Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Olahraga Terbaik untuk Menurunkan Kolesterol, Apa Saja?

Olahraga Terbaik untuk Menurunkan Kolesterol, Apa Saja?
ilustrasi jalan kaki di taman kota (pexels.com/Nguyễn Viết Minh Lâm)
Intinya Sih
  • Olahraga rutin terbukti membantu menurunkan kolesterol jahat, meningkatkan kolesterol baik, serta memperbaiki metabolisme lemak dan sensitivitas insulin untuk menjaga kesehatan jantung.

  • Tujuh olahraga efektif termasuk jalan cepat, lari, bersepeda, renang, latihan beban, HIIT, dan aktivitas fisik harian yang konsisten untuk hasil metabolik optimal.

  • Perubahan profil lipid biasanya terlihat setelah 8–12 minggu latihan teratur disertai pola makan sehat, tidur cukup, dan kebiasaan aktif sepanjang hari.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kolesterol tinggi sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Banyak orang baru menyadari kadarnya meningkat setelah menjalani medical check-up dan melihat angka LDL atau trigliserida melewati batas normal.

Saat mendengar kata “kolesterol”, perhatian biasanya langsung tertuju pada makanan seperti gorengan, santan, jeroan, daging berlemak, atau sate kambing. Padahal kesehatan metabolik tidak hanya ditentukan oleh apa yang kamu makan, tetapi juga seberapa aktif kamu bergerak setiap hari. Nah, di sinilah olahraga berperan penting, yang sayangnya sering diremehkan.

Aktivitas fisik bukan cuma membantu membakar kalori, tetapi juga memengaruhi cara tubuh mengelola lemak, meningkatkan sensitivitas insulin, menjaga fungsi pembuluh darah, dan membantu memperbaiki profil kolesterol secara keseluruhan. Karena alasan inilah berbagai pedoman kesehatan menempatkan olahraga rutin sebagai bagian utama perubahan gaya hidup untuk membantu mengontrol kadar kolesterol dan menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang.

Table of Content

Bagaimana olahraga membantu menurunkan kolesterol?

Bagaimana olahraga membantu menurunkan kolesterol?

Tubuh butuh kolesterol untuk membentuk hormon, vitamin D, dan membran sel. Yang jadi masalah adalah saat kadarnya tidak seimbang, terutama jika:

  • Low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat terlalu tinggi.
  • High-density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik terlalu rendah.
  • Trigliserida meningkat.

Aktivitas fisik rutin dapat membantu meningkatkan HDL, menurunkan trigliserida, dan memperbaiki profil lipid secara keseluruhan.

Olahraga juga membantu mengurangi lemak viseral, yaitu lemak yang menumpuk di sekitar organ dalam dan sangat berkaitan dengan gangguan metabolik.

Menariknya, manfaat ini tidak selalu bergantung pada olahraga ekstrem. Aktivitas moderat yang konsisten justru sering memberi dampak paling realistis dan berkelanjutan. Berikut ini rekomendasi olahraga yang bisa membantu menurunkan kolesterol.

1. Jalan cepat

Jalan kaki sering diremehkan karena dianggap bukan olahraga. Padahal dalam banyak penelitian, brisk walking atau jalan cepat termasuk intervensi paling efektif dan paling mudah dipertahankan untuk kesehatan jantung.

Jalan cepat bermanfaat untuk:

  • Meningkatkan penggunaan lemak sebagai energi.
  • Memperbaiki sensitivitas insulin.
  • Meningkatkan kebugaran kardiovaskular.

Menurut penelitian, berjalan dan berlari sama-sama berkaitan dengan penurunan risiko hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi bila energi yang dikeluarkan setara.

Yang membuat jalan kaki menarik adalah aksesibilitasnya, yang artinya tidak perlu ke gym, relatif aman untuk pemula, dan lebih mudah dilakukan konsisten.

Rekomendasi praktisnya adalah lakukan jalan cepat selama 30–45 menit, lima kali per minggu, dan intensitasnya cukup cepat hingga napas sedikit lebih berat tetapi masih bisa berbicara.

2. Lari dan joging

Seorang pria berlari di jalur taman yang rindang dengan pepohonan hijau di sekitarnya pada suasana pagi yang tenang.
ilustrasi jogging di taman (pexels.com/Taryn Elliott)

Lari membantu tubuh menggunakan energi dalam jumlah besar dan meningkatkan kapasitas kardiorespirasi.

Pada banyak orang, lari rutin membantu:

  • Menurunkan trigliserida.
  • Meningkatkan HDL.
  • Membantu pengendalian berat badan.

Makin baik kebugaran kardio, umumnya makin baik pula profil metabolik kamu.

Penelitian menunjukkan kebugaran kardiorespirasi tinggi berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah. Namun, bukan berarti semua orang harus langsung lari intens. Bagi pemula, kombinasi jalan cepat, easy jog, dan peningkatan bertahap dianggap lebih aman dibandung langsung memaksakan latihan berat.

3. Bersepeda

Bersepeda menjadi pilihan bagus terutama untuk orang dengan obesitas, nyeri lutut ringan, atau individu yang kesulitan lari.

Karena low-impact, tekanan pada sendi lebih rendah dibanding lari. Namun, secara metabolik efeknya tetap kuat.

Bersepeda membantu:

  • Meningkatkan pembakaran energi.
  • Memperbaiki fungsi jantung.
  • Meningkatkan sensitivitas insulin.

Baik sepeda outdoor maupun sepeda statis dapat bermanfaat jika dilakukan secara rutin.

4. Renang

Renang melibatkan banyak kelompok otot sekaligus sambil memberi tekanan minimal pada persendian. Ini membuat renang cocok untuk lansia, orang yang kelebihan berat badan, atau orang dengan masalah muskuloskeletal tertentu.

Penelitian menunjukkan olahraga aerobik berbasis air dapat membantu memperbaiki profil lipid dan kebugaran jantung. Selain itu, renang membantu meningkatkan kapasitas paru dan endurance secara keseluruhan.

5. Latihan beban

Seorang perempuan berolahraga di rumah dengan posisi plank sambil memegang dua dumbbell di atas matras hitam di ruang tamu.
ilustrasi latihan beban (pexels.com/MART PRODUCTION)

Masih banyak orang mengira latihan beban hanya untuk membentuk otot, padahal resistance training membantu meningkatkan massa otot, memperbaiki metabolisme glukosa, dan mendukung pengelolaan lemak tubuh.

Makin baik massa otot kamu, makin baik tubuh menggunakan energi bahkan saat sedang beristirahat.

Para ahli merekomendasikan kombinasi latihan aerobik dan latihan kekuatan untuk kesehatan metabolik yang optimal.

Contoh latihan sederhananya antara lain:

  • Squat.
  • Lunges.
  • Push-up.
  • Resistance band.
  • Dumbel ringan.

6. Latihan HIIT

High-intensity interval training (HIIT) menjadi populer karena durasinya singkat namun intens. Latihan ini biasanya berupa interval cepat dan diselingi recovery singkat.

Beberapa penelitian menunjukkan HIIT dapat membantu:

  • Meningkatkan VO2 max.
  • Memperbaiki sensitivitas insulin.
  • Membantu penurunan trigliserida.

Namun, intensitas tinggi membuat metode ini tidak ideal untuk semua orang, terutama pada pemula, individu dengan penyakit jantung tertentu, atau orang yang lama tidak aktif.

Karena itu, fondasi kebugaran tetap penting sebelum mencoba latihan sangat intens.

Aktivitas fisik harian juga berpengaruh

Salah satu hal yang mulai banyak dibahas peneliti adalah bahwa duduk terlalu lama memiliki efek metabolik. Artinya, olahraga 1 jam tidak otomatis menghilangkan efek perilaku sedenter (banyak duduk atau rebahan) sepanjang hari.

Aktivitas sederhana seperti naik turun tangga, berjalan saat menelepon, berdiri lebih sering, berdiri lebih sering, dan berjalan setelah makan tetap memberi kontribusi penting bagi kesehatan metabolik.

Berapa lama kolesterol bisa mulai turun?

Seseorang memegang tablet yang menampilkan hasil tes kolesterol dengan tabel kadar kolesterol dan secangkir kopi di meja kayu.
ilustrasi cek kolesterol (magnific.com/rawpixel.com)

Perubahan profil lipid biasanya tidak terjadi dalam hitungan hari. Menurut banyak studi, perbaikan mulai terlihat setelah sekitar 8–12 minggu olahraga rutin, terutama jika disertai:

  • Perbaikan pola makan.
  • Tidur cukup.
  • Penurunan berat badan bila diperlukan.

Konsistensi jauh lebih penting dibanding olahraga beberapa sesekali.

Olahraga merupakan salah satu cara paling efektif dan paling konsisten untuk membantu memperbaiki profil kolesterol dan kesehatan jantung secara keseluruhan.

Jalan cepat, joging, bersepeda, renang, hingga latihan beban semuanya memiliki manfaat berbeda bagi metabolisme tubuh. Tidak ada satu olahraga yang wajib untuk semua orang. Yang paling penting adalah memilih aktivitas yang realistis dilakukan rutin dalam jangka panjang. Ingat, tubuh lebih merespons kebiasaan yang konsisten dibanding usaha besar yang hanya bertahan beberapa minggu.

Referensi

American College of Sports Medicine. “Exercise and Physical Activity Recommendations.” Diakses Mei 2026.

American Heart Association. “Getting Active to Control Cholesterol.” Diakses Mei 2026.

Paul T. Williams and Paul D. Thompson, “Walking Versus Running for Hypertension, Cholesterol, and Diabetes Mellitus Risk Reduction,” Arteriosclerosis Thrombosis and Vascular Biology 33, no. 5 (April 5, 2013): 1085–91, https://doi.org/10.1161/atvbaha.112.300878.

World Health Organization. “Physical Activity.” Diakses Mei 2026.

Robert Ross et al., “Importance of Assessing Cardiorespiratory Fitness in Clinical Practice: A Case for Fitness as a Clinical Vital Sign: A Scientific Statement From the American Heart Association,” Circulation 134, no. 24 (November 22, 2016): e653–99, https://doi.org/10.1161/cir.0000000000000461.

M. Wewege et al., “The Effects of High‐intensity Interval Training Vs. Moderate‐intensity Continuous Training on Body Composition in Overweight and Obese Adults: A Systematic Review and Meta‐analysis,” Obesity Reviews 18, no. 6 (April 11, 2017): 635–46, https://doi.org/10.1111/obr.12532.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Mayang Ulfah Narimanda
Nuruliar F
3+
Mayang Ulfah Narimanda
EditorMayang Ulfah Narimanda

Related Articles

See More