Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film Asia tentang Perjuangan Perempuan Melawan Tradisi
Little Big Woman (dok. Each Other Films/Little Big Woman)
  • Dangal menyoroti Geeta dan Babita yang membuktikan perempuan bisa berprestasi dalam gulat, meski menghadapi stigma bahwa olahraga tersebut hanya pantas untuk laki-laki.
  • Kartini menggambarkan perjuangan Raden Ajeng Kartini memperluas akses pendidikan dan kesetaraan perempuan di tengah aturan keluarga bangsawan Jawa serta budaya patriarkal masa kolonial.
  • Kim Ji-young: Born 1982, Little Big Women, dan Sister menampilkan tekanan peran keluarga, pengorbanan, serta tradisi yang membatasi pilihan hidup perempuan di Korea, Taiwan, dan China.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tradisi memang bisa menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang. Namun, ketika tradisi tersebut membuat perempuan mengorbankan pendidikan, cita-cita, kebebasan, atau bahkan pilihan hidupnya sendiri, muncul pertanyaan apakah semua aturan lama memang harus terus dipertahankan.

Tema seperti ini cukup sering diangkat dalam film Asia melalui kisah perempuan yang berusaha menentukan jalan hidupnya sendiri. Menariknya, perjuangan tersebut hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang memperjuangkan pendidikan hingga berusaha keluar dari peran gender yang telah ditentukan oleh keluarga.

Berikut lima film Asia yang mengangkat kisah perempuan yang berjuang melawan tradisi yang membatasi pilihan mereka. Inspiratif banget!

1. Dangal (2016)

Dangal (dok. Aamir Khan Productions/Dangal)

Dangal adalah film India yang mengangkat kisah Mahavir Singh Phogat (Aamir Khan), mantan pegulat yang awalnya berharap memiliki seorang putra sebagai penerusnya. Namun, setelah memiliki empat anak perempuan, ia melihat potensi Geeta (Fatima Sana Shaikh) dan Babita (Sanya Malhotra) dalam gulat. Mahavir kemudian melatih kedua putrinya dengan sangat keras meskipun keputusan tersebut mendapat penolakan dari lingkungan sekitar.

Perjuangan Geeta dan Babita dalam film ini berkaitan erat dengan anggapan tradisional tentang perempuan dan olahraga. Mereka harus menghadapi pandangan bahwa gulat merupakan olahraga yang tidak pantas atau terlalu berat bagi perempuan, sekaligus berhadapan dengan ekspektasi tentang bagaimana seorang anak perempuan seharusnya bersikap. Kisah mereka kemudian berkembang menjadi perjuangan untuk membuktikan bahwa perempuan juga bisa berprestasi di bidang yang didominasi laki-laki.

2. Kartini (2017)

Kartini (dok. Legacy Pictures/Kartini)

Kartini menceritakan kehidupan Raden Ajeng Kartini (Dian Sastrowardoyo), perempuan dari keluarga bangsawan Jawa pada masa kolonial. Pada masa itu, kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan tinggi sangat terbatas, sementara perempuan Jawa dari kalangan bangsawan juga menghadapi aturan dan tradisi keluarga yang ketat.

Kartini tumbuh dengan menyaksikan bagaimana ibunya, Ngasirah (Christine Hakim), diperlakukan berbeda karena tidak memiliki darah bangsawan. Kartini kemudian menggunakan pendidikan dan pemikirannya untuk mempertanyakan berbagai tradisi yang membatasi perempuan. Bersama saudara-saudaranya, ia berusaha membuka kesempatan pendidikan bagi perempuan dan masyarakat yang kurang mampu.

Film ini memperlihatkan perjuangan Kartini dalam memperjuangkan pendidikan dan kesetaraan di tengah lingkungan keluarga serta masyarakat yang masih sangat dipengaruhi oleh aturan patriarkal.

3. Kim Ji-young: Born 1982 (2019)

Kim Ji-young: Born 1982 (dok. Lotte Entertainment/Kim Ji-young: Born 1982)

Kim Ji-young: Born 1982 mengikuti Kim Ji Young (Jung Yu Mi), perempuan berusia 30-an yang meninggalkan kariernya dan menjadi ibu rumah tangga. Kehidupannya terlihat biasa saja, tetapi perlahan ia mengalami perubahan yang membuat suaminya, Dae Hyeon (Gong Yoo), menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Cerita Kim Ji-young: Born 1982 menggambarkan bagaimana pengalaman dan tekanan yang dialami perempuan sejak kecil dapat terbawa hingga kehidupan mereka sebagai orang dewasa. Film ini tidak menghadirkan perjuangan melawan tradisi keluarga melalui pemberontakan besar, melainkan lewat pengalaman sehari-hari Kim Ji-young.

Dari ekspektasi terhadap perempuan dalam keluarga hingga pengorbanan yang dianggap sebagai bagian alami dari peran seorang ibu dan istri, berbagai tekanan tersebut perlahan memengaruhi kehidupannya. Karena itu, film ini menjadi gambaran bagaimana nilai-nilai gender yang diwariskan dalam keluarga dapat membatasi pilihan perempuan bahkan ketika batasan tersebut tidak selalu terlihat secara langsung.

4. Little Big Women (2020)

Little Big Woman (dok. Each Other Films/Little Big Woman)

Little Big Women adalah film Thailand yang berpusat pada Shoying (Chen Shu Fang), seorang ibu yang selama bertahun-tahun membesarkan tiga putrinya seorang diri setelah suaminya pergi. Ketika suaminya meninggal dunia, keluarga tersebut kembali berhadapan dengan bagian masa lalu yang selama ini tidak mereka bicarakan. Kehadiran perempuan lain dalam kehidupan sang suami membuat Shoying dan ketiga putrinya harus menghadapi kembali luka serta persoalan keluarga yang telah lama tersimpan.

Film Taiwan ini menarik karena memperlihatkan beberapa generasi perempuan yang berusaha melepaskan diri dari belenggu nilai keluarga tradisional. Shoying tidak hanya harus menghadapi pengkhianatan dalam rumah tangganya, tetapi juga berusaha menentukan bagaimana ia ingin menjalani hidup setelah bertahun-tahun menjalankan peran sebagai istri dan ibu. Hubungan antara Shoying dan ketiga putrinya kemudian menjadi ruang bagi mereka untuk memahami kembali arti keluarga, pengorbanan, dan kebebasan perempuan.

5. Sister (2021)

Sister (dok. Turan Studio/Sister)

Terakhir, ada film China berjudul Sister yang mengikuti An Ran (Zhang Zifeng), perempuan muda yang tiba-tiba harus menghadapi perubahan besar dalam hidup setelah kedua orang tuanya meninggal. Ia kemudian dihadapkan pada tanggung jawab untuk mengurus adik laki-lakinya yang masih kecil. Kondisi tersebut membuat An Ran harus mempertimbangkan kembali rencana hidupnya dan masa depan yang selama ini ia bayangkan.

Konflik dalam film ini berhubungan erat dengan nilai tradisional dalam keluarga Tiongkok, terutama preferensi terhadap anak laki-laki dan tuntutan terhadap anak perempuan untuk berkorban demi keluarga. An Ran berada di antara keinginannya untuk menjalani hidup sendiri dan tekanan untuk menjalankan peran sebagai kakak sekaligus pengasuh adiknya. Melalui dilema tersebut, Sister mempertanyakan apakah seorang perempuan harus selalu mengorbankan masa depannya demi memenuhi kewajiban keluarga.

Kelima film di atas memperlihatkan bahwa perjuangan perempuan melawan tradisi tidak selalu memiliki bentuk yang sama. Dari generasi ke generasi, film-film tersebut menunjukkan bagaimana perempuan sering kali diminta untuk berkorban demi keluarga dan bagaimana mereka berusaha mencari ruang untuk menentukan pilihan hidup mereka sendiri. Tertarik untuk menonton?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article