Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hadapi Ekspektasi Publik, MARBLES Fokus pada Kritik yang Membangun

4 min read
Hadapi Ekspektasi Publik, MARBLES Fokus pada Kritik yang Membangun
potret MARBLES di kantor IDN, Jakarta, Rabu (14/10/2026)(dok. IDN Times/Rani Asnurida)
  • MARBLES menghadapi jadwal latihan yang makin intens setelah debut pada Juni 2026, alih-alih mendapat waktu istirahat usai sekitar tiga tahun masa training.
  • Sorotan dan ekspektasi publik membuat tantangan mental setelah debut terasa lebih berat; grup ini tetap mengasah kemampuan demi penampilan yang lebih baik.
  • MARBLES memilah komentar netizen: kritik tentang vokal dan tari dijadikan evaluasi, sementara komentar fisik dikesampingkan; dukungan positif dan masukan relevan menjadi motivasi berkembang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menjalani kehidupan sebagai idol ternyata gak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Dalam media visit di kantor IDN, Jakarta, Rabu (14/10/2026), MARBLES, girl group di bawah naungan A-List Entertainment mengungkapkan bahwa mereka masih harus menghadapi berbagai tantangan baru setelah resmi debut.

Alih-alih memiliki lebih banyak waktu untuk beristirahat setelah melewati proses training sekitar tiga tahun, Tiffany, Quilla, Daniella, Bebe, dan Kyka justru harus menjalani jadwal latihan yang semakin intens. Di sisi lain, mereka juga mulai merasakan ekspektasi publik yang semakin besar setelah karya dan penampilan mereka mendapat perhatian lebih luas.

Kepada IDN Times, Tiffany cs mengungkapkan berbagai cerita mengenai pengalaman mereka setelah debut, termasuk cara menghadapi komentar netizen yang beragam. Meski gak selalu menyenangkan, mereka tetap berusaha mengambil sisi positif dari setiap masukan dan tetap fokus mengembangkan kemampuan.

  1. 1. MARBLES gak nyangka aktivitas setelah debut justru makin padat dan harus hadapi ekspektasi publik

    Potret MARBLES di kantor IDN, Jakarta, pada Rabu, 14 Oktober 2026, dalam dokumentasi IDN Times oleh Rani Asnurida.
    potret MARBLES di kantor IDN, Jakarta, Rabu (14/10/2026)(dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Sebagai leader MARBLES, Tiffany mengungkapkan ia sempat membayangkan bahwa debut akan memberi mereka sedikit waktu untuk bernapas setelah melewati masa training yang padat. Tapi, kenyataan yang ia hadapi justru berbeda. Kesibukan mereka ternyata tidak berkurang. Pasalnya, para member harus tetap menjalani latihan intensif untuk terus mengasah kemampuan dan memberikan penampilan yang lebih baik lagi.

    “Aku kiranya kalau sudah debut itu kita punya waktu buat menarik napas bentar, bisa agak sedikit santai karena training-nya sudah padat banget. Ternyata habis debut kita juga makin padat, dan kita gak melepaskan training itu. Kita mau improve terus ke depannya,” ungkap Tiffany sambil tersenyum kecil.

    Tidak hanya itu, setelah resmi debut dengan merilis “Hompimpa” pada 12 Juni 2026 lalu, MARBLES juga mulai merasakan tantangan dari sisi mental yang terasa lebih berat dibandingkan ketika mereka masih menjalani masa training.

    Menurut Kyka, hal ini tidak terlepas dari posisi mereka yang kini sudah berada di hadapan publik. Jika sebelumnya lebih banyak berfokus pada persiapan dan pengembangan kemampuan, setelah debut mereka harus berhadapan dengan ekspektasi serta berbagai penilaian dari orang lain.

    “I think the mental struggle after debut itu lebih berat daripada pas training. Mungkin ekspektasi publik kali ya. Justru setelah debut, kita udah ada di public eye. Banyak ekspektasi dari publik yang secara gak langsung juga berefek ke kita.”

  2. 2. Hadapi ekspektasi publik, MARBLES fokus pada kritik yang membangun

    Potret MARBLES saat berada di kantor IDN di Jakarta pada Rabu, 14 Oktober 2026, didokumentasikan oleh IDN Times.
    potret MARBLES di kantor IDN, Jakarta, Rabu (14/10/2026)(dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Kyka memahami bahwa sebagai idol, setiap penampilan dan aspek dari diri mereka bisa menjadi sorotan publik. Meski begitu, MARBLES berusaha menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi untuk terus berkembang, terutama jika berkaitan dengan kemampuan bernyanyi dan menari.

    Meski begitu, Kyka menilai bahwa tidak semua komentar publik perlu dijadikan bahan evaluasi. Apalagi mengenai fisik berada di luar kendali mereka. Baginya, setiap orang memiliki kecantikan masing-masing dan MARBLES juga ingin merepresentasikan keberagaman kecantikan Indonesia.

    “Kalau kritik yang harus improve nyanyi, dance, or anything like that, it is a point that we have to improve untuk ke depannya. Tapi kalau sesuatu yang tidak bisa diubah, kayak fisik, yang mana kita harus merepresentasikan Indonesia, kecantikan Indonesia yang cantik, semua orang cantik. Jadi komentar-komentar itu justru harus kita kesampingkan,” lanjut Kyka.

  3. 3. Bebe tanggapi soal sepatu booth hijaunya yang sempat disorot netizen

    MARBLES berpose untuk potret di kantor IDN di Jakarta pada Rabu, 14 Oktober 2026.
    potret MARBLES di kantor IDN, Jakarta, Rabu (14/10/2026)(dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Beberapa member MARBLES juga memiliki pengalaman menerima komentar yang terasa cukup personal, terutama terkait penampilan mereka. Salah satunya datang dari Bebe yang mengaku masih mengingat komentar netizen tentang sepatu boots hijau yang dikenakannya. Menurut Bebe, alih-alih membahas penampilannya secara keseluruhan, komentar tersebut justru menyoroti pilihan alas kaki yang dianggap mirip sepatu pekerja bangunan.

    “Buat aku, yang paling membekas adalah sepatu boots aku yang warna hijau, itu katanya kayak sepatu bangunan,” kata Bebe yang sontak mengundang perhatian member lainnya hingga gercep menghiburnya dengan menepuk-nepuk punggungnya sebagai bentuk dukungan.

    Bebe mengaku bahwa sesekali, ia juga membaca komentar netizen di media sosial. Ia pun menyadari bahwa setiap orang memiliki pandangan dan ekspektasi yang berbeda. Oleh karena itu, Bebe berusaha untuk tidak membiarkan komentar negatif menghambat langkahnya. Menurutnya, kritik yang berkaitan dengan penampilan maupun kemampuan dapat dijadikan sebagai motivasi untuk terus berkembang selama disampaikan sebagai masukan yang dapat dievaluasi.

    “Semua orang punya ekspektasi yang berbeda. Bahkan ada satu momen satu, aku sama Kyka pas awal-awal dikritik karena dance. Terus aku sama Kyka langsung kayak, ‘Wah, gak bisa ini’ terus pada akhirnya malah jadi motivasi untuk kita.”

    Tiffany menambahkan, mereka juga menerima banyak dukungan positif. Oleh sebab itu, penting bagi para member untuk memilah komentar dan mengambil masukan yang bisa membantu mereka berkembang.

    “Banyak yang kasih support juga. Kita gak bisa mengharapkan respons seseorang, tapi kita harus pintar-pintar memilah apa yang bisa bikin kita menjadi lebih baik ke depannya.”

    Pada akhirnya, perjalanan MARBLES setelah debut bukan sebatas memperkenalkan karya mereka kepada publik, tetapi juga belajar menghadapi berbagai respons yang datang bersamaan dengan semakin luasnya perhatian terhadap mereka. Meski ekspektasi publik menjadi tantangan tersendiri, kelima member MARBLES tetap berusaha menjadikannya sebagai bagian dari proses bertumbuh.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More