lagu Mardua Holong yang viral di medsos (tiktok.com)
Budaya Batak tidak cuma menjamur di layar bioskop. Jauh sebelum itu, lagu-lagu Batak juga familier di kalangan pendengar umum. Pada era 1950-an dan 1960-an, ada sosok Gordon Tobing yang dikenal lewat lagu-lagu Batak-nya dan memperkenalkan musik Indonesia lewat berbagai misi kebudayaan di luar negeri.
Kini, lagu-lagu Batak kembali menemukan ruang di kalangan generasi muda. Salah satu contoh yang kembali ramai adalah “Mardua Holong”, lagu yang dipopulerkan Omega Trio. Lagu bertema pengkhianatan dalam hubungan tersebut kerap digunakan untuk konten galau dan kisah percintaan di media sosial. Pada 2026, “Songon Bulan” juga menjadi sound untuk tren video parodi di TikTok. Pengguna membuat konten seolah-olah sedang menjalani proses syuting video musik ala penyanyi Batak.
Bukan cuma ramai di media sosial. Area Terbatak-Batak di Pestapora 2026 juga menandai bahwa musik berbasis identitas daerah ini memiliki ruang dalam festival musik nasional. Festival tersebut juga menghadirkan nama-nama seperti trio Ucok Bongax, band punk Batak Punxgoaran, hingga Agak Laen untuk memimpin penonton menikmati lagu-lagu dari tanah Sumatra Utara tersebut.
Menurut Hikmat, lagu-lagu berbahasa daerah, termasuk Batak, disukai pendengar luas, karena kekuatan musik itu sendiri yang bisa menghubungkan setiap manusia tanpa batasan bahasa. Melodi dan emosi yang dihasilkan dari lagu tersebut membuat semua orang bisa menikmatinya walau tidak mengerti bahasanya.
“Saya gak perlu ngerti bahasanya sebagaimana dulu, waktu kecil saya gak ngerti bahasa Inggris, tapi kan ada hal yang sifatnya musikal gitu, ada hal yang sifatnya indrawi gitu ya, yang menyebabkan ada koneksi gitu dari berbagai etnik,” ujarnya.
Menriknya, musik Batak yang berkembang saat ini tidak hanya bergantung pada lagu-lagu lama yang kembali viral. Sejumlah musisi berusaha memadukan bahasa dan unsur musik Batak dengan genre modern agar tetap relevan bagi pendengar muda. Salah satunya Siantar Rap Foundation (SRF), grup hip-hop asal Pematangsiantar yang menggabungkan rap dengan identitas Batak.
Eksplorasi serupa dilakukan BATARA melalui single debut “Horas Ma Ito” yang dirilis pada September 2026. Grup ini menggabungkan unsur musik Batak dengan hipdut, termasuk penggunaan instrumen taganing, alat musik tradisional perkusi membranofon asal Sumatra Utara dari suku Batak Toba. Liriknya juga memadukan bahasa Indonesia, Batak, dan Inggris, dan mengangkat sinamot atau mahar dalam tradisi pernikahan Batak.
Hikmat melihat, ada rasa kepercayaan diri yang meningkat pada musisi dalam menggunakan bahasa daerah sebagai bagian dari perkembangan budaya pop Indonesia.
“Ada semacam rasa percaya diri yang lebih untuk membawa, membawakan lagu dengan syair bahasa daerah, dengan musik yang sangat modern gitu kan. Jadi gak hanya campur sari Jawa, gak hanya itu doang. Sudah muncul yang lain-lain. Padang ada, Aceh ada, Makassar ada, Papua ada, ya kan, malah ngetop gitu kan," ucap peneliti budaya yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua/Wakil Direktur di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2021–2023 ini.