Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Film Bioskopnya Sudah 3 Jam, Apa yang Baru dari Bumi Manusia Extended?
Ngobrol Bersama "Bumi Manusia Extended" di kantor Falcon Pictures, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
  • Hanung Bramantyo mengumumkan penayangan Bumi Manusia Extended (2026), versi baru dengan tambahan adegan yang memperluas konflik sosial dan kolonial di balik kisah cinta Minke dan Annelies.
  • Versi extended menampilkan karakter dan dinamika yang sebelumnya terpotong, termasuk hubungan Minke dengan Jean Marais serta penggambaran lebih jelas tentang perbedaan kelas sosial pada masa kolonial.
  • Hanung berharap versi ini memberi konteks sejarah lebih lengkap, sejalan dengan selera penonton masa kini yang lebih siap menikmati film berdurasi panjang dan bertempo lambat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Hanung Bramantyo menyambut antusias penayangan Bumi Manusia Extended (2026), versi terbaru dari film Bumi Manusia yang diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer. Versi ini akan menghadirkan berbagai adegan tambahan yang sebelumnya tidak sempat muncul dalam versi bioskop 7 tahun lalu.

Suami Zaskia Adya Mecca itu mengatakan, banyak pembaca novel yang dulu mempertanyakan kenapa filmnya lebih fokus pada kisah cinta Minke dan Annelies. Padahal, dalam novel terdapat banyak lapisan konflik, yang sayangnya tidak digali secara mendalam di film tersebut. Ia pun menjelaskan alasannya.

1. Hanung menjelaskan Bumi Manusia versi bioskop banyak dipotong karena durasi

Hanung Bramantyo saat ditemui di kantor Falcon Pictures, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Menurut Hanung, versi extended akan menjelaskan lebih jauh latar belakang konflik yang terjadi dalam cerita. Konflik tersebut tidak hanya berkaitan dengan percintaan, tetapi juga hubungan antara bangsa Belanda dan pribumi pada masa kolonial.

"Itu kan ada persoalan yang tidak semata-mata persoalan cinta, tapi ada persoalan yang dilatarbelakangi oleh ras, dilatarbelakangi oleh kultur, geopolitik dilatarbelakangi oleh latar belakang relasi antara orang-orang Belanda dan orang-orang pribumi pada saat itu," ujar Hanung saat ditemui di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).

Film Bumi Manusia sendiri pertama kali tayang di bioskop Indonesia pada Agustus 2019 dengan durasi hampir tiga jam. Meski terbilang panjang, Hanung mengaku banyak adegan yang harus dipotong karena keterbatasan durasi penayangan di bioskop.

"Hasil syutingnya 6 jam, terus harus dipangkas menjadi 120 menit maksimal. Itu berat sekali. Akhirnya ya sudah tembus jadi 2 jam setengah, bakal nyaris sampai kalau gak salah 3 jam. Ya mau tidak mau agar supaya film itu utuh dari awal, tengah, sama akhir," akunya.

2. Beberapa adegan baru yang tidak ada di versi bioskop akan tampil di extended

Hanung Bramantyo saat ditemui di kantor Falcon Pictures, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Dalam Bumi Manusia Extended, penonton akan melihat cerita yang lebih lengkap. Versi ini tidak hanya berfokus pada hubungan romansa Minke dan Annelies, tetapi juga menampilkan dinamika karakter lain yang sebelumnya kurang tergarap.

"Terutama itu ya, si Jean Marais, si laki-laki Prancis itu yang punya anak satu. Hubungan dia sama Minke itu kan kalau di filmnya kurang tergarap dengan baik karena banyak scene-nya yang dibuang. Nah, sekarang coba kita masukkan," jelas Hanung.

Hanung menuturkan bahwa versi extended akan memberikan penjelasan lebih rinci mengenai latar belakang konflik yang muncul dalam cerita. Konflik antar kelas sosial yang menjadi inti dari novel Pramoedya pun akan lebih terlihat dalam versi ini.

"Bahkan ketika nonton di bioskop aja itu ada pembagian kelas Belanda sendiri, kelas pribumi sendiri, kelas bangsawan sendiri. Itu tergambar dengan jelas di dalam novelnya," tambahnya.

3. Hanung berharap versi extended dapat memberikan lebih banyak konteks dalam film Bumi Manusia

Hanung Bramantyo saat ditemui di kantor Falcon Pictures, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Hanung menilai bahwa penonton Indonesia saat ini lebih siap menikmati film dengan tempo lambat dan cerita yang kompleks dibandingkan tujuh tahun lalu. Itulah yang membuat dirinya percaya diri untuk menampilkan Bumi Manusia yang lebih utuh sesuai dengan napas novel Pramoedya Ananta Toer.

"Mungkin kalau sekarang itu kan dengan kehadiran beberapa serial-serial Indonesia di Netflix yang menampilkan sejarah yang cukup detail dan sangat pelan. Jadi pacing-nya pelan. Itu kalau dikonversikan pada 7 tahun yang lalu nggak masuk," tuturnya.

Ia berharap versi extended bisa memberikan konteks yang lebih lengkap bagi penonton, termasuk detail kecil yang sebenarnya penting dalam menggambarkan perubahan zaman. Ia mengambil contoh adegan saat Minke mengobrol bersama Robert Suurhof sembari memakan es krim.

"Bagi anak-anak sekarang itu kan ya, itu es krim aja. Itu es krim sebagaimana sekarang. Mereka tidak bisa menggali. Itu dulu 7 tahun yang lalu. Mungkin anak sekarang ketika menonton itu akan melihat ada es krim yang 'sama' kayak sekarang. Moga-moga mereka ngulik soal itu," tutup Hanung.

Editorial Team