Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kelebihan dan Kekurangan Anime Shounen Modern, Apa Saja?

Denji vs. Katana Man
Denji vs. Katana Man (dok. MAPPA/Chainsaw Man)
Intinya sih...
  • Animasi berkualitas tinggi menjadi daya tarik anime shounen modern.
  • Anime shounen modern berhasil mengatasi masalah episode filler yang sering terjadi pada anime shounen klasik.
  • Anime shounen modern cenderung terlalu mainstream dan kurang orisinal dalam plot dan karakter.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dari zaman Dragon Ball sampai sekarang, anime syonen atau shounen masih menjadi genre paling populer dalam industri anime. Meski pada dasarnya adalah seri yang dibuat untuk remaja, anime shounen selalu dapat dinikmati oleh semua kalangan, baik remaja maupun orang dewasa. Dengan adanya perkembangan zaman, anime shounen juga terus mengalami evolusi. 

Bisa dibilang, anime shounen modern berhasil memperbaiki kesalahan yang sering dilakukan oleh anime shounen klasik. Namun, di sisi lain, anime shounen modern juga memiliki beberapa kekurangan yang membuatnya tidak begitu unggul dari anime shounen klasik. Nah, pada kesempatan kali ini, penulis akan membahas kelebihan dan kekurangan anime shounen modern. Yuk, simak ulasannya!

1. Animasi yang lebih berkualitas

Kenjaku menyegel Gojo.
Kenjaku menyegel Gojo. (dok. MAPPA/Jujutsu Kaisen)

Dengan teknologi yang terus berkembang, anime shounen modern jelas memiliki animasi yang jauh lebih baik dari anime shounen klasik. Saat ini, industri anime shounen memiliki banyak studio yang sudah melahirkan banyak anime dengan animasi yang memanjakan mata, seperti Bones, ufotable, MAPPA, hingga WIT STUDIO. Hal ini tentunya menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi anime shounen modern. 

Jika dibandingkan, tentunya anime shounen klasik jauh tertinggal dari anime shounen modern dalam segi kualitas animasi. Banyak adegan dalam anime shounen klasik yang terasa aneh karena eksekusinya yang kurang baik. Tak hanya itu, tidak sedikit juga pertarungan dalam anime shounen klasik yang seharusnya epik, tetapi malah menjadi aneh karena kualitas animasinya yang tidak terlalu baik. 

Untungnya, masalah ini berhasil diatasi oleh anime shounen modern. Kebanyakan anime shounen modern tidak pernah gagal dalam menyuguhkan pertarungan epik dengan animasi yang berkualitas tinggi. Banyak pertarungan anime shounen modern yang akan terus diingat karena animasinya yang luar biasa, seperti pertarungan pada Entertainment District Arc dalam Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba atau pertarungan pada Shibuya Incident Arc dalam Jujutsu Kaisen

Meski begitu, hal ini sebenarnya sangat bisa dimaklumi. Perkembangan teknologi tentunya sangat berperan penting dalam membantu semua sektor industri hiburan, termasuk industri anime. Membuat animasi zaman dulu tentunya lebih sulit dan rumit ketimbang zaman sekarang. Terlebih, kebanyakan anime shounen klasik memiliki sistem kejar tayang sehingga tidak memiliki cukup waktu untuk menciptakan animasi yang mewah.

2. Minimnya episode filler

Izuku Midoriya
Izuku Midoriya (dok. Bones/My Hero Academia)

Episode filler sering menjadi masalah besar bagi anime shounen klasik. Biasanya, episode filler digunakan oleh studio ketika anime mulai menyusul manga. Sambil mengumpulkan materi manganya, anime shounen klasik kerap menyuguhkan penonton dengan episode filler yang tidak penting. 

Hal ini tidak hanya membuat laju anime menjadi lebih lambat, tetapi penonton juga harus membuang waktu untuk menyaksikan sesuatu yang bahkan bukan kanon. Untungnya, hal ini berhasil diatasi oleh anime shounen modern. Kebanyakan anime shounen modern biasanya membagi anime mereka ke dalam beberapa musim. 

Dengan hanya memiliki 12 atau 24 episode, anime shounen modern tidak perlu takut lagi akan kehabisan materi manga. Hal ini mungkin membuat penonton harus menunggu lebih lama. Meski begitu, cara ini terbukti efektif untuk menghindari episode filler. Dengan membagi seri ke beberapa musim, studio tidak perlu lagi menyuguhkan penonton dengan cerita yang bertele-tele, tetapi tidak memiliki pengaruh pada cerita utama. 

3. Terlalu mainstream dan hanya mengikuti anime shounen klasik

Asta dan Yuno
Asta dan Yuno (dok. Pierrot/Black Clover)

Anime shounen modern mungkin berhasil memperbaiki kesalahan anime shounen klasik dalam segi animasi dan episode filler. Namun, secara plot dan karakter, anime shounen klasik jauh lebih orisinal. Kebanyakan anime shounen modern terlalu mengikuti anime-anime pendahulunya. 

Anime shounen modern sering datang dengan format yang sama, seperti karakter utama yang lemah, lalu berkembang menjadi kuat; rivalitas; hingga pembangunan dunia dan sistem kekuatan yang mirip dengan anime shounen klasik. Bagi penikmat anime shounen klasik, mereka langsung akan teringat pada Bleach begitu menonton Jujutsu Kaisen. Pasalnya, dari karakter utama, plot, pembangunan dunia, hingga sistem kekuatan, Jujutsu Kaisen sangat mirip dengan Bleach

Tidak bisa dimungkiri, sang kreator, Gege Akutami, juga mengakui bahwa Jujutsu Kaisen memang terinspirasi dari seri karya Tite Kubo tersebut. Contoh lainnya mungkin terdapat pada Black Clover, terutama karakter Asta. Sifat keras kepala, pantang menyerah, rivalitas dengan Yuno, sampai impiannya menjadi Raja Sihir mengingatkan kita pada Naruto. Terlebih, kedua anime ini juga diproduksi oleh studio yang sama, yaitu Pierrot.

4. Terlalu bergantung pada visual

Tanjiro mengaktifkan Tanda Pemburu Iblis.
Tanjiro mengaktifkan Tanda Pemburu Iblis. (dok. ufotable/Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba)

Perlu diakui jika anime shounen modern memiliki visual yang jauh lebih baik dari anime shounen klasik. Namun, hal ini membuat anime shounen modern terlalu bergantung pada visual yang indah. Meski anime shounen klasik memiliki animasi yang pas-pasan, penonton tetap bisa menikmati alur cerita yang kompleks dan menarik. 

Berbeda dengan zaman sekarang, banyak orang yang menonton anime shounen modern hanya karena animasi yang memanjakan mata. Beberapa anime shounen modern memiliki cerita yang sebenarnya sangat standar, tetapi diselamatkan oleh animasi yang indah. Contoh paling mencolok mungkin adalah Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba karya Koyoharu Gotouge. 

Dari plot, Demon Slayer sebenarnya memiliki cerita yang terlalu biasa untuk ukuran anime shounen. Visual manganya juga terlalu biasa saja jika dibandingkan dengan manga shounen pada umumnya. Namun, Demon Slayer berhasil mendapatkan ketenaran yang luar biasa berkat ufotable yang berhasil mengeksekusi versi anime seri ini dengan visual yang memanjakan mata. 

5. Jadi, mana yang lebih bagus? Anime shounen modern atau klasik?

Goku vs. Piccolo Junior
Goku vs Piccolo Junior (dok. Toei Animation/Dragon Ball)

Jika dibandingkan mana yang lebih baik antara anime shounen modern dan klasik, tentunya keduanya memiliki keunggulan masing-masing. Anime shounen modern unggul dalam segi animasi dan laju yang tidak bertele-tele, tetapi juga tidak terburu-buru. Bagaimanapun, anime shounen berhasil memperbaiki banyak kesalahan besar yang sering dilakukan oleh anime shounen klasik. 

Meski begitu, anime shounen klasik mungkin lebih berkesan karena cerita yang orisinal dan pembangunan dunia yang lebih kompleks. Buktinya, sampai sekarang, tidak ada yang bisa mengalahkan Big Three Shounen, yaitu Naruto, Bleach, dan One Piece. Tak hanya itu, seri karya Akira Toriyama, Dragon Ball, juga masih menjadi seri shounen paling berpengaruh meski datang dengan animasi yang jadul dan jauh dari kata memanjakan mata. 

Terlepas dari beberapa keunggulan anime shounen modern, ada beberapa hal yang tetap membuat anime shounen klasik lebih unggul. Meski anime shounen modern berhasil memperbaiki beberapa kesalahan anime shounen klasik, anime shounen modern tetap belum memiliki pengaruh yang lebih besar. Jadi, bagaimana menurutmu? Kamu lebih suka anime shounen modern atau klasik?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us