitan bernapas, nyeri dada, atau pingsan. Gerakan janin yang berkurang dari biasanya, perdarahan dari vagina, atau cairan yang merembes dari vagina juga perlu segera diperiksa. Ini adalah tanda bahaya kehamilan.

    Kalau harus mengungsi, bawa obat, catatan pemeriksaan kehamilan, dan informasi fasilitas persalinan tujuan. Pastikan petugas mengetahui bahwa kamu sedang hamil agar pemeriksaan serta kebutuhan persalinan tetap terencana.

    Referensi

    International Volcanic Health Hazard Network, “Health Impacts of Volcanic Ash: A Guide for the Public,” diakses 7 September 2026.

    Ana Ines Balsa, Marcelo Caffera, dan Juanita Bloomfield, “Exposures to Particulate Matter from the Eruptions of the Puyehue Volcano and Birth Outcomes in Montevideo, Uruguay,” Environmental Health Perspectives 124, no. 11 (2016): 1816–22, https://doi.org/10.1289/EHP235.

    International Volcanic Health Hazard Network, “Protection from Breathing Ash,” diakses 7 September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Wildfire Smoke and Pregnancy,” diakses 7 September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Recognizing Urgent Pregnancy-Related Warning Signs,” diakses 7 September 2026.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More