Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Abu Vulkanis di Rumah, IDAI: Jauhkan Anak Saat Membersihkannya

Abu Vulkanis di Rumah, IDAI: Jauhkan Anak Saat Membersihkannya
ilustrasi membersihkan rumah dari abu vulkanis (pexels.com/AnnushkaAhuja)
  • Abu yang mengendap dapat kembali beterbangan saat disapu kering atau tertiup kipas.

  • Anak dengan asma, penyakit paru kronis, atau penyakit jantung bawaan memerlukan perhatian khusus.

  • Napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen perlu segera ditangani.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat ada paparan abu vulkanis dampak dari erupsi gunung berapi, banyak orang tua langsung melindungi anggota keluarga di rumah. Anak bermain di dalam rumah, sementara orang tua mulai bersih-bersih lapisan abu lantai dan benda-benda lainnya.

Memang langkah-langkah tersebut tujuannya melindungi keluarga, tetapi caranya tetap perlu memperhatikan aspek keamanan. Salah satunya, hindari menyapu abu dalam keadaan kering justru dapat membuat partikelnya kembali beterbangan dan terhirup. Cara yang dianjurkan adalah endapan abu dibasahi secukupnya sebelum dibersihkan.

Dalam sebuah rilis yang diterima IDN Times pada Senin (7/9), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua untuk menjauhkan anak saat membersihkan abu. Perlindungan terhadap anak perlu mencakup udara di dalam rumah, termasuk mencegah abu yang sudah mengendap kembali terangkat.

  1. Abu yang terhirup dapat memicu gangguan pernapasan

    Partikel halus abu dapat masuk ke paru-paru dan mengiritasi saluran napas. Keluhannya antara lain batuk, hidung berair, dan rasa tidak nyaman saat bernapas. Anak dengan asma dapat mengalami mengi—bunyi seperti siulan saat bernapas—atau sesak.

    “Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya,” kata Ketua UKK Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi(K), dalam rilis tersebut.

    Eksaserbasi berarti kondisi penyakit yang tiba-tiba memburuk. IDAI juga menyoroti anak dengan penyakit jantung bawaan serta bayi dengan displasia bronkopulmonal, penyakit paru kronis yang terutama dialami bayi prematur.

    Penelitian pada anak sekolah di Montserrat yang diterbitkan dalam jurnal Occupational and Environmental Medicine menemukan bahwa, pada kelompok usia 12 tahun ke bawah, keluhan mengi lebih banyak dilaporkan pada anak yang pernah mengalami paparan abu sedang atau tinggi dibandingkan paparan rendah. Walaupun studi ini tidak bisa langsung digunakan untuk menghitung risiko anak di Indonesia, tetapi temuannya menunjukkan hubungan antara paparan abu dan gangguan pernapasan.

  2. Jauhkan anak saat membersihkan abu vulkanis di rumah

    Pindahkan anak ke ruangan yang bersih dan tidak sedang dibersihkan. Gunakan lap lembap untuk permukaan furnitur dan pembersihan basah untuk lantai. Hindari menyapu kering, serta jangan mengarahkan kipas ke permukaan yang masih berabu karena partikelnya dapat kembali terangkat.

    Saat udara luar buruk, tutup pintu dan jendela. IDAI juga menyarankan menutup saluran masuk udara luar pada sistem pendingin atau ventilasi dan menggunakan mode sirkulasi ulang bila tersedia. Anjuran ini berkaitan dengan sistem yang memasukkan udara luar ke rumah. Jauhkan pula anak dari asap rokok dan asap dapur.

  3. Masker menjadi perlindungan tambahan ketika harus keluar

    Seorang ibu memakaikan masker pada anak untuk menjaga kesehatan pernapasannya.
    ilustrasi ibu memakaikan masker pada anak (magnific.com/wirestock)

    IDAI menganjurkan masker untuk anak berusia lebih dari 2 tahun, dengan ukuran yang sesuai dan pemasangan yang baik.

    Bayi dan anak usia di bawah 2 tahun tidak boleh dipakaikan masker. Masker yang longgar atau sering dilepas akan mengurangi manfaatnya.

    Batasi waktu di luar, gunakan pelindung mata dan pakaian tertutup, lalu bersihkan diri serta ganti pakaian setelah kembali. Untuk anak dengan asma, siapkan obat rutin dan obat pereda sesuai petunjuk dokter.

    IDAI meminta orang tua segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika napasnya menjadi cepat, dinding dada tertarik ke dalam saat bernapas, atau saturasi oksigen terbaca di bawah 94 persen. Anak yang tampak sesak tetap perlu segera diperiksa meskipun orang tua tidak memiliki oksimeter.

    Referensi

    International Volcanic Health Hazard Network, “Health Impacts of Volcanic Ash: A Guide for the Public,” diakses 7 September 2026.

    L. Forbes, D. Jarvis, J. Potts, dan P. J. Baxter, “Volcanic Ash and Respiratory Symptoms in Children on the Island of Montserrat, British West Indies,” Occupational and Environmental Medicine 60, no. 3 (2003): 207–11, https://doi.org/10.1136/oem.60.3.207.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Wildfire Smoke and Children,” diakses 7 September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More