Kekecewaan publik terhadap ketiga anggota Pancatera yang mengunggah potret dirinya merayakan HUT RI ke-81 di Istana Negara bersama para petinggi pemerintahan dan lingkarannya menjadi perbincangan hangat di media sosial. Ada yang bingung mengapa harus dikritik, tetapi gak sedikit yang setuju dengan gerakan boikot publik figur tone-deaf seperti yang bersangkutan.
Salah satu anggota Pancetera, Marissa Anita, dikenal berkat perannya di film Istirahatlah Kata-Kata (2016). Publik merasa bahwa film tersebut, yang harusnya menempatkannya pada posisi kritis, justru menjadi bagian dari rezim.
Namun, setelah diperhatikan, perbincangan feminis Pancatera di siniar dianggap gagal menyentuh isu akar rumput alias masih berkutat pada perspektif kelas atas dengan segala privilesenya. Isu ini pun menyadarkan kita akan pentingnya interseksionalitas dalam gerakan feminisme.
Masalahnya, selama ini kita memang disuguhi hiburan feminis yang hampir tak pernah menyenggol isu kesadaran kelas. Coba tonton ulang beberapa film berikut, deh.
