Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Film tentang Kemiskinan Struktural, Tonton biar Bisa Empati

5 Film tentang Kemiskinan Struktural, Tonton biar Bisa Empati
Cyclo (dok. Films at Lincoln Center/Cyclo)
Intinya Sih
  • Kemiskinan gak selalu lahir dari kemalasan, tetapi juga dari sistem yang timpang.

  • Lima film ini menunjukkan bagaimana ketidakadilan sosial membentuk kehidupan orang-orang miskin.

  • Daftar film ini cocok ditonton buat menumbuhkan empati dan memahami akar kemiskinan struktural.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bayangkan betapa mudahnya jadi pelaksana pemerintahan di sebuah negara dengan kesadaran kelas yang rendah. Bukannya menuntut perbaikan sistem yang penuh celah, warga negara dengan kesadaran kelas rendah terbiasa untuk melihat masalah sebagai kesalahan pribadi. Kemiskinan dalam lanskap sosial yang timpang, misalnya, bukannya dilihat sebagai ketidakberesan, justru dikerdilkan jadi isu kemalasan dan kebodohan belaka.

Padahal, bila diurut dan mau dibedah, gak sedikit orang rajin dan cerdas yang tersisih karena sistem yang tidak berpihak kepada mereka. Sebaliknya, orang-orang yang sebenarnya gak kompeten, tetapi pandai bersilat lidah dan mencari celah dalam sistem, bisa memuncaki posisi-posisi strategis. Agar gak lagi gegabah menghakimi situasi orang lain yang tampak gak beruntung secara finansial, coba tonton deretan film yang menyoal kemiskinan struktural berikut, deh.

1. The Only Son (1936)

The Only Son
The Only Son (dok. Criterion/The Only Son)

Di tengah keterbatasannya, seorang ibu tunggal mengusahakan segalanya demi memastikan putra semata wayangnya bisa mengakses pendidikan terbaik. Setelah menabung dan menghemat bertahun-tahun dari pekerjaannya sebagai buruh, sang ibu berhasil mengirim putranya ke Tokyo untuk melanjutkan pendidikan. Dua belas tahun kemudian, sang ibu memutuskan untuk menjenguk putranya yang bernama Ryosuke itu. Namun, di luar ekspektasi si ibu, Ryosuke ternyata tetap hidup dalam kesederhanaan bersama istri dan anak. Film ini menunjukkan realitas yang kerap terjadi bahwa kondisi finansial orangtua kerap berpengaruh besar terhadap kondisi ekonomi keturunan mereka. Ini juga tentang ekspektasi orangtua terhadap anak yang kadang gak sejalan dengan tantangan zaman dan aspirasi anak itu sendiri.

  • Genre: drama
  • Pemain: ChĆ“ko Iida, Shin’ichi Himori
  • Sutradara: Yasujiro Ozu

2. Cyclo (1995)

Cyclo
Cyclo (dok. Films at Lincoln Center/Cyclo)

Cyclo diambil dari nama lakon film ini, seorang bocah yang lahir di tengah kemiskinan di Saigon. Sejak belia, Cyclo harus bekerja menghidupi diri sendiri dan keluarganya. Hari apes gak ada di kalender. Sepeda yang jadi aset utamanya mencari nafkah dicuri dan ia terpaksa mencari solusi alternatif untuk tetap bisa makan. Ia akhirnya bekerja untuk seorang tetua geng bernama Poet yang gak hanya memintanya jadi kurir narkoba, tetapi juga menyandera saudari Cyclo untuk jadi pekerja seks. Mirisnya, mereka semua masih di bawah umur dan harus mengarungi kejamnya dunia.

  • Genre: neo-noir, drama
  • Pemain: Tony Leung Chiu Wai, Tran Nu Yen Khe
  • Sutradara: Tran Anh Hung

3. If Only I Could Hibernate (2024)

If Only I Could Hibernate
If Only I Could Hibernate (dok. Amygdala Films/If Only I Could Hibernate)

Lahir di tengah kemiskinan di negara yang minim layanan dasar, apalagi jaminan sosial, Ulzii, murid SMA di Ulan Bator, Mongolia, terancam putus sekolah. Sepeninggal ayahnya yang bekerja sebagai buruh harian, ibunya kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari Ulzii dan adik-adiknya. Sebagai anak tertua, Ulzii diharapkan jadi tulang punggung baru untuk keluarganya. Kondisi sulit ini disayangkan pihak sekolah mengingat Ulzii adalah murid cerdas dan berprestasi di sekolah. Namun, inilah realitas sulit yang harus dihadapi anak-anak seperti Ulzii.

  • Genre: drama, coming-of-age
  • Pemain: Battsooj Uurtsaikh, Nominjiguur Tsend
  • Sutradara: Zoljargal Purevdash

4. The White Tiger (2021)

The White Tiger
The White Tiger (dok. Netflix/The White Tiger)

Balram adalah pemuda dari kasta rendah di India yang seumur hidupnya didoktrin bahwa ia gak akan bisa setara dengan orang-orang dari kasta lain. Ia menyaksikan berbagai ketidakadilan, tetapi gak pula mempertanyakannya. Sampai satu hari, krisis identitas menghampirinya. Ini tepatnya ketika ia bekerja jadi sopir untuk keluarga kaya dan dijadikan tumbal untuk kesalahan majikannya. Gak terima, ia memutuskan untuk memberontak dengan cara gak biasa. Meski agak ekstrem, film ini memotret kemiskinan struktural dengan cara yang cukup unik dan akurat. Nyatanya, memang keluar dari kemiskinan itu bukan hal mudah, apalagi sesederhana bekerja keras.

  • Genre: komedi gelap, kriminal
  • Pemain: Adarsh Gourav, Priyanka Chopra
  • Sutradara: Ramin Bahrani

5. Ma’ Rosa (2016)

Ma' Rosa
Ma' Rosa (dok. Center Stage Productions/Ma' Rosa)

Ma’ Rosa adalah ibu paruh baya yang punya toko kelontong kecil-kecilan di rumahnya, di sebuah gang Manila, Filipina. Berbulan-bulan sepi, Ma’ Rosa akhirnya tergiur untuk menjual narkoba di tokonya. Tentu bisnis sampingannya itu gak bikin Ma’ Rosa kaya raya, hanya meningkatkan sedikit penghasilannya. Apesnya, ia terciduk polisi bersama suami yang juga membantunya menjalankan bisnis ilegal itu. Masalahnya, Ma’ Rosa punya anak-anak yang masih membutuhkannya. Adapun, untuk bebas, polisi meminta uang jaminan yang gak sedikit. Kombinasi antara kemiskinan, absennya pemerintah dalam menjamin kesejahteraan, dan aparat yang korup bikin film ini terasa lekat dengan pengalaman di negeri sendiri.

  • Genre: neorealisme
  • Pemain: Jaclyn Jones, Julio Diaz
  • Sutradara: Brillante Mendoza

Kemiskinan memang disebabkan oleh banyak faktor. Kerja keras, kepiawaian melihat peluang, dan akses pendidikan memang bisa memperbaiki nasib seseorang. Namun, tanpa perubahan sistemik seperti kesetaraan akses, kemiskinan akan tetap eksis dan jadi siklus yang gak berujung. Jadi, masih mau menghakimi kemiskinan dan menyederhanakannya sebagai isu pribadi? Coba tonton film-film tadi untuk memperluas wawasan, yuk!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More