Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Looks-nya Minoritas, Morgan Oey Gak Mau Sia-siakan Tawaran Film Bagus

Looks-nya Minoritas, Morgan Oey Gak Mau Sia-siakan Tawaran Film Bagus
potret Morgan Oey di kantor IDN, Jakarta, Jumat (4/9/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
  • Morgan Oey menilai penampilannya sebagai representasi minoritas membuat tawaran peran film bagus lebih terbatas, sehingga ia memandang setiap kepercayaan sebagai privilege yang tidak boleh disia-siakan.
  • Usai berkarier di musik bersama SM*SH, Morgan sempat bimbang meninggalkan industri hiburan. Tawaran sinetron membuatnya melanjutkan perjalanan hingga ke film dan Duta FFI 2026.
  • Nominasi Piala Citra 2025 untuk Pengepungan di Bukit Duri membuat Morgan merasa diakui dan menjadi bagian industri film Indonesia, sembari ingin mengeksplorasi pekerjaan belakang layar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Di balik pencapaiannya sebagai Duta Festival Film Indonesia (FFI) 2026, Morgan Oey mengaku perjalanan kariernya sebagai aktor tidak selalu berjalan mulus. Bagi pemain film Pengepungan di Bukit Duri itu, setiap kesempatan untuk bermain film memiliki arti yang sangat besar.

Dalam media visit di kantor IDN Times, Jakarta, Jumat (4/9/2026), Morgan mengungkap realita yang dihadapinya sebagai aktor dengan penampilan yang merepresentasikan kelompok minoritas. Menurutnya, kondisi tersebut membuat pilihan peran yang datang kepadanya tidak sebanyak aktor yang merepresentasikan mayoritas. Oleh karena itu, ketika dipercayai untuk membintangi film yang dinilainya bagus, Morgan pun melihatnya sebagai sebuah privilege yang sangat berarti.

  1. 1. Morgan Oey ungkap realitas jadi aktor dengan penampilan minoritas, kesempatan yang datang sangat terbatas

    Morgan Oey berpose untuk potret di kantor IDN, Jakarta, pada Jumat, 4 September 2026.
    potret Morgan Oey di kantor IDN, Jakarta, Jumat (4/9/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Morgan Oey secara terbuka mengungkap realitas yang ia rasakan sebagai aktor dengan penampilan yang menurutnya tidak merepresentasikan mayoritas masyarakat Indonesia. Menurut aktor keturunan Tionghoa tersebut, hal itu membuat pilihan peran yang datang kepadanya terasa lebih terbatas.

    Ia melihat cerita film Indonesia masih banyak berkutat pada karakter dan kehidupan masyarakat mayoritas. Oleh karena itu, ketika mendapat kesempatan untuk bermain dalam film yang menurutnya bagus, Morgan memandangnya sebagai sebuah privilege.

    “Secara looks saya tidak merepresentasikan mayoritas masyarakat Indonesia, saya merepresentasikan masyarakat minoritas. Jadi gak banyak dapat kesempatan main di film bagus yang rata-rata ceritanya masih berputar di mayoritas. Kalau misalnya saya dapat kesempatan, itu sebuah privilege yang benar-benar luar biasa buat saya, dan sebagai aktor saya gak boleh menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang berikan kepada saya,” kata Morgan dengan mata berkaca-kaca.

    Morgan menyadari bahwa perjuangan seorang aktor untuk mendapatkan peran, terutama sebagai bagian dari kelompok minoritas, tidak selalu terlihat oleh penonton. Menurutnya, penonton hanya melihat hasil akhirnya ketika film sudah tayang. Padahal, ada proses panjang dan berbagai stigma yang harus dilewati untuk mendapatkan kesempatan tersebut.

    “Mungkin orang cuma bisa nonton filmnya, tapi mereka gak tahu proses di balik semuanya. Gimana kita bisa sampai di titik seperti ini dengan melewati segala macam stigma yang ada,” lanjutnya.

  2. 2. Sempat ingin berhenti dari industri hiburan setelah bermusik

    Morgan Oey berpose untuk sesi potret di kantor IDN Times, Jakarta, pada Jumat, 4 September 2026.
    potret Morgan Oey di kantor IDN, Jakarta, Jumat (4/9/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Dalam wawancara yang berlangsung sekitar 30 menit, Morgan Oey juga mengenang perjalanan panjangnya di industri hiburan. Sebagaimana diketahui, sebelum fokus menjadi aktor, ia sudah populer sebagai salah satu personel SM*SH.

    Setelah perjalanan di industri musik tersebut, Morgan ternyata sempat merasa bimbang untuk melanjutkan kariernya di dunia hiburan atau berhenti saja. Namun, kesempatan bermain sinetron datang di tengah kebimbangannya tersebut. Ia pun melihat tawaran itu sebagai jawaban dari doanya agar tidak buru-buru meninggalkan dunia hiburan.

    “Dari musik saya akhirnya dapat kesempatan sinetron, ya udah saya jalanin. Karena waktu itu saya juga lagi bimbang, apakah setelah dari musik saya mau memutuskan untuk berhenti di dunia entertainment apa gak? Tapi ternyata saya dikasih kesempatan. Menurut saya, itu adalah jawaban dari doa saya. Mungkin Tuhan ada kesempatan kayak, ‘Oke, jangan berhenti dulu di dunia entertainment.’“

    Dari sinetron, langkah Morgan berlanjut ke layar lebar hingga akhirnya ia mendapat nominasi FFI dan dipercaya menjadi salah satu Duta FFI 2026. Menariknya, semua pencapaian tersebut bukan sesuatu yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

    “Dari sinetron bisa ke film, dan sekarang bisa jadi duta FFI. Itu saya gak pernah mikirin. Maksudnya saya gak pernah bermimpi. Berani bermimpi pun gak,” lanjut aktor bernama asli Handi Morgan Oey.

    Kini, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, Morgan mengaku tak lagi terlalu ambisius dalam menentukan target kariernya. Meski begitu, ia menegaskan belum merasa puas dengan pencapaiannya sebagai aktor karena masih banyak hal yang ingin ia pelajari dan eksplorasi, termasuk kemungkinan untuk bekerja di balik layar. Morgan bahkan menyebut Prilly Latuconsina sebagai salah satu sosok yang menginspirasinya untuk mencoba hal tersebut.

    “Prilly sangat menginspirasi. Dia selain ada di depan layar, juga bisa di belakang layar. Jadi kemungkinan-kemungkinan terdekat yang mungkin bisa saya eksplorasi. I would love to do it kalau ada kesempatan untuk bisa mencoba di belakang layar seperti Prilly,” ungkap Morgan.

  3. 3. Masuk nominasi FFI bikin Morgan merasa diakui di industri perfilman Indonesia

    Morgan Oey dan Prilly Latuconsina berpose bersama di kantor IDN, Jakarta, pada Jumat, 4 September 2026.
    potret Morgan Oey dan Prilly Latuconsina di kantor IDN, Jakarta, Jumat (4/9/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

    Sebelum menjadi Duta FFI 2026, Morgan sudah lebih dulu menjadi bagian dari ajang tersebut. Pada 2025, ia untuk pertama kalinya masuk nominasi Piala Citra lewat film Pengepungan di Bukit Duri dalam kategori Pemeran Utama Pria Terbaik. Bagi Morgan, nominasi tersebut bukan sekadar pencapaian dalam kariernya, tetapi juga bentuk apresiasi yang membuatnya merasa menjadi bagian dari industri perfilman Indonesia.

    “Piala Citra itu kan bentuk apresiasi tertinggi tahunan di perhelatan terbesar industri film Indonesia. Ketika kita mendapatkan kesempatan untuk bisa membawa pulang piala atau sekedar cuma masuk nominasi, menurut saya itu sebuah kehormatan, akhirnya kita merasa kita belong di industri film.”

    Pencapaian tersebut juga menjadi pengingat bagi Morgan untuk tidak menganggap setiap kesempatan sebagai hal yang biasa. Apalagi, sebagai aktor yang merepresentasikan kelompok minoritas, ia menyadari bahwa kesempatan untuk mendapatkan peran tertentu bisa terasa lebih terbatas. Oleh karena itu, Morgan selalu berusaha untuk menjaga setiap kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More