Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
TTS hingga Mahjong, 5 Permainan yang Menyehatkan Otak Orang Dewasa
ilustrasi orang dewasa bermain mahjong (unsplash.com/Jason Leung)
  • Permainan seperti TTS, mahjong, Go, latihan kognitif digital, dan catur dapat melatih memori, penalaran, strategi, serta kecepatan memproses informasi.

  • Studi pada lansia atau peserta dengan gangguan kognitif ringan menunjukkan sejumlah perbaikan kognitif, tetapi ukuran sampel dan manfaatnya berbeda menurut permainan serta kemampuan yang diukur.

  • WHO merekomendasikan stimulasi kognitif dan kegiatan sosial untuk mengurangi risiko penurunan kognitif, namun permainan belum terbukti mencegah demensia atau menggantikan pemeriksaan medis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sore hari, sebagian orang mengisi waktu dengan mengerjakan teka-teki silang, bermain catur, atau membuka permainan di smartphone. Aktivitas itu bisa menjadi hiburan sekaligus tantangan bagi pikiran. Namun, apakah permainan tertentu benar-benar membuat otak lebih sehat?

Menurut sejumlah penelitian, permainan dapat membantu melatih kemampuan tertentu, misalnya memori kerja, penalaran, atau kecepatan memproses informasi, meski tidak otomatis mencegah penyakit seperti Alzheimer atau demensia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan stimulasi kognitif dan kegiatan sosial sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko penurunan kognitif dan demensia. Rekomendasi itu mencakup kegiatan yang merangsang pikiran.

Berikut beberapa pilihan permainan yang telah diteliti dan relatif mudah diakses.

1. Teka-teki silang

ilustrasi mengerjakan teka-teki silang (pexels.com/cottonbro studio)

Teka-teki silang (TTS) dapat ditemukan di koran, buku kumpulan soal, hingga aplikasi. Untuk mengisi satu kotak, pemain perlu mengingat kata, memahami petunjuk, lalu mencocokkan jawaban dengan huruf yang sudah terisi. Proses ini melibatkan ingatan dan kemampuan berbahasa.

Salah satu uji klinis mengikutsertakan 107 orang dengan gangguan kognitif ringan. Peserta dibagi untuk berlatih TTS digital atau permainan kognitif berbasis web. Setelah pemantauan selama 78 minggu, kelompok TTS menunjukkan hasil yang lebih baik pada ukuran kognisi utama dibandingkan kelompok permainan digital.

Hasil ini menarik, tetapi perlu dilihat dalam konteksnya. Peserta penelitian mengalami gangguan kognitif ringan, bukan orang dewasa sehat, dan studi ini membandingkan dua jenis latihan otak, bukan dengan kelompok yang tidak berlatih sama sekali. Karena itu, temuan ini belum membuktikan bahwa rutin mengisi TTS dapat mencegah demensia.

2. Mahjong

Mahjong dimainkan dengan mencocokkan dan menyusun keping berdasarkan aturan tertentu. Pemain perlu mengingat keping yang telah keluar, menyusun strategi, dan menyesuaikan rencana ketika permainan berubah.

Dalam uji acak terhadap 56 lansia dengan gangguan kognitif ringan, kelompok yang bermain mahjong tiga kali seminggu selama 12 minggu menunjukkan perbaikan pada beberapa ukuran fungsi kognitif dan aktivitas sehari-hari.

Studi ini memberikan petunjuk bahwa mahjong bisa menjadi latihan kognitif yang menarik, terutama karena permainan ini menggabungkan ingatan, perencanaan, dan interaksi. Namun, dalam studi tersebut jumlah partisipannya sedikit dan hasilnya tidak otomatis berlaku bagi semua usia atau kondisi kesehatan.

Mahjong bisa dimainkan dengan keping fisik maupun versi digital.

3. Go

ilustrasi permainan go atau weiqi (pixabay.com/Lykaon)

Go, dikenal juga sebagai baduk, dimainkan dengan meletakkan batu hitam dan putih di papan untuk menguasai wilayah. Aturannya tampak sederhana, tetapi pemain perlu memperhatikan pola, memperkirakan langkah lawan, dan mengingat posisi batu.

Dalam sebuah uji acak yang melibatkan 72 orang dewasa lansia, peserta mengikuti pelajaran Go selama 12 minggu. Kemampuan memori kerja visual membaik pada kelompok yang berlatih bersama maupun kelompok yang berlatih menggunakan tablet. Perubahan pada kelompok yang bermain tatap muka lebih besar pada salah satu ukuran tes.

Bagi yang belum memiliki papan atau teman bermain, Go dapat dipelajari melalui permainan digital.

4. Permainan latihan kognitif digital

Permainan kognitif digital biasanya berisi latihan singkat untuk mengingat pola, memilah informasi, memecahkan soal, atau merespons rangsangan dengan cepat. Permainan seperti ini mudah dijumpai melalui smartphone atau komputer.

Metaanalisis terhadap 16 studi dengan total 1.543 peserta berusia di atas 60 tahun menemukan perbaikan pada beberapa kemampuan setelah latihan menggunakan permainan kognitif digital komersial. Perubahan terlihat pada kecepatan memproses informasi, memori kerja, fungsi eksekutif, dan memori verbal. Namun, penelitian itu tidak menemukan perbaikan yang bermakna pada perhatian atau kemampuan visuospasial.

Artinya, hasil latihan bisa lebih terasa pada kemampuan yang memang dilatih. Tidak semua aplikasi memiliki bukti penelitian yang sama, dan peningkatan skor dalam sebuah permainan belum tentu membuat kegiatan sehari-hari menjadi lebih mudah.

5. Catur dan permainan papan lainnya

ilustrasi bermain catur (pexels.com/Vlada Karpovich)

Catur bisa dimainkan dengan papan maupun aplikasi. Permainan ini meminta pemain mempertimbangkan beberapa langkah ke depan, mengingat posisi buah, dan menyesuaikan strategi.

Tinjauan sistematis dan metaanalisis terhadap permainan papan tradisional menemukan perbaikan pada sejumlah ukuran kognisi umum dalam studi-studi yang ditelaah. Namun, hasilnya berbeda menurut jenis permainan dan kemampuan yang diukur. Dalam tinjauan itu, misalnya, mahjong dan Go menunjukkan manfaat pada beberapa tes kognitif, sedangkan catur lebih jelas berkaitan dengan kualitas hidup pada kelompok lanjut usia.

Karena itu, catur tetap bisa dipilih sebagai kegiatan yang menantang pikiran dan dapat dimainkan bersama orang lain. Namun, bukti yang ada belum cukup untuk menyatakan bahwa catur secara khusus mencegah demensia atau memperbaiki semua aspek kognisi.

Permainan bukan satu-satunya cara menjaga kesehatan otak

Penelitian jangka panjang terhadap 1.091 orang dewasa di Skotlandia menemukan bahwa kebiasaan bermain permainan analog berkaitan dengan penurunan kognitif yang lebih kecil pada usia lanjut. Namun, penelitian observasional seperti ini hanya menunjukkan hubungan.

Sebagian besar bukti tentang permainan dan kognisi berasal dari kelompok lanjut usia atau orang dengan gangguan kognitif ringan. Karena itu, manfaat yang sama belum tentu berlaku dengan cara yang sama pada orang dewasa muda atau paruh baya. Penelitian juga belum menetapkan satu durasi bermain yang paling tepat untuk semua orang.

Kamu bisa main TTS, catur, permainan kartu, atau permainan kognitif di smartphone. Anggap permainan sebagai salah satu bentuk stimulasi pikiran dan hiburan. Tetapi ingat, ini bukan pengganti pemeriksaan atau perawatan jika kamu mengalami masalah ingatan yang mengganggu keseharian.

Referensi

World Health Organization, “New WHO Guidelines: Up to 45% of Dementia Risk Could Be Prevented or Delayed,” July 15, 2026, https://www.who.int/news/item/15-07-2026-new-who-guidelines--up-to-45--of-dementia-risk-could-be-prevented-or-delayed.

D. P. Devanand et al., “Computerized Games versus Crosswords Training in Mild Cognitive Impairment,” NEJM Evidence 1, no. 12 (2022), https://doi.org/10.1056/EVIDoa2200121.

Han Zhang et al., “Playing Mahjong for 12 Weeks Improved Executive Function in Elderly People With Mild Cognitive Impairment,” Frontiers in Neurology 11 (2020): 178, https://doi.org/10.3389/fneur.2020.00178.

Ai Iizuka et al., “Does Social Interaction Influence the Effect of Cognitive Intervention Program? A Randomized Controlled Trial Using Go Game,” International Journal of Geriatric Psychiatry 34, no. 2 (2019): 324–32, https://doi.org/10.1002/gps.5024.

Bruno Bonnechère, Christelle Langley, and Barbara Jacquelyn Sahakian, “The Use of Commercial Computerised Cognitive Games in Older Adults: A Meta-Analysis,” Scientific Reports 10 (2020): 15276, https://doi.org/10.1038/s41598-020-72281-3.

Federico Emanuele Pozzi et al., “Can Traditional Board Games Prevent or Slow Down Cognitive Impairment? A Systematic Review and Meta-Analysis,” Journal of Alzheimer’s Disease 95, no. 3 (2023): 829–45, https://doi.org/10.3233/JAD-230473.

Drew M. Altschul and Ian J. Deary, “Playing Analog Games Is Associated with Reduced Declines in Cognitive Function: A 68-Year Longitudinal Cohort Study,” The Journals of Gerontology: Series B 75, no. 3 (2020): 474–82, https://doi.org/10.1093/geronb/gbz149.

Curated For You

Editorial Team

Related Article