10 Film Lawas Bertema Anti Perang Terbaik, Wajib Ditonton!

- Artikel ini menyoroti sepuluh film lawas bertema antiperang dari berbagai negara yang menggambarkan penderitaan manusia, kritik politik, dan pesan kemanusiaan mendalam terhadap dampak perang.
- Film-film seperti All Quiet on the Western Front, The Human Condition, hingga Grave of the Fireflies menampilkan sisi tragis perang melalui perspektif moral, spiritual, dan emosional para tokohnya.
- Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa peperangan hanya membawa luka dan kehilangan, sekaligus mengajak penonton untuk merenungkan nilai kemanusiaan serta menolak glorifikasi kekerasan.
Bisakah sineas membuat film antiperang yang gak berlebihan? Pertanyaan semacam ini membayangi sejarah perfilman, tanpa pernah terjawab dengan memuaskan. Sebab, pembuatan film antiperang biasanya melawan salah satu prinsip utama perfilman, yaitu membuat penonton terhibur dan merasa puas dengan apa yang ditontonnya.
Nah, untuk membuat film antiperang, sebuah film gak hanya sekadar basa-basi menceritakan tentang betapa mengerikannya perang itu. Namun, film tersebut harus benar-benar menghayati gagasan antiperang, merasakan emosionalnya, dan gak mengagungkan pertempuran itu sendiri.
Nah, sepuluh film antiperang yang akan kita bahas di bawah ini adalah kisah yang sangat menyayat hati, humanisme, solidaritas, dan pemikiran kritis dalam memandang suatu perang. Siapkan diri, karena kamu akan dibuat sangat marah dan emosional. Film antiperang ini menyadarkan kita semua kalau peperangan hanya membawa luka dan penderitaan.
1. All Quiet on the Western Front (1930)

Adaptasi pertama dari All Quiet on the Western Front karya Erich Maria Remarque, yang diproduksi oleh Universal Studios dan disutradarai oleh Lewis Milestone, dirilis hanya 1 tahun setelah novel tersebut diterbitkan pada 1929. Namun, hingga kini, belum ada yang bisa melampauinya, termasuk dua adaptasi barunya. Jadi, apa keistimewaan film ini?
All Quiet on the Western Front adalah film bertema perang bersuara yang paling mahir di zamannya dan diproduksi di Amerika Serikat. Nah, yang membuat All Quiet on the Western Front karya Milestone menjadi masterpiece sejati karena sudut pandang moral dan politiknya yang fasih dan gak kenal ampun, berbeda dari film-film lain.
All Quiet on the Western Front sendiri mengikuti sekelompok pemuda Jerman yang dipaksa untuk mendaftar menjadi tentara selama awal Perang Dunia I. Film ini menggambarkan sikap tenang para remaja tersebut. Gak hanya itu, film ini secara lugas menyajikan sifat buruk manusia dan kekejaman politik yang menimpa mereka. Sepanjang film, para karakternya menyuarakan perubahan pandangan mereka terkait perang.
2. Rome, Open City (1945)

Setelah berakhirnya Perang Dunia II, tokoh neorealis Italia, Roberto Rossellini, membuat trilogi perangnya yang terdiri dari Rome, Open City (1945), Paisan (1946), dan Germany, Year Zero (1948). Ketiga film lawas ini wajib banget kamu tonton, karena menggambarkan poros Perang Dunia II dari sudut pandang orang-orang yang ketakutan. Selain itu, film Rome, Open City punya pertunjukan neorealisme yang paling kuat dan cermat, serta tentang bagaimana kehidupan di hari-hari terakhir pendudukan Nazi di Italia.
Lebih dari sekadar film perang, Rome, Open City adalah drama ansambel tentang berbagai karakter dengan kehidupan yang saling terkait di sebuah kota metropolitan yang ramai, seperti penghuni sebuah rumah kos, seorang pastor Katolik, seorang pekerja kabaret yang murung, dan teman sekamarnya yang ceria. Kemudian, di atas fondasi kemanusiaan yang intens itu, Rossellini menambahkan penggambaran pendudukan yang suram dan penuh amarah, seperti Nazi dan kolaborator Italia yang pengecut dan mudah tertipu, para pejuang Perlawanan yang gigih dan anak-anak yang berjuang sebisa mereka. Film ini seperti luka menganga, mengungkap dampak fasisme dan provokasi perang yang masih terasa di kota yang hancur.
3. The Human Condition (1959)

Mustahil bagi film antiperang yang berkualitas untuk bersikap apolitis, dan hanya sedikit sutradara dalam sejarah yang memahami hal itu seakurat Masaki Kobayashi. Sutradara legendaris dari Jepang ini punya film-film klasik genre terkenal seperti Harakiri (1962) dan Kwaidan (1964). Kobayashi dikenal karena berhasil menyutradarai horor supranatural dan aksi samurai dengan sangat baik. Juga, ia berhasil menjadikan serangkaian drama sejarah antiperangnya sebagai mahakaryanya dengan trilogi The Human Condition.
Ketiga film tersebut adalah No Greater Love (1959), The Road to Eternity (1959), dan A Soldier's Prayer (1961), yang jika digabungkan berdurasi 9 jam. Film-film ini menggambarkan berbagai lika-liku dalam kehidupan Kaji (diperankan Tatsuya Nakadai). Sebagai seorang pasifis dan sosialis, Kaji bekerja sebagai kepala buruh di Manchuria yang diduduki Jepang untuk menghindari wajib militer dalam upaya perang kekaisaran. Namun, keteguhannya pada moralitas dan kemanusiaan justru sia-sia. Ia akhirnya terjerumus ke dalam perjalanan yang melelahkan, yang penuh dengan kekejian dan perang brutal Jepang kekaisaran.
Film ini sebagian besar terinspirasi oleh pengalaman Kobayashi sendiri sebagai seorang pasifis dan sosialis yang direkrut menjadi tentara perang selama Perang Dunia II. Film ini pun mewakili titik balik utama bagi sinema Jepang. Jarang banget ada film-film di Jepang yang mengkritik perang secara blak-blakan dan tajam, apalagi dengan semangat dan penguasaan artistik yang sangat bagus.
4. Dr. Strangelove or: How I Learned to Stop Worrying and Love the Bomb (1964)

Stanley Kubrick membuat salah satu film antiperang paling dahsyat dalam sejarah perfilman yang hampir tidak menggambarkan pertempuran secara langsung. Film Dr. Strangelove gak kalah mengerikannya dengan film-film Kubrick lainnya. Bahkan, film ini digambarkan sebagai film komedi gelap.
Hal-hal mengerikan itu datang sebagai konsekuensi politik ketika seorang brigadir jenderal Amerika Serikat (Sterling Hayden) menjadi gila. Ia mengoceh, paranoid, dan gak berpikir rasional karena membuat rencana untuk mengebom Uni Soviet, yang bertentangan dengan keinginan pemerintah Amerika maupun Soviet sendiri. Nah, pejabat pemerintah AS pun berusaha menghentikan pengeboman sebelum dunia terjerumus ke dalam kiamat nuklir.
5. The Ascent (1977)

Dianggap oleh banyak kritikus sebagai salah satu film perang terbaik sepanjang masa, The Ascent merupakan film Rusia karya Larisa Shepitko. Kemampuan Shepitko dalam penyuntingan dan bahasa tubuh yang ditampilkan di layar gak ada tandingannya dalam sejarah film hitam-putih. Nah, The Ascent juga menyampaikan makna spiritual untuk merefleksikan hakikat spiritualitas itu sendiri dan mengungkapkan bagaimana kebrutalan perang.
Dirilis pada 1977, film ini mengikuti dua partisan Soviet di puncak Perang Dunia II yang memisahkan diri dari unit mereka untuk mencari makanan di sebuah desa Belarusia. Pada akhirnya, mereka terpaksa memasuki wilayah musuh dan harus terlibat dalam konflik antara hidup dan mati dengan tentara Jerman. Saat mereka berjuang untuk bertahan hidup, Sotnikov (Boris Plotnikov) dan Rybak (Vladimir Gostyukhin) dipaksa untuk menghadapi sisi tergelap sifat manusia—baik musuh mereka maupun diri mereka sendiri.
The Ascent adalah salah satu film paling menyedihkan sepanjang masa, sekaligus salah satu film yang paling mendalam. Yap, film ini adalah sebuah renungan tentang kerusakan akibat perang, yang bukan sekadar membahas kekerasan dan amoralitas itu sendiri, tapi merenungkan efek buruk yang ditimbulkan perang pada jiwa manusia, dan pada hubungan manusia dengan dunia.
6. Come and See (1985)

Suami Larisa Shepitko, Elem Klimov, juga seorang sutradara film. Ia punya mahakaryanya sendiri yang berjudul Come and See. Film ini merupakan film antiperang yang paling ngeri dan paling persuasif. Yap, kebrutalan dalam film Come and See sangat mencekam seperti film horor.
Nah, yang membuat Come and See sangat menyayat hati, selain keahlian Elem Klimov dalam menghadirkan drama tragis dan teror eksistensial dengan gambar dan pilihan penyuntingannya, adalah film ini diceritakan dari perspektif seorang anak. Flyora (Aleksei Kravchenko) adalah seorang remaja Belarusia yang direkrut menjadi pasukan partisan Soviet selama pendudukan Nazi di Belarusia. Ia direkrut untuk melawan penjajah Jerman. Ia kemudian bertemu dengan seorang perawat partisan remaja bernama Glasha (Olga Mironova).
Nah, sebelum mereka menyadari kondisi tersebut, kedua anak itu terseret ke dalam pusaran kematian, kekerasan, dan kekacauan yang membuat mereka gak bisa melarikan diri. Bisa dibilang, Elem Klimov berhasil menggambarkan surealitas perang yang sangat mengerikan dan mematikan ketimbang sutradara lain di zamannya.
7. Grave of the Fireflies (1988)

Sebenarnya, banyak film animasi antiperang yang hebat, seperti Barefoot Gen (1983), When the Wind Blows (1986), The Breadwinner (2017), dan The Wind Rises (2013). Namun, film animasi yang paling menyentuh hati dalam meratapi ketidakmanusiaan perang adalah Grave of the Fireflies karya Isao Takahata. Film klasik tahun 1988 ini dianggap sebagai salah satu film Studio Ghibli terbaik karena kejujurannya yang mengiris emosi penonton.
Film Isao Takahata ini mengikuti kisah kakak-beradik bernama Seita (Tsutomu Tatsumi) dan Setsuko Yokokawa (Ayano Shiraishi). Mereka adalah anak dari seorang kapten Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang menjalani hari-hari terakhir Perang Dunia II. Kakak-beradik ini kehilangan ibu mereka (Yoshiko Shinohara) selama pemboman Kobe oleh Amerika Serikat dan terpaksa berjuang sendiri di tengah kehancuran kota.
Film antiperang ini menggambarkan bagaimana kemiskinan dan penderitaan yang panjang akibat perang. Alhasil, kakak-beradik ini sering kelaparan, sering merasa sedih, dan memiliki ketidakmampuan untuk mengatasi berbagai hal. Takahata memberitahu kita bagaimana anak-anak sering menjadi korban ketidakadilan dari perang, yang seharusnya hidup dengan layak.
8. Camp de Thiaroye (1988)

Ousmane Sembène mendedikasikan kariernya untuk menciptakan jenis sinema baru yang gak dibatasi oleh keburukan dan kemunafikan selera Barat. Misinya pun menghasilkan banyak mahakarya yang murni dan film-film yang mengedepankan hati nurani. Camp de Thiaroye yang disutradarai bersama oleh Ousmane Sembène dan sesama pionir film Senegal, Thierno Faty Sow, membuktikan hal itu.
Dengan cermat mengikuti sejarah, film ini mengisahkan tentang pembantaian Thiaroye tahun 1944, ketika sejumlah besar tentara Afrika Barat yang direkrut ke dalam tentara Prancis dibunuh oleh perwira Prancis setelah kembali ke Afrika. Mereka dibunuh karena menuntut kondisi yang lebih baik di kamp militer Thiaroye dekat Dakar, Senegal. Nah, selain menjadi salah satu karya Ousmane Sembène yang paling hebat, ia sudah membuat film selama 25 tahun pada saat itu, dan Camp de Thiaroye menandai kembalinya ia ke kursi sutradara setelah hiatus selama 11 tahun.
Dengan gambaran kekerasannya yang mencabik pikiran tapi mampu mempertahankan sifat kemanusiaan dari para korban yang dibantai, Ousmane Sembène dan Sow menunjukkan gilanya sistem Prancis di masa perang. Prancis menganggap diri mereka sebagai pahlawan sejarah karena melawan Nazi, tapi berlaku gak adil kepada mereka yang berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Kolonial Prancis. Bahkan para korbannya rela mempertaruhkan nyawa mereka untuk membantu Prancis. Jadi diceritakan bahwa perang adalah penyakit moral.
9. Europa Europa (1990)

Sebelum Agnieszka Holland membuat film Europa, Europa, sebenarnya sudah banyak film bertema Holocaust. Nah, tapi gak ada satu pun dari film-film tersebut yang menggarapnya sehebat Holland. Sebagai salah satu sutradara terkemuka dalam sejarah perfilman Polandia, Holland memilih untuk menceritakan kisah nyata dari Solomon Perel, seorang anak laki-laki Yahudi Jerman yang menyembunyikan identitasnya dan bergabung dengan Pemuda Hitler untuk bertahan hidup.
Sepanjang film, identitas Solomon (Marco Hofschneider) terus berubah. Pertama, ia adalah seorang Yahudi Jerman, kemudian menjadi orang Polandia, lalu menjadi orang Soviet, dan seorang Nazi. Holland menyisipkan komedi gelap ke dalam film dan menceritakan penderitaan yang dialami Solomon akibat Nazi. Film ini tidak berlama-lama pada satu cerita, tapi mengikuti Solomon dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya demi bertahan hidup.
10. In the Loop (2009)

Jika kamu membahas tentang komedi perang yang sangat cerdas, ada argumen yang bilang kalau film definitif tentang iklim militer abad ke-21 ini bukanlah film thriller aksi yang menegangkan di garis depan pertempuran, melainkan spin-off dari sitkom tempat kerja BBC. Film yang dimaksud ini adalah In the Loop karya Armando Iannucci. Tanpa menyebutkan nama konflik atau target invasi secara terang-terangan, film ini justru menyindir bagaimana pemerintah AS dan Inggris bergabung untuk menginvasi Irak pada 2003.
Dalam film In the Loop, konflik yang sedang berkembang di Timur Tengah ini termanifestasi sebagai pusaran yang merusak akal sehat, moralitas, logika, dan oposisi internasional. Karakter yang diperankan Malcolm Tucker sering kali mengucapkan kata-kata kasar dan menyindir sejumlah pejabat. Namun, sangking lucunya, kamu mungkin gak sadar kalau film ini punya pesan yang sangat dalam.
Peperangan memang hanya membawa duka, luka, dan kesakitan. Nah, yang lebih mengiris hati adalah anak-anak selalu menjadi korbannya, baik dalam pertempuran maupun dampak perang itu sendiri. Semoga kita lebih bijak dalam memandang hal ini.


















