Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

El Haq Latief Cerita Jam Kerja Seniman di London Kayak Orang Kantoran

El Haq Latief Cerita Jam Kerja Seniman di London Kayak Orang Kantoran
El Haq Latief saat ditemui pada Minggu (6/9/2026) (IDN Times/Elizabeth Chiquita)
  • El Haq Latief menilai seniman di London mendapat perlindungan kerja lebih rapi, termasuk upah minimum, jam kerja teratur, asuransi, fisioterapi, dan layanan kesehatan mental melalui iuran.
  • Menurut El Haq, jam kerja seniman di London cenderung seperti pekerja kantoran, pukul 10.00–18.00, berbeda dengan pola latihan di Indonesia yang sering berlangsung hingga malam.
  • Setelah lebih dari 800 pertunjukan Cabaret di London, El Haq menyebut penghasilan seniman cukup memenuhi kebutuhan dan berharap perlindungan serikat pekerja diterapkan di Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - El Haq Latief tengah dipercaya untuk menjadi koreografer dalam musikal Home Sweet Loan yang dipentaskan di Jakarta pada 30 September-18 Oktober 2026. El Haq sendiri merupakan seorang aktor musikal Indonesia yang telah berkiprah di London.

Pengalaman berkarier sebagai seniman di sana membuat El Haq Latief melihat ada perbedaan dalam hal kesejahteraan pekerja seni di Indonesia. Ia merasa, sistem yang berlaku di luar negeri membuat profesi seniman lebih terlindungi.

Saat bertemu dengan media pada Minggu (6/9/2026), El Haq membagikan cerita terkait keuntungan bekerja sebagai senimman di luar negeri. Jauh lebih terjamin dan berharap bisa diterapkan di Indonesia, berikut selengkapnya.

  1. 1. El Haq ungkap ada perlindungan lebih bagi para seniman di London

    El Haq Latief saat ditemui pada Minggu (6/9/2026)
    El Haq Latief saat ditemui pada Minggu (6/9/2026) (IDN Times/Elizabeth Chiquita)

    Aktif menjadi seniman di London dan sudah tampil lebih dari 800 show pertunjukan Cabaret, El Haq menyebut, pekerja seni di sana punya sistem bekerja yang lebih rapi. Selain itu, ada juga asuransi serta layanan fisioterapi dan terapi untuk kesehatan mental.

    “Jadi aktor dilindungi dan gak bisa dieksploitasi. Jadi kita juga ada minimum wage-nya, UMR-nya gitu, jam kerja per minggu diatur. Terus kayak BPJS-nya ada. Tapi tuh kita bayar, ada iurannya,” ujar El Haq kepada awak media di Jakarta, Minggu (6/9/2026).

    Ia berharap, sistem serupa bisa diterapkan bagi seniman di Indonesia. “Jadi tuh kayak semuanya tuh kita dapet asuransi gratis, karena kita bayar iuran dan kita dapet sesi fisioterapi dan terapi biasa untuk mental. Itu tuh aku pengin bikin di Indonesia, di sini."

  2. 2. Seniman di London punya jam kerja tetap

    El Haq Latief saat ditemui pada Minggu (6/9/2026)
    El Haq Latief saat ditemui pada Minggu (6/9/2026) (IDN Times/Elizabeth Chiquita)

    Selain perlindungan, El Haq juga menyoroti jam kerja seniman yang menurutnya lebih profesional ketika bekerja di sana. Ia menyebut pola kerjanya bahkan serupa dengan jam kantoran.

    “Kayak kita tuh kalau di sana, lebih ke jam kantoran. Well, 10 (pagi) to 6 (sore). Kalau di sini kan kita pasti dari siang ke malam atau gak sore ke malam. Ya biasa abis kerja, kalau memang hobinya, ikut komunitas musikal teater," jelasnya.

    Terlibat dalam produksi Home Sweet Loan The Musical, El Haq menyebut proses latihan pertunjukan tersebut berlangsung dari pukul 13.00 hingga 20.00 WIB.

  3. 3. Gaji seniman di London lebih menjanjikan

    El Haq Latief saat ditemui pada Minggu (6/9/2026)
    El Haq Latief saat ditemui pada Minggu (6/9/2026) (IDN Times/Elizabeth Chiquita)

    Dari sisi penghasilan, El Haq juga menilai bayaran seniman di sana cukup menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi jika punya pekerjaan tambahan lainnya.

    “Cukup, kayak, gajinya kayak kantoran biasa, sih. Kalau aku ngajar nari kan biar bisa jajan-jajan lucu aja,” ujarnya sambil tertawa.

    Pengalaman tersebut membuat El Haq berharap seniman Indonesia juga bisa mendapatkan sistem kerja yang lebih menjamin. Baginya, perlindungan melalui serikat pekerja dapat menjadi salah satu langkah agar profesi seniman tidak hanya dihargai secara karya, melainkan juga dari sisi kesejahteraan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More