Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

10 Film Tentang Perempuan Cocok Ditonton saat Hari Kartini 2026

10 Film Tentang Perempuan Cocok Ditonton saat Hari Kartini 2026
poster film Kartini (instagram.com/legacy.pictures)
Intinya Sih
  • Artikel in merekomendasikan sepuluh film bertema perempuan yang cocok ditonton untuk merayakan Hari Kartini 2026 dengan cara santai namun tetap bermakna.

  • Film-film seperti Sokola Rimba, Athirah, dan Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak menyoroti perjuangan perempuan dalam pendidikan, keluarga, hingga keberanian melawan ketidakadilan.

  • Deretan film ini mengajak penonton memahami semangat juang dan kemandirian perempuan Indonesia dari berbagai latar kehidupan serta generasi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Saat ini, merayakan Hari Kartini gak cuma dilakukan lewat upacara atau mengenakan kebaya saja, tapi juga bisa dengan cara yang lebih santai seperti menonton film tentang perempuan cocok ditonton saat Hari Kartini. Film-film ini gak cuma bisa jadi hiburan me-time kamu, namun juga inspirasi, pelajaran hidup, dan sudut pandang baru tentang perjuangan perempuan.

Mulai dari kisah perjuangan pendidikan, karier, hingga pencarian jati diri, deretan film ini siap membuka wawasan kamu tentang berbagai realita kehidupan sebagai perempuan. Biar kamu punya referensi tontonan yang bermakna di momen spesial ini, yuk simak rekomendasinya sampai akhir!

Table of Content

1. Sokola Rimba (2013)

1. Sokola Rimba (2013)

Film tentang perempuan cocok ditonton saat Hari Kartini yang pertama ada Sokola Rimba. Menariknya, film ini diangkat dari kisah nyata Butet Manurung, seorang aktivis dan pendidik yang mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat adat di Indonesia.

Sokola Rimba menceritakan tentang Butet Manurung (Prisia Nasution) bekerja di sebuah lembaga konservasi di wilayah Jambi. Ia memiliki tugas dan passion untuk mengajarkan baca-tulis dan berhitung kepada anak-anak masyarakat adat Suku Dalam yang tinggal di hulu sungai Makekal di hutan Bukit Duabelas.

Konflik mulai muncul saat Butet terkena penyakit malaria di tengah hutan. Ia diselamatkan oleh seorang anak kecil bernama Nyungsang Bungo yang berasal dari hilir sungai Makekal. Bungo ternyata diam-diam telah lama memperhatikan Butet mengajar di hulu dan ia sangat ingin belajar membaca.

Butet pun merasa terpanggil untuk membantu kelompok Bungo di hilir. Namun, niat baiknya terhalang adat dan kepercayaan dari masyarakat setempat.

2. Athirah (2016)

Berikutnya ada film Athirah yang diangkat dari kisah nyata Ibunda Jusuf Kalla. Salah satu film karya sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana ini menceritakan kehidupan Athirah (Cut Mini) dan anaknya, Jusuf Kalla (Christoffer Nelwan) setelah menjadi single parent.

RUmah tangga Athirah yang semula bahagia dan harmonis mulai goyah saat suaminya, Puang Ajji (Arman Dewarti) memutuskan untuk menikah lagi dengan perempuan lain.  Di masa itu, poligami adalah hal yang biasa secara sosial.

Alih-alih menyerah atau terus meratapi nasib, Athirah memilih untuk mandiri secara ekonomi dengan berjualan kain sutra. Perkerjaan ini ia lakukan agar tetap bisa menghidupi anak-anaknya dan menjaga harga dirinya sebagai seorang perempuan dan ibu.

3. 3 Srikandi (2016)

Film selanjutnya yang cocok ditonton saat Hari Kartini ada 3 Srikandi. Berlatar tahun 1988, film ini mengangkat kisah dunia olahraga Indonesia yang sedang berada di titik kritis menjelang Olimpiade Musim Panas ke-24 di Seoul, Korea Selatan.

Dipanggillah Donald Pandiangan (Reza Rahadian), seorang legenda panahan yang dikenal sebagai Robin Hood Indonesia. Donald adalah sosok yang keras, disiplin, bahkan cenderung sinis karena luka masa lalunya yang gagal berangkat ke Olimpiade 1980 akibat boikot politik.

Tugas utamanya adalah melatih tiga atlet panahan perempuan terbaik, yaitu Nurfitriyana Saiman (Bunga Citra Lestari), Lilies Handayani (Chelsea Islan), dan Kusuma Wardhani (Tara Basro).

Di bawah pelatihan Donald yang sangat keras dan disiplin, ketiga perempuan ini tidak hanya dilatih membidik sasaran secara fisik, tetapi juga bertarung melawan konflik pribadi, ego, dan tekanan mental masing-masing. 

4. Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Berikutnya, ada film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak yang tayang pada 2017. Film ini mencertiakan perjalanan Marlina (Marsha Timothy), seorang janda yang tinggal sendirian di sebuah rumah terpencil di puncak perbukitan Sumba.

Hidupnya yang tenang berubah menjadi mimpi buruk ketika seorang laki-laki bernama Markus (Egi Fedly) datang ke rumahnya. Ia dan kawan-kawannya menyatakan akan merampok ternak Marlina dan meniduri Marlina malam itu juga.

Marlina terpaksa melayani komplotan perampok tersebut dengan menyajikan makanan. Namun, dengan kecerdikannya, ia mencampur racun ke dalam masakan tersebut. Saat Markus, mencoba memperkosanya, Marlina mengambil tindakan ekstrem dengan memenggal kepala Markus untuk membela diri.

Keesokan harinya, Marlina memulai perjalanan panjang melintasi padang sabana Sumba sambil membawa kepala Markus yang terpenggal. Di tengah jalan ia bertemu dengan Novi (Dea Panendra), seorang perempuan hamil yang juga sedang menghadapi masalah hidupnya sendiri.

Setibanya di kantor polisi, Marlina justru menghadapi kenyataan pahit. Bukannya mendapatkan perlindungan segera, ia malah terjebak birokrasi yang lambat dan sikap polisi yang tampak tidak peduli terhadap kasus kekerasan seksual yang dialaminya.

5. Kartini (2017)

Film ini mengangkat kisah nyata perjuangan R.A. Kartini yang diperankan Dian Sastrowardoyo. Ia merupakan seorang perempuan bangsawan Jawa yang hidup di tengah kuatnya tradisi patriarki pada masa kolonial Belanda. Sejak kecil, Kartini sudah melihat ketidakadilan yang dirasakan oleh ibunya karena bukan dari kalangan ningrat.

Saat beranjak dewasa, Kartini harus menjalani tradisi pingitan yang membatasi kebebasannya. Namun, kondisi tersebut justru membentuk pemikirannya untuk melawan ketidakadilan, terutama dalam hal pendidikan bagi perempuan. Dengan dukungan saudara-saudaranya, ia mulai memperjuangkan kesetaraan dan mendirikan sekolah untuk masyarakat yang kurang mampu.

6. Susi Susanti: Love All (2019)

Kembali dengan kisah atlet perempuan yang mengharumkan nama bangsa, kali ini ada film Susi Susanti: Love All yang tayang pada 2019. Film ini menceritakan perjalanan hidup Susi Susanti (Laura Basuki) sejak ia masih kecil di Tasikmalaya hingga berhasil meraih medali emas pertama untuk Indonesia di Olimpiade Barcelona 1992.

Susi harus menghadapi berbagai rintangan berat, mulai dari latihan fisik yang sangat keras hingga isu identitas dan kewarganegaraan yang rumit pada masa itu. Film ini juga menyoroti bagaimana perjuangan perempuan tidak hanya soal meraih prestasi, tetapi juga diskriminasi dan pilihan hidup yang tidak mudah.

7. Yuni (2021)

Ada juga film Yuni yang mencertikan kisah seorang siswi SMA berprestasi dengan mimpi besar untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun di tengah impiannya tersebut, Yuni (Arawinda Kirana) harus menghadapi mitos dan tekanan sosial di lingkungannya yang masih sangat kental dengan tradisi pernikahan usia dini.

Masalah mulai muncul ketika Yuni dilamar oleh seorang laki-laki yang hampir tidak dikenalnya. Yuni pun menolak lamaran tersebut demi mengejar mimpinya. Tak lama kemudian, datanglah lamaran kedua. Yuni akhirnya kembali menolaknya.

Namun, tentunya penolakan ini mulai memicu pembicaraan negatif di lingkungannya. Mitosnya, seorang perempuan yang menolak tiga kali lamaran, maka ia tidak akan pernah menikah selamanya.

Melalui kisah Yuni, penonton diharapkan dapat memahami pentingnya kebebasan perempuan dalam menentukan pilihan hidupnya sendiri. Film ini juga mengajak kamu untuk lebih peka terhadap isu pendidikan, budaya, dan hak perempuan di era modern.

8. Before, Now & Then (Nana) (2022)

Berikutnya, ada film berjudul Before, Now & Then (Nana) yang dirilis pada tahun 2022. Film karya Kamila Andini ini berlatar di Jawa Barat pada era 1960-an, di mana Nana (Happy Salma) harus kehilangan keluarganya akibat konflik di masa lalu.

Kini, ia menjalani kehidupan baru sebagai istri dari seorang pria kaya. Namun, di balik kehidupan yang terlihat tenang, Nana menyimpan luka dan ketakutan yang mendalam.

Keadaan menjadi semakin menarik ketika Nana mengetahui bahwa suaminya memiliki simpanan bernama Ino (Laura Basuki). Alih-alih menjadi musuh seperti dalam kebanyakan cerita, Nana dan Ino justru menjalin hubungan yang hangat dan penuh empati.

Dari persahabatan tersebut, Nana perlahan belajar memahami dirinya sendiri, menerima masa lalu, serta menemukan kembali kekuatan untuk melanjutkan hidup.

9. Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang (2023)

Di Hari Kartini, gak ada salahnya untuk kamu menonton kisah inspiratif perempuan modern. Jalan yang Jauh Jangan Lupa Pulang menceritakan perjalanan Aurora (Sheila Dara), anak tengah yang memilih menetap di London untuk mengejar impiannya menjadi seorang seniman.

Jauh dari keluarganya di Jakarta, Aurora berusaha membangun dunianya sendiri. Namun, hidup di negeri orang ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Ia harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari masalah finansial, hubungan yang tidak sehat, hingga rasa kesepian karena jauh dari orang-orang terdekat.

Situasi tersebut membuat Aurora berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia harus berjuang sendirian menghadapi realita yang tidak selalu sesuai harapan, sekaligus menemukan cara untuk bangkit dari keterpurukan.

Dalam prosesnya, Aurora mulai memahami arti keluarga, pentingnya dukungan emosional, serta belajar untuk mencintai dirinya sendiri. Film ini akan terasa semakin relate dengan para Kartini muda yang saat ini tengah berjuang untuk meraih mimpi dan bertahan di tengah kerasnya kehidupan.

10. Home Sweet Loan (2024)

Terakhir, ada Home Sweet Loan yang juga mengangkat perjuangan perempuan muda di tengah tekanan finansial dan keluarga. Film ini menceritakan kisah Kaluna (Yunita Siregar), seorang perempuan pekerja yang hidup sebagai sandwich generation.

Ia memiliki impian sederhana, yaitu memiliki rumah sendiri agar bisa mandiri dan keluar dari rumah orang tuanya. Pasalnya, rumah tersebut ditinggali oleh kakak-kakaknya beserta keluarga mereka, sehingga membuat Kaluna tidak memiliki tempat untuk dirinya sendiri.

Di balik ambisinya tersebut, ia harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari mahalnya harga properti, tuntutan gaya hidup, hingga ekspektasi orang lain yang sering kali membebani perempuan di usia produktif. FIlm ini menggambarkan realita yang dekat dengan kehidupan banyak perempuan masa kini. Sudah nonton filmnya, belum?

Menonton film tentang perempuan cocok ditonton saat Hari Kartini 2026 gak cuma bisa menemani aktivitasmu, tapi juga membawa semangat juang Raden Ajeng Kartini di masa kini.

FAQ seputar film tentang perempuan untuk Hari Kartini

Kenapa film tentang perempuan cocok ditonton saat Hari Kartini?

Karena film-film ini menggambarkan perjuangan, emansipasi, dan peran penting perempuan dalam kehidupan, sejalan dengan semangat Hari Kartini.

Film mana yang paling inspiratif?

Kartini dan Sokola Rimba sangat direkomendasikan buat ditonton saat Hari Kartini.

Apakah film-film ini hanya untuk perempuan?

Tidak. Film tentang perempuan justru penting ditonton semua kalangan agar bisa memahami perspektif yang lebih luas.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nafi Khoiriyah
EditorNafi Khoiriyah
Follow Us

Latest in Hype

See More