- Genre: drama, komedi
- Pemain: Anne Hathaway, Meryl Streep
- Sutradara: David Frankel
- Film alternatif: Made in Dagenham (2010)
5 Film Feminis yang Dibuat Tanpa Kesadaran Kelas dan Alternatifnya

- Kontroversi anggota Pancatera memicu sorotan atas feminisme yang dinilai berjarak dari akar rumput, sekaligus menegaskan pentingnya perspektif kelas dan interseksionalitas.
- Artikel menilai The Devil Wears Prada, Legally Blonde, Little Women, Barbie, dan Booksmart menonjolkan perjuangan perempuan berprivilege serta pilihan personal, tanpa cukup membahas ketimpangan struktural.
- Sebagai pembanding, Made in Dagenham, I, Tonya, The Girl with the Needle, Nobody’s Wife, dan Precious menawarkan pengalaman perempuan kelas pekerja, minoritas, atau rentan.
Kekecewaan publik terhadap ketiga anggota Pancatera yang mengunggah potret dirinya merayakan HUT RI ke-81 di Istana Negara bersama para petinggi pemerintahan dan lingkarannya menjadi perbincangan hangat di media sosial. Ada yang bingung mengapa harus dikritik, tetapi gak sedikit yang setuju dengan gerakan boikot publik figur tone-deaf seperti yang bersangkutan.
Salah satu anggota Pancetera, Marissa Anita, dikenal berkat perannya di film Istirahatlah Kata-Kata (2016). Publik merasa bahwa film tersebut, yang harusnya menempatkannya pada posisi kritis, justru menjadi bagian dari rezim.
Namun, setelah diperhatikan, perbincangan feminis Pancatera di siniar dianggap gagal menyentuh isu akar rumput alias masih berkutat pada perspektif kelas atas dengan segala privilesenya. Isu ini pun menyadarkan kita akan pentingnya interseksionalitas dalam gerakan feminisme.
Masalahnya, selama ini kita memang disuguhi hiburan feminis yang hampir tak pernah menyenggol isu kesadaran kelas. Coba tonton ulang beberapa film berikut, deh.
Table of Content
1. The Devil Wears Prada (2006)

The Devil Wears Prada (dok. Twentieth Century Fox/The Devil Wears Prada) The Devil Wears Prada adalah sensasi pada masanya. Film ini bahkan dibuat sekuelnya pada Mei 2026 dan dapat penerimaan yang cukup positif. Berpusat pada perempuan muda yang meniti karier sebagai jurnalis fesyen di New York, film ini memang dipasarkan dengan label feminis. Namun, kalau kamu perhatikan, ia masih berkutat pada masalah khas kelas menengah atas dan kulit putih (kelompok mayoritas). Pada akhir film, Andy memang diposisikan menolak jadi kapitalis serta bagian dari kelas atas seperti bosnya, Miranda.
Namun, itu dilakukannya karena ia punya privilese untuk memilih. Motifnya pun bukan kritik dan perlawanan terhadap sistem dan ketimpangan yang ada, melainkan integritas personal dan ambisi pribadinya. Sebagai perbandingan, coba tonton film Made in Dagenham yang lebih sadar kelas dan kaya semangat kolektif. Perjuangan seorang buruh pabrik perempuan membangkitkan semangat rekan-rekannya dan berdampak besar dalam mengubah regulasi nasional.
2. Legally Blonde (2001)

Legally Blonde (dok. MGM/Legally Blonde) Film feminis lain yang juga melupakan ketimpangan kelas adalah Legally Blonde. Film ini lagi-lagi memakai karakter perempuan kulit putih dari kelas menengah Amerika Serikat. Posisinya sudah cukup nyaman sampai ia masuk ke kampus elite yang ternyata didominasi “old money” dan pria. Di sana, ia cukup kesulitan untuk berbaur, sering diremehkan karena gender dan gayanya yang dianggap norak.
Perjuangan Elle, sayangnya, gak bisa mewakili pengalaman kelompok minoritas. Film ini juga menggaungkan individualisme dan choice feminism, ketimbang kritik terhadap perlunya perubahan sistemik.
Sebagai alternatif, kamu bisa nonton I, Tonya. Film ini juga memotret perjuangan perempuan untuk mencapai sukses di Amerika Serikat yang menomorsatukan individualisme. Namun, latar belakang Tonya sebagai kelas pekerja serta keturunan imigran Eropa Timur yang tak punya privilese finansial membuat petualangannya lebih menapak tanah. Film ini juga menyorot bagaimana media memotret Tonya dengan stigma gender dan kelas.
- Genre: drama, komedi
- Pemain: Reese Witherspoon, Jennifer Coolidge
- Sutradara: Robert Luketic
- Film alternatif: I, Tonya (2017)
3. Little Women (2019)

Little Women (dok. Columbia Pictures/Little Women) Little Women versi Greta Gerwig juga dianggap kurang menyelami masalah kelas. Coba tengok keluarga March, mereka adalah keluarga kelas menengah yang memang sedang mengalami kesulitan finansial. Namun, mereka masih bisa hidup relatif nyaman.
Dalam film, Gerwig seolah melupakan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan kelas bawah untuk memastikan kenyamanan keluarga March. Feminisme direduksi menjadi pilihan dan keputusan personal anak-anak perempuan keluarga March, seperti menikah atau tidak, sampai jenis pekerjaan yang diinginkan.
Sebagai perbandingan, coba tonton The Girl with the Needle yang lebih realistis. Ini tentang seorang perempuan kelas bawah yang akhirnya masuk ke bursa kerja setelah suaminya dinyatakan hilang saat perang. Ia tak bisa banyak memilih. Pekerjaan buruh dengan upah rendah pun ia lakoni demi bisa bertahan hidup. Saat akhirnya jatuh cinta, status sosial-ekonominya pun menghalangi dirinya untuk mencapai kenyamanan yang ia dambakan.
- Genre: period-drama, romance
- Pemain: Saoirse Ronan, Emma Watson
- Sutradara: Greta Gerwig
- Film alternatif: The Girl with the Needle (2024)
4. Barbie (2023)

Barbie (dok. Warner Bros./Barbie) Barbie juga film yang sarat cela ketika bicara feminisme. Terlepas dari kesuksesannya pada perilisan perdananya beberapa tahun lalu, ada banyak aspek dalam film ini yang kurang pas. Salah satunya adalah kecenderungan Hollywood menggunakan lakon perempuan yang berprivilese. Ini membuat perjuangannya melawan patriarki menjadi tak begitu relevan. Meski menggunakan elemen keberagaman ras, film ini tidak menyenggol isu kelas sama sekali. Karakternya bisa dibilang terjebak dalam jebakan borjois yang nyaman dan membuat mereka tone-deaf dan kritiknya pun terasa dangkal.
Kalau ada waktu, coba tonton Nobody’s Wife karya María Luisa Bemberg. Berlatarkan Argentina, film ini mengikuti point of view seorang perempuan borjois yang memergoki suaminya selingkuh. Sejak itu, ia kehilangan segala kenyamanan pemberian sang suami. Ia harus segera mencari cara untuk bisa mandiri dan tak lagi bergantung pada orang yang sudah mengkhianatinya itu.
- Genre: drama, komedi
- Pemain: Margot Robbie, Ryan Gosling
- Sutradara: Greta Gerwig
- Film alternatif: Nobody’s Wife (1982)
5. Booksmart (2019)

Booksmart (dok. Annapurna Pictures/Booksmart) Seperti biasa, lakon yang dipakai dalam film feminis karya Olivia Wilde ini adalah warga kelas menengah AS dan berkulit putih. Baru lulus SMA dan diterima di kampus top, tak ada masalah finansial maupun diskriminasi sistemik yang menghantui mereka.
Konflik utama film ini adalah keinginan dua sahabat untuk merasakan kehidupan bebas khas anak remaja untuk pertama kalinya karena selama ini mereka memutuskan untuk mengutamakan pelajaran hingga lupa menikmati waktu.
Perjuangan mereka berbeda jauh dengan Precious dalam film berjudul sama yang dirilis pada 2009. Lahir dari keluarga disfungsional dan berasal dari kelompok minoritas, Precious adalah perwakilan anak-anak yang tidak beruntung. Alih-alih memikirkan kuliah dan bersenang-senang dengan teman sebaya, bisa bangun tiap hari dan berjalan ke sekolah adalah bukti betapa resiliennya Precious.
- Genre: komedi, coming of age
- Pemain: Beanie Feldstein, Kaitlyn Dever
- Sutradara: Olivia Wilde
- Film alternatif: Precious (2009)
Tidak ada kewajiban bagi sineas untuk bikin film melek sosial. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa karya mereka punya pengaruh besar dalam membentuk perspektif publik tentang satu isu. Termasuk feminisme. Ketika interseksionalitas diabaikan, feminisme pun hanya jadi pengeras suara untuk kelompok dominan.






















