5 Fakta Paths of Glory, Film yang Diangkat dari Peristiwa Souain

- Film Paths of Glory karya Stanley Kubrick menggambarkan tragedi nyata Perang Dunia I, menyoroti perintah bunuh diri dan ketidakadilan terhadap tentara Prancis yang dianggap pengecut.
- Cerita film ini diangkat dari Peristiwa Kopral Souain tahun 1915, ketika empat tentara dieksekusi atas perintah jenderal kejam setelah gagal merebut posisi Jerman.
- Paths of Glory menjadi simbol kritik terhadap keserakahan militer dan ketimpangan kekuasaan, sekaligus memperjuangkan pengakuan serta keadilan bagi korban perang yang difitnah pengecut.
Kira-kira apa yang harus dilakukan seorang prajurit ketika ia bisa ditembak oleh pihak sendiri maupun musuh? Inilah pertanyaan utama dari film epik Perang Dunia I karya Stanley Kubrick, Paths of Glory (1957). Film ini bisa dibilang sebagai salah satu film anti-perang terbaik yang pernah dibuat, karya salah satu sutradara paling berbakat dalam sejarah, dan dibintangi oleh aktor papan atas era 50-an dan 60-an, Kirk Douglas. Hingga kini, Paths of Glory masih dihormati karena masuk dalam daftar 250 film terbaik sepanjang masa versi IMDb.
Paths of Glory sendiri menceritakan kisah tragis dari sekelompok tentara Prancis yang gak mematuhi perintah selama Perang Dunia I. Nah, meski saat ini ada banyak film perang yang mengkritik perwira senior dari era tersebut, seperti 1917 (2019) dan War Horse (2011), kritik dalam film Paths of Glory jauh lebih blak-blakan dan mengecam.
Ketika Paths of Glory pertama kali dirilis pada tahun 50-an, Perang Dunia I masih menjadi topik yang sensitif. Nah, karena geram dengan karya Stanley Kubrick ini, Paths of Glory pun dilarang di Swis. Sementara di Prancis, distributor menolak untuk menayangkan film tersebut hingga tahun 1970-an, seperti yang dikutip The New York Times. Film ini menceritakan kebenaran yang didasarkan pada Peristiwa Kopral Souain tahun 1915.
1. Misi bunuh diri dalam film Paths of Glory

Paths of Glory bercerita tentang Jenderal Prancis bernama Georges Brourlard, yang bersembunyi dengan aman di rumah mewah nan jauh dari medan pertempuran. Tugasnya hanya memerintahkan pasukan Prancis untuk merebut posisi Jerman yang diincar, yang dikenal sebagai Bukit Semut. Nah, tanggung jawab untuk melaksanakan permintaan gila Brourlard diteruskan ke bawah atau ke tentara. Brourlard sendiri tahu kalau banyak tentara yang akan mati, tetapi dia sendiri gak ngasih rencana atau strategi apa pun. Dia hanya menyarankan agar bawahannya, Jenderal Mireau, menerjunkan pasukannya sebagai umpan.
Jenderal Mireau, menyadari risikonya tetapi berharap agar jabatannya naik, dan menyampaikan perintah tersebut kepada Kolonel Dax (diperankan Kirk Douglas). Kolonel Dax khawatir dengan perintah tersebut tapi nekat mengerjakan apa yang diperintahkan dan menginstruksikan anak buahnya untuk menyerbu ke arah senjata musuh. Mereka semua tahu kalau itu adalah tugas bunuh diri, mengingat akan ada banyak tentara yang tewas.
Setelah dibuka dengan aksi yang berdarah-darah, ada beberapa tentara Prancis yang gak mau mengikuti tentara-tentara yang lain. Mereka pun memilih untuk tetap bertahan di parit. Jenderal Mireau menanggapi pembangkangan ini dengan memerintahkan artileri Prancis untuk menyerang pasukannya sendiri. Namun perintah ini untungnya ditolak mentah-mentah.
Nah, saat rencana tersebut gak berhasil, Jenderal Mireau menuntut agar pasukannya diadili di pengadilan militer karena dianggap pengecut. Sisa film ini berfokus pada persidangan dan eksekusi yang absurd terhadap tiga tentara yang malang. Mereka disalahkan karena menolak mengikuti perintah yang gak dipikirkan matang-matang dan berisiko bunuh diri.
2. Paths of Glory diangkat dari peristiwa Kopral Souain

Meskipun nama-namanya diubah dalam film, dan ada empat tentara yang dieksekusi, bukan tiga, peristiwa yang digambarkan dalam film Paths of Glory sebagian besar akurat, lho. Cerita ini merupakan penceritaan ulang tentang upaya bunuh diri untuk merebut daerah sekitar Souain di Prancis Utara pada tahun 1915. Dalam film tersebut, Jenderal Mireau adalah pengganti Jenderal Réveilhac di dunia nyata, seorang komandan yang kejam dan memang memerintahkan untuk mengeksekusi pasukannya sendiri.
Tentara Prancis dikirim ke medan perang di Souain pada tiga kesempatan berbeda sebelum serangan terakhir, tapi mereka gagal berkali-kali. Upaya terakhir untuk maju diperintahkan pada 10 Maret, tetapi kelompok tentara yang disebut kompi ke-21 ini kembali mundur. Menurut sebuah artikel dari Time yang diterbitkan pada tahun 1930-an, tembakan artileri diperintahkan sebelumnya untuk membuka jalan bagi para tentara, tetapi eksekusinya buruk dan gak menghasilkan apa pun. Nah, karena gak punya pilihan lain, dan menghadapi senjata berat Jerman, para tentara terpaksa mundur.
Mengetahui kabar tersebut, Jenderal Réveilhac memerintahkan untuk mengeksekusi pasukannya sendiri, yang untungnya ditolak oleh operator artileri. Untuk menyelamatkan muka, ia memerintahkan empat tentara ditembak mati karena dianggap pengecut dalam pertempuran. Kekejian ini pun akhirnya terjadi.
Kisah ini kemudian digali kembali oleh majalah Prancis Crapouillot. Lalu diabadikan oleh penulis Humphrey Cobb dalam novelnya berjudul Paths of Glory, yang kurang terkenal dibandingkan adaptasi film garapan Stanley Kubrick dengan judul yang sama.
3. Paths of Glory menjadikan tragedi nyata itu dikenal banyak orang dan menciptakan keadilan bagi para korban

Meskipun Jenderal Réveilhac dicerca habis-habisan oleh pers Prancis karena perannya dalam kasus tersebut terungkap, jenderal itu sebenarnya gak pernah menerima konsekuensi atas tindakannya. Jadi, film Paths of Glory mengungkapkan ketidakadilan itu dengan gamblang. Di akhir film, Kirk Douglas mengekspresikan kemarahannya terhadap komando tinggi Prancis atas keegoisan, ketidakmampuan, dan ketidakmanusiaan mereka yang keterlaluan. Sambil berteriak kepada Jenderal Brourlard, Kolonel Dax menyebutnya sebagai "orang tua yang bejat dan sadis". Saat film mendekati akhir, Jenderal Mireau dikecam atas kejahatannya dan diselidiki. Sementara itu dalam kehidupan nyata, Jenderal Réveilhac justru dirayakan dan ditawari jabatan bergengsi sebagai Perwira Agung Legiun Kehormatan, seperti yang diungkapkan The Guardian.
Untungnya, keempat tentara yang ditembak karena dianggap pengecut itu akhirnya dibersihkan namanya setelah diadakan penyelidikan. Berkat kerja keras selama 19 tahun, istri dari salah satu korban memenangkan pertempuran hukum agar peristiwa itu diakui sebagai ketidakadilan. Kemudian keluarga dari keempat kopral tersebut masing-masing menerima satu Franc sebagai kompensasi atas penderitaan mereka, tulis laporan Time.
4. Paths of Glory menceritakan tentang jenderal yang egois

Sayangnya, keempat laki-laki yang ditembak dalam Kasus Souain bukanlah satu-satunya. Sebenarnya, Inggris dan Prancis menembak banyak tentara karena dianggap pengecut selama perang. Mereka yang mengalami trauma akibat gegar otak akibat ledakan bom mendapat perlakuan yang sangat buruk pada saat itu, tulis BBC. Masalah tentang gegar otak akibat ledakan bom juga diceritakan dalam film Paths of Glory. Di awal film, Jenderal Mireau berbincang dengan seorang prajurit yang mengalami gegar otak. Mireau mengoceh kalau kondisi tersebut gak ada dan bilang kalau tentara itu adalah seorang pengecut.
Di Prancis, menjelang peringatan 100 tahun Perang Dunia I, ketidakadilan historis semacam ini disoroti oleh para aktivis dan mereka yang masih mencari keadilan bagi para korban. Seorang sejarawan Prancis, Antoine Prost, memperkirakan bahwa setidaknya ada 600 orang Prancis yang dieksekusi tembak karena gak mematuhi perintah selama perang. Di Inggris, mereka yang ditembak karena pengecut dalam Perang Dunia I akhirnya diampuni secara anumerta pada tahun 2006.
5. Paths of Glory menjadi salah satu film anti-perang terbaik sepanjang masa

Saat ini, Paths of Glory masih menjadi salah satu film anti-perang terbaik sepanjang masa, setara dengan film Perang Vietnam Deerhunter (1978) dan film klasik Perang Dunia II Rusia, Come and See (1985). Mahakarya Stanley Kubrick ini menyoroti absurditas beberapa strategi yang digunakan dalam Perang Dunia I. Mengerahkan pasukan di depan tembakan senapan mesin, yang seringkali menewaskan banyak tentara dalam pertempuran mengerikan seperti Somme, di mana 60.000 orang tewas dalam 24 jam pertama, tulis History.
Sangat dipuji karena penggambaran masalah kelas dan ambisi picik para jenderal yang berpikiran sempit, Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, yang bertempur di parit-parit Perang Dunia I juga berkomentar bahwa Paths of Glory adalah penggambaran yang sangat akurat tentang militer, dan khususnya tentang perang parit, sebagaimana yang dijelaskan Radio Times. Nah, yang terpenting, film ini mengajak kita untuk mempertanyakan jenis struktur kekuasaan yang mirip seperti kasus Souain.
Seperti yang Kolonel Dax katakan dalam versi buku Paths of Glory, "Konyol, dengan sekadar memberikan perintah selalu menumbuhkan kepercayaan. Tidak masalah apakah itu perintah yang diperlukan, atau bahkan perintah yang benar. Hal itu menumbuhkan rasa percaya diri bahkan pada orang yang memberikan perintah tersebut."


















