Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Abu Vulkanik Belum Hilang, Amankah Tetap Berolahraga?

Abu Vulkanik Belum Hilang, Amankah Tetap Berolahraga?
ilustrasi olahraga outdoor (pexels.com/Muhamad Guruh Budi Hartono)
  • Jika abu masih melayang atau beterbangan kembali, olahraga berat di luar ruangan belum aman meskipun erupsi telah mereda.

  • Tidak ada waktu tunggu yang berlaku untuk semua letusan. Perhatikan arahan resmi, kualitas udara, kondisi sekitar, dan gejala tubuh.

  • Mulailah kembali dengan latihan ringan dan singkat. Penderita asma, penyakit paru, atau penyakit jantung perlu lebih berhati-hati.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sepatu olahraga sudah disiapkan, tetapi teras dan dedaunan masih diselimuti lapisan abu. Langit mungkin tampak lebih terang setelah erupsi mereda. Namun, udara yang terlihat tenang belum tentu bebas dari partikel.

Abu vulkanik yang telah mengendap dapat terangkat kembali oleh angin, kendaraan, aktivitas warga, atau proses pembersihan. Endapan abu yang kering dapat berubah kembali menjadi awan debu, bahkan lama setelah hujan abu berhenti.

Jika abu masih terlihat melayang, udara terasa berdebu, atau permukaan jalan mengeluarkan debu ketika dilintasi kendaraan, latihan berat di luar ruangan sebaiknya ditunda demi kesehatan.

  1. Olahraga membuat lebih banyak udara masuk ke paru-paru

    Ketika berolahraga, tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen. Napas menjadi lebih cepat dan dalam sehingga volume udara—beserta partikel di dalamnya—yang masuk ke saluran pernapasan ikut bertambah.

    Pada intensitas tinggi, kamu juga lebih banyak bernapas melalui mulut. Cara ini melewati sebagian fungsi penyaringan alami hidung. Kombinasi peningkatan ventilasi, durasi paparan, dan konsentrasi polutan dapat meningkatkan dosis pencemar yang terhirup selama olahraga.

    Menurut penelitian terhadap anak-anak di Montserrat setelah erupsi Soufrière Hills di Kepulauan Karibia, prevalensi penyempitan saluran napas yang dipicu olahraga ditemukan sekitar 4 kali lebih tinggi pada anak berusia 8–12 tahun yang sedang terpapar abu berat dibandingkan kelompok dengan paparan rendah.

    Temuan tersebut memperkuat alasan untuk membatasi lari, bersepeda cepat, sepak bola, atau aktivitas berat lain ketika abu masih berada di udara.

  2. Kapan bisa olahraga di luar ruangan lagi?

    Kondisi setiap letusan berbeda, sedangkan sebaran abu dipengaruhi oleh jumlah material, arah angin, cuaca, dan aktivitas di permukaan.

    Gunakan empat tanda berikut sebelum kembali berolahraga di luar ruangan:

    • Hujan abu sudah berhenti dan tidak ada abu yang kembali beterbangan. Jangan hanya melihat langit. Perhatikan debu yang muncul ketika angin bertiup atau kendaraan melintas.
    • Tidak ada peringatan atau larangan yang berlaku di lokasi latihan. Ikuti informasi dari sumber resmi. Berakhirnya hujan abu tidak otomatis berarti seluruh bahaya erupsi telah berlalu.
    • Kualitas udara telah membaik. BMKG menyediakan pemantauan PM2.5 dengan kategori Baik, Sedang, Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat, dan Berbahaya. Kategori Baik dapat menjadi salah satu tanda untuk mulai beraktivitas, tetapi tetap harus dibaca bersama kondisi lokal dan arahan petugas.
    • Tidak ada keluhan pernapasan. Batuk, tenggorokan perih, mengi, dada terasa sesak, atau napas lebih pendek dari biasanya menunjukkan bahwa saluran napas masih teriritasi.

    Pemantauan PM2.5 bukan satu-satunya penentu. Sebagian abu berada dalam kelompok partikel PM10 atau berukuran lebih besar. Udara sekitar gunung juga dapat mengandung gas serta aerosol vulkanik yang tidak tergambar dalam angka PM2.5.

  3. Gunakan kategori udara untuk mengatur latihan

    Ilustrasi pemeriksaan kualitas udara melalui aplikasi pada ponsel untuk memantau kondisi udara sekitar.
    ilustrasi memeriksa kualitas udara lewat aplikasi (magnific.com/magnific)

    Sebagai panduan umum untuk pencemaran partikel, U.S. Environmental Protection Agency memberikan rekomendasi berikut:

    • Baik: aktivitas di luar umumnya dapat dilakukan apabila tidak ada hujan abu, peringatan resmi, atau gejala.
    • Sedang: orang yang sensitif terhadap polusi sebaiknya memperpendek durasi dan menurunkan intensitas latihan.
    • Tidak Sehat atau lebih buruk: tunda latihan luar ruangan dan pindahkan aktivitas ke tempat dengan udara yang lebih bersih.

    Kategori dari sistem yang berbeda dapat menggunakan ambang angka yang tidak sama. Karena itu, gunakan nama kategori serta keterangan kesehatan dari sumber resmi.

  4. Kembali berolahraga secara bertahap

    Sesi pertama tidak perlu langsung berupa lari jarak jauh atau latihan interval. Mulailah dengan jalan santai, latihan mobilitas, atau latihan kekuatan ringan. Pilih intensitas yang masih memungkinkan berbicara dalam kalimat lengkap tanpa terengah-engah.

    Jika tidak muncul batuk, mengi, dada sesak, atau sesak napas yang tidak biasa selama maupun setelah latihan, durasi dan intensitas dapat ditambah secara bertahap pada sesi berikutnya. Jika kondisi luar belum bersih, latihan dapat dilakukan di ruangan yang tidak kemasukan abu. Penyaring udara HEPA dapat membantu mengurangi partikel di dalam ruangan.

    Gunakan respirator N95 saat seseorang harus berada di luar ketika abu masih ada. Namun, N95 hanya menyaring partikel dan tidak melindungi dari gas vulkanik. Karena itu, memakai N95 tidak dapat dijadikan satu-satunya alasan untuk melakukan latihan berat di udara yang masih tercemar.

    Pasien asma, penyakit paru obstruktif kronis, atau penyakit jantung perlu menunggu hingga kondisinya benar-benar terkendali. Gunakan obat sesuai rencana pengobatan dokter dan sediakan inhaler pereda jika diresepkan.

    Hentikan aktivitas dan segera masuk ke tempat yang udaranya lebih bersih jika muncul batuk terus-menerus, mengi, dada terasa tertekan, pusing, jantung berdebar, atau sesak yang tidak sebanding dengan intensitas latihan. Nyeri dada, sulit berbicara karena kehabisan napas, bibir membiru, kebingungan, atau pingsan memerlukan pertolongan medis segera.

    Tolok ukur untuk kembali berolahraga bukan cuma berapa lama waktu yang telah berlalu sejak erupsi, melainkan seberapa bersih udara yang benar-benar akan dihirup.

    Referensi

    U.S. Geological Survey, “Remobilization of Ash by Wind,” diakses September 2026.

    Luisa V. Giles and Michael S. Koehle, “The Health Effects of Exercising in Air Pollution,” Sports Medicine 44, no. 2 (2014): 223–49, https://doi.org/10.1007/s40279-013-0108-z.

    Lindsay J. L. Forbes et al., “Volcanic Ash and Respiratory Symptoms in Children on the Island of Montserrat, British West Indies,” Occupational and Environmental Medicine 60, no. 3 (2003): 207–11, https://doi.org/10.1136/oem.60.3.207.

    International Volcanic Health Hazard Network, “Health Impacts of Volcanic Ash,” diakses September 2026.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, “Konsentrasi Partikulat (PM2.5),” diakses September 2026.

    U.S. Environmental Protection Agency, Air Quality Guide for Particle Pollution, EPA-452/F-23-002 (February 2023), diakses September 2026.

    International Volcanic Health Hazard Network, “Health Impacts of Volcanic Gases,” diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Safety Guidelines: During a Volcanic Eruption,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More