Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Film Mitologi Yunani Terbaik Versi Rotten Tomatoes

5 Film Mitologi Yunani Terbaik Versi Rotten Tomatoes
The Odyssey (dok. Universal Pictures/The Odyssey)
  • Orpheus memimpin daftar dengan rating 97 persen, menafsirkan kisah penyair legendaris dalam latar Paris pasca-Perang Dunia II melalui visual surealis Jean Cocteau.
  • The Odyssey meraih 94 persen dengan Matt Damon sebagai Odysseus, menyoroti perjuangan psikologis, kehilangan, dan keinginannya pulang ke Ithaca setelah Perang Troya.
  • Black Orpheus, Jason and the Argonauts, serta Hercules menghadirkan mitologi Yunani lewat latar Brasil, efek stop-motion klasik, dan animasi musikal Disney.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mitologi Yunani memang tidak pernah kehabisan bahan untuk diadaptasi menjadi film. Kisah tentang para dewa, monster, hingga perjalanan panjang para manusia dalam menghadapi takdir menginspirasi sineas selama puluhan tahun. Menariknya, tidak semua film harus mengikuti cerita aslinya secara mentah untuk menghadirkan kisah mitologi yang menarik.

Beberapa film dalam daftar ini bahkan mengambil pendekatan yang cukup berbeda. Ada yang memindahkan kisah Yunani Kuno ke Paris setelah Perang Dunia II, hingga mengubah The Odyssey menjadi drama perjalanan yang lebih manusiawi. Berdasarkan rating di Rotten Tomatoes, berikut lima film mitologi Yunani yang layak masuk daftar tontonan, mulai dari karya klasik hingga film modern.

  1. 1. Orpheus (1950) — 97 persen

    Orpheus
    Orpheus (dok. Andre Paulve Films/Orpheus)

    Film arahan sineas Prancis Jean Cocteau ini menawarkan interpretasi surealis terhadap kisah Orpheus, musisi legendaris yang rela pergi ke dunia bawah demi menyelamatkan istrinya. Alih-alih menggunakan latar Yunani Kuno, cerita dipindahkan ke Paris setelah Perang Dunia II. Jean Marais memerankan Orphée, seorang penyair yang justru terobsesi dengan sosok putri misterius yang merepresentasikan kematian.

    Kekuatan utama Orpheus terletak pada cara Cocteau memadukan cerita puitis dengan visual yang terasa seperti mimpi. Film ini menggunakan berbagai trik kamera sederhana, termasuk pemutaran gambar secara terbalik dan cermin dari merkuri cair, untuk menciptakan kesan supernatural. Hasilnya memang tidak seperti film fantasi modern dengan efek digital besar-besaran, tetapi justru terasa lebih unik.

  2. 2. The Odyssey (2026) — 94 persen

    The Odyssey
    The Odyssey (dok. Universal Pictures/The Odyssey)

    Christopher Nolan membawa kisah The Odyssey ke layar lebar dengan jajaran pemeran yang sangat besar. Matt Damon memerankan Odysseus, sementara Zendaya, Anne Hathaway, dan Tom Holland turut mengisi karakter penting dalam perjalanan epik tersebut. Ceritanya mengikuti Odysseus dalam perjalanan panjang untuk kembali ke Ithaca setelah Perang Troya.

    Dengan skala produksi besar dan gaya visual Nolan, film ini sejak awal sudah menjadi salah satu adaptasi mitologi yang paling dinantikan. Menariknya, Nolan tidak menjadikan film ini sekadar parade monster dan pertarungan melawan makhluk mitologi. Fokusnya lebih banyak diarahkan pada kondisi psikologis Odysseus, terutama perjuangan, kehilangan, dan keinginannya untuk kembali kepada keluarga.

  3. 3. Black Orpheus (1959) — 88 persen

    Black Orpheus
    Black Orpheus (dok. Dispat Films/Black Orpheus)

    Kisah Orpheus kembali mendapatkan interpretasi unik melalui Black Orpheus, tetapi kali ini latarnya dipindahkan jauh dari Yunani ke Rio de Janeiro, Brasil. Film arahan Marcel Camus ini menempatkan kisah cinta Orfeu dan Eurydice di tengah kemeriahan Carnaval. Breno Mello dan Marpessa Dawn menjadi pasangan utama yang harus menghadapi berbagai konflik di tengah suasana festival yang penuh musik dan warna.

    Perpindahan latar tersebut membuat cerita klasik terasa jauh lebih dekat dengan budaya dan kehidupan masyarakat Brasil. Salah satu daya tarik terbesar film ini adalah musiknya yang sangat kuat. Soundtrack karya Antônio Carlos Jobim dan Luiz Bonfá menghadirkan nuansa bossa nova yang kemudian menjadi bagian penting dari identitas film.

  4. 4. Jason and the Argonauts (1963) — 85 persen

    Jason and the Argonauts
    Jason and the Argonauts (dok. Sunset Boulevard/Jason and the Argonauts)

    Bagi penggemar film fantasi klasik, Jason and the Argonauts merupakan tontonan yang sulit dilewatkan. Film ini mengikuti Jason dalam petualangannya mencari Golden Fleece, salah satu benda paling terkenal dalam mitologi Yunani. Perjalanan tersebut tentu tidak mudah karena Jason dan para awak kapalnya harus menghadapi berbagai bahaya, mulai dari makhluk aneh hingga kekuatan supernatural.

    Meskipun dibuat pada 1960-an, film ini masih memiliki daya tarik tersendiri. Hal yang paling membuat film ini dikenang adalah karya efek visual dari Ray Harryhausen. Teknik stop-motion yang digunakan berhasil menghidupkan berbagai makhluk mitologi dengan cara yang sangat kreatif untuk zamannya. Justru karena menggunakan efek praktis, film ini memiliki pesona klasik yang berbeda dari film fantasi masa kini.

  5. 5. Hercules (1997) — 83 persen

    Hercules
    Hercules (dok. Disney/Hercules)

    Disney mengambil kisah Heracles dan mengubahnya menjadi film animasi musikal yang penuh humor lewat Hercules. Ceritanya mengikuti Hercules, seorang pemuda yang berusaha membuktikan bahwa dirinya layak menjadi dewa. Dalam perjalanan tersebut, ia bertemu Megara yang sinis tetapi menarik serta para Muse yang menjadi pemandu cerita.

    Selain animasinya yang penuh warna, Hercules juga dikenal berkat lagu-lagu ciptaan Alan Menken dan humor khas Disney. Namun, salah satu karakter yang paling mencuri perhatian adalah Hades dengan gaya bicara cepat dan sarkastis yang diperankan oleh James Woods. Film ini tidak terlalu serius dalam membahas mitologi, tetapi tetap menyisipkan banyak referensi terhadap kisah dan tokoh Yunani.

    Film-film di atas menunjukkan betapa luasnya kemungkinan yang lahir dari mitologi Yunani. Dari lima film mitologi Yunani dengan rating tertinggi di Rotten Tomatoes tersebut, mana yang paling ingin kamu tonton lebih dulu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More