Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mangaka Daten Sakusen Dihukum atas Kekerasan Seks terhadap Remaja

Mangaka Daten Sakusen Dihukum atas Kekerasan Seks terhadap Remaja
kover manga Joujin Kamen (dok. Shogakukan/Joujin Kamen)
Intinya Sih
  • Departemen editorial Manga ONE menghentikan distribusi Joujin Kamen setelah terungkap bahwa mangakanya, Shoichi Yamamoto, juga pembuat Daten Sakusen yang pernah ditahan atas kasus kekerasan seksual terhadap mantan muridnya.
  • Yamamoto sempat didenda ringan dan tetap menulis dengan nama pena baru, namun akhirnya pengadilan memutuskan ia harus membayar ganti rugi 11 juta Yen karena menyebabkan trauma berat pada korban.
  • Skandal ini mengguncang industri manga Jepang; banyak mangaka dan publik mengecam Shogakukan karena dianggap lalai, sementara beberapa kreator memilih hiatus sebagai bentuk protes moral.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Skandal besar tengah melanda perusahaan penerbit Jepang, Shogakukan. Shoichi Yamamoto, salah satu mangaka yang karyanya diterbitkan, tersandung kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur.

Shogakukan dan Manga ONE telah menghentikan distribusi manga karya tersangka. Meski begitu, kasusnya terus bergulir dan mencuri perhatian. Simak fakta selengkapnya.

1. Mangaka Joujin Kamen ternyata sama dengan mangaka Daten Sakusen yang didakwa karena kekerasan seksual terhadap mantan muridnya

ilustrasi perkantoran Jepang
ilustrasi perkantoran Jepang (unsplash.com/@center999)

Pada Kamis (27/2/2026), departemen editorial aplikasi Manga ONE mengumumkan penghentian distribusi manga Joujin Kamen. Mereka juga meminta maaf terhadap pembaca maupun ilustrator yang bekerja sama dengannya. Ternyata, mangaka atau pengarang manga tersebut adalah Shoichi Yamamoto, sosok yang juga mengerjakan manga populer Daten Sakusen.

Dilansir Oricon News, pada Februari 2020 silam Shoichi Yamamoto ditahan akibat laporan kriminal. Mangaka yang sebelumnya pernah berprofesi sebagai guru itu dituding pernah melakukan grooming hingga berhubungan seksual dengan muridnya yang di bawah umur pada 2016. Yamamoto yang lebih tua 30 tahun dari korban juga disebut menghukum muridnya itu dengan tindakan seksual, seperti memakan dan mengoleskan kotoran di wajah korban hingga mengambil fotonya saat berhubungan seks atau di tempat terbuka dalam keadaan tanpa busana.

2. Soichi Yamamoto masih bisa bekerja dan menerbitkan manga baru meski sempat digugat

kover manga Daten Sakusen
kover manga Daten Sakusen (dok. Shogakukan/Daten Sakusen)

Manga Daten Sakusen buata Soichi Yamamoto pun berhenti dipublikasikan, namun, hanya sampai Maret 2020. Ia didenda atas pelanggaran terhadap Undang-undang Anti Pornografi Anak dan hanya membayar 200 ribu Yen. Setelah itu, pihak korban mengklaim pada 2021 Yamamoto sempat berusaha mengajak berdamai dengan uang sebesar 1,5 juta Yen atau sekitar Rp162 juta, tapi ditolak.

Pada Juli 2022, korban menggugat Yamamoto secara perdata. Meski manga Daten Sakuksen tamat di Manga ONE sejak Oktober 2022, ternyata Yamamoto masih menulis manga untuk Shogakukan dengan nama pena baru, yaitu Ichiro Hajime.

Akhirnya, pada 20 Februari 2026, gugatan tersebut menghasilkan putusan bahwa Soichi Yamamoto harus membayar kerugian sebesar 11 juta Yen atau sekitar Rp1,2 miliar. Pengadilan menyebutnya bertanggung jawab karena telah menyebabkan PTSD terhadap korban usai mengeksploitasinya saat masih di bawah umur.

3. Respons para mangaka usai skandal Shoichi Yamamoto di bawah Shogakukan

kover manga Joujin Kamen
kover manga Joujin Kamen (dok. Shogakukan/Joujin Kamen)

Skandal ini menjadi tamparan berat bagi industri manga Jepang. Banyak pihak menyoroti Shogakukan dan departemen editorial-nya. Masyarakat mempertanyakan mengapa seseorang dengan catatan pelanggaran hukum tidak mendapat konsekuensi di bawah naungan mereka. Bahkan, muncul asumsi bahwa perusahaan berusaha menutupi skandal tersebut.

Mangaka ONE yang sukses lewat ONE PUNCH MAN turut buka suara. Lewat X (Twitter) ia mengunggah komentarnya.

"Saya tidak bisa bekerja sama dengan orang-orang yang tidak bisa secara lantang mengutuk kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Tentu saja, saya akan menunggu para pihak yang terlibat untuk mengungkapkan detailnya kepada publik. Saya juga akan mendukung Shogakukan jika mereka mengambil langkah tersebut," tulis ONE.

Selain itu, banyak mangaka yang hiatus atau menghentikan penerbitan manga mereka menyusul kasus ini. Warganet menduga ini merupakan salah satu bentuk protes terhadap skandal yang tengah menjadi perhatian ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Latest in Hype

See More