- Genre: drama
- Pemain: Hideko Takamine, Tatsuya Nakadai
- Sutradara: Mikio Naruse
5 Film tentang Perempuan Tulang Punggung Keluarga, Nyata Adanya!

- Artikel menyoroti realitas perempuan yang menjadi pencari nafkah utama keluarga, tetapi tetap memikul pekerjaan domestik serta menghadapi penghakiman dalam sistem patriarki.
- Lima film drama dari Jepang, Spanyol, Taiwan, dan Swiss menggambarkan perjuangan perempuan mencari penghasilan untuk anak maupun keluarga di tengah krisis, utang, dan kehilangan.
- Kisah-kisah tersebut memperlihatkan pilihan sulit, bantuan yang bermotif, keterbatasan ekonomi, serta diskriminasi keluarga yang membuat peran perempuan sebagai tulang punggung semakin kompleks.
Dalam masyarakat patriarki, laki-laki dapat peran sebagai tulang punggung keluarga alias pencari nafkah utama. Namun, dalam praktiknya, peran gender tradisional ini tidak selalu bisa direalisasikan. Faktanya, kita tidak bisa mengandalkan pria untuk memenuhi peran tersebut karena berbagai faktor. Seperti misalnya, usia, kesehatan, dan sesederhana komitmen serta itikad baik.
Ada kalanya perempuan yang akhirnya harus menjadi tulang punggung keluarga. Sayang, kewajiban ini tidak serta-merta menghapus beban domestik yang sudah mereka tanggung sebelumnya. Ini yang membuat kisah perempuan sebagai tulang punggung keluarga lebih kompleks dan perlu disebarluaskan. Seperti yang coba dilakukan beberapa sineas lewat film-film mereka berikut.
1. When a Woman Ascends the Stairs (1960)

When a Woman Ascends the Stairs (dok. Criterion/When a Woman Ascends the Stairs) When a Woman Ascends the Stairs adalah cerita tentang perempuan bernama Keiko yang sehari-hari bekerja sebagai pramuria di sebuah bar. Ia adalah favorit klien-klien kaya, tetapi ia sadar kariernya tak akan lama seiring pertambahan usia.
Agar tetap bisa mendapatkan penghasilan yang ia gunakan untuk membiayai ibu dan adiknya, Keiko dihadapkan pada beberapa pilihan. Menikah dengan pria yang mau menafkahi dirinya dan keluarganya atau membangun bar sendiri. Namun, opsi kedua tak pula menjamin kemerdekaan karena Keiko butuh investor yang tentu tak akan memberinya dana secara gratis.
2. Mother (1952)

Mother (dok. Shintoho Company/Mother) Masih dari Mikio Naruse, kali ini kamu akan mengikuti perspektif seorang remaja perempuan yang menyaksikan sendiri bagaimana ibunya berusaha sekuat tenaga menghidupi keluarganya tanpa si ayah. Ketika suami dan putranya meninggal, si ibu yang bernama Masako berjuang mempertahankan bisnis layanan cuci kering peninggalan sang suami.
Ada beberapa momen ketika Masako mendapat bantuan dari teman suaminya, tetapi ternyata ada maksud di baliknya. Sampai pada tahap ia harus merelakan anak bungsunya diadopsi oleh kerabat dekatnya demi mengurangi beban finansial keluarga.
- Genre: melodrama
- Pemain: Kinuyo Tanaka, Kyoko Kagawa
- Sutradara: Mikio Naruse
3. Food and Shelter (2015)

Food and Shelter (dok. Diversa Audiovisual/Food and Shelter) Rocio adalah ibu tunggal yang keuangannya sedang cekak. Ia sudah menganggur selama 3 tahun sejak krisis ekonomi melanda Spanyol pada akhir 2000-an hingga awal 2010-an. Padahal, ia punya tanggungan satu anak yang harus dihidupi. Tabungannya menipis dan berbagai tagihan belum terbayar.
Dianggap belum memenuhi kriteria untuk mendapatkan bantuan pemerintah, Rocio pun masih ragu untuk meminta bantuan pada tetangganya. Ini perjuangan yang sulit ditonton, tetapi nyata terjadi di sekitar kita. Terutama kelas menengah yang terpaksa turun kelas karena keadaan untuk pertama kalinya.
- Genre: drama
- Pemain: Jaime Lopez, Natalia de Molina
- Sutradara: Juan Miguel del Castillo
4. Left-Handed Girl (2025)

Left-Handed Girl (dok. Semaine de La Critique/Left-Handed Girl) Punya dua anak yang harus dihidupi dan tagihan rumah sakit suaminya yang membengkak, Shu-Fen akhirnya membuka kedai mi di pasar. Anak tertuanya, I-Ann, bahkan keluar dari sekolah untuk bekerja membantu ibunya bertahan hidup. Tinggallah si bungsu, I-Jing, yang kadang dititipkan ke rumah kakek-neneknya selama sang ibu dan kakak bekerja.
Kehidupan Shu-Fen gak mudah. Kedainya sering sepi dan ia kadang terlambat membayar sewa. Di sisi lain, kita dibikin kesal ketika tahu kalau sebenarnya orangtua Shu-Fen punya daya untuk membantu ekonomi putrinya, tetapi menolak dengan alasan yang amat mengesalkan.
Kita diajak menyaksikan bagaimana sistem patriarki melanggengkan kultur favoritisme terhadap anak laki-laki hingga takhayul soal anak kidal yang bikin I-Jing jadi korban.
- Genre: drama
- Pemain: Nina Ye, Janel Tsai
- Sutradara: Shih Ching Tsou
5. The Courageous (2024)

The Courageous (dok. New Mountain Films/The Courageous) Agak susah memang untuk bersimpati terhadap lakon film ini, Jule. Ia bukan tipikal ibu ideal. Keputusan dan gaya asuhnya membuat orang di sekitarnya tak habis pikir. Ia keras kepala dan berjiwa bebas sampai kadang-kadang memosisikan anak-anaknya dalam risiko.
Jule bukannya tidak bertanggung jawab, tetapi ia terpaksa meninggalkan anak-anaknya untuk mencari nafkah. The Courageous berusaha menyingkap eksistensi kemiskinan di negara yang katanya kaya raya seperti Swiss.
- Genre: drama
- Pemain: Ophélia Kolb, Sabine Timoteo
- Sutradara: Jasmin Gordon
Dalam konteks sistem patriarki, memang mudah untuk bilang hanya pria yang punya tanggung jawab untuk bekerja mencari nafkah. Nyatanya, realitas tak sekaku itu. Apa pun bisa terjadi dan pada akhirnya bekerja tak lagi sebagai tugas berbasis gender. Perempuan tulang punggung keluarga pun eksis di mana-mana dengan beban ganda dan penghakiman masyarakat yang tak kenal ampun.











![[QUIZ] Kalau Jadi Kakak, Kamu Mirip Kak Ros atau Abang Iz?](https://image.idntimes.com/post/20261015/collage_68f68c07-e3eb-41d2-8ae6-b15dadebde1d.jpg)










