- Hormati tamumu
- Hormati rumah orang lain saat menjadi tamu
- Jangan menyakiti orang yang datang mencari perlindungan
Ending The Odyssey, Apakah Odysseus Berhasil Kembali ke Ithaca?

- Christopher Nolan menghadirkan The Odyssey (2026) sebagai adaptasi epos Homer dengan narasi non-linear, menyoroti perjalanan batin Odysseus yang dilanda rasa bersalah dan pencarian makna pulang ke Ithaca.
- Film ini memperluas konsep Hukum Zeus menjadi prinsip moral universal tentang kepercayaan dan keramahtamahan, menyoroti pelanggaran terbesar melalui tipu daya Kuda Troya yang mengguncang nilai kemanusiaan.
- Akhir film menunjukkan Odysseus menerima konsekuensi atas tindakannya, berlayar bersama Penelope menuju masa depan tak pasti, menandai penebusan diri dan refleksi atas dosa serta tanggung jawabnya.
Karya terbaru Christopher Nolan, The Odyssey (2026), langsung menguasai box office dan memantik diskusi di media sosial. Seperti karya-karyanya sebelumnya, sutradara peraih Oscar tersebut kembali memainkan struktur narasi yang tidak linear. Kali ini, ia mengadaptasi epos legendaris karya Homer dengan pendekatan yang lebih ambisius, memadukan kisah perang, perjalanan spiritual, hingga pergulatan batin sang pahlawan, Odysseus.
Film yang dibintangi Matt Damon sebagai Odysseus ini mengambil latar setelah berakhirnya Perang Troya yang berlangsung selama 10 tahun. Namun, perjalanan pulang sang raja menuju Ithaca ternyata memakan waktu hampir sama lamanya dengan peperangan itu sendiri.
Kontroversi pemilihan cast multiras, armor Agamemnon yang membuatnya "aura farming," hingga kuda Troya yang terlalu mulus menjadi bagian dari diskusi penonton. Lewat semua juxtaposition ini, Nolan seperti ingin menyampaikan bahwa The Odyssey bukan film sejarah tentang orang Yunani saja, melainkan sebuah kisah universal tentang manusia yang harus bergumul dengan ego, kepedihan, trauma, penyesalan, dan penebusan dosa. Bagi yang masih bingung, berikut penjelasan akhirnya!
Awas, artikel ini mengandung spoiler!
1. Kenapa Odysseus tidak bisa langsung pulang ke Ithaca?

Pertanyaan mengapa Odysseus dan awak kapalnya selalu dilanda nasib buruk dalam perjalanan mereka dari Troya ke Ithaca seolah "menggantung" di sepanjang film. Seiring berjalannya waktu, Nolan juga lebih sedikit berfokus pada kekuatan eksternal dan lebih banyak pada gejolak batin sang pahlawan, Odysseus
Akhirnya, Odysseus dipaksa menghadapi kebenaran yang sulit: ia sebenarnya tidak ingin pulang. Ia ditanya lebih dari sekali di sepertiga akhir film, tetapi baru setelah ia berbicara dengan istrinya, Penelope, dengan menyamar sebagai veteran perang Troya yang terlihat seperti pengemis, ia bersedia menghadapi jawabannya.
Dunia The Odyssey dengan cepat memuji Odysseus atas idenya menyembunyikan tentara Yunani di dalam Kuda Troya dan mempersembahkannya sebagai hadiah perpisahan kepada Athena. Taktik itu memenangkan perang bagi mereka dan diabadikan dalam lagu.
Namun, kebenaran yang dialami Odysseus jauh lebih intim daripada kisah heroik yang diceritakan para penyair. Ia menyadari bahwa apa yang telah dilakukannya bukanlah tindakan heroik semata, melainkan pengkhianatan terhadap kepercayaan dasar manusia.
Secerdik apa pun taktik Kuda Troya, taktik itu penuh tipu daya. Warga Troya menerima kuda tersebut sebagai simbol perdamaian, tetapi di dalamnya bersembunyi pasukan Yunani yang kemudian membuka gerbang dan menghancurkan kota. Odysseus menyaksikan jatuhnya Troya seperti mengalami pengalaman di luar kesadaran, bahkan melihat penglihatan tentang pemenggalan patung Athena seolah-olah dewi itu sendiri dieksekusi tepat di depannya.
Inilah yang pada akhirnya mencegahnya kembali ke Ithaca. Ia tidak ingin pulang karena ia tidak percaya dirinya pantas pulang, dan karena setelah apa yang telah ia lakukan, rumah yang ditinggalkannya tidak akan pernah sama lagi. Bisa dibilang, Odysseus ingin membayar karmanya.
2. Apa itu Hukum Zeus? Dan siapa saja yang melanggarnya di The Odyssey?

Di sepanjang film, istilah Zeus’s Law atau Hukum Zeus terus disebutkan. Banyak penonton mungkin mengira itu adalah semacam kitab hukum milik Zeus, padahal dalam versi asli karya Homer tidak ada istilah resmi bernama "Hukum Zeus". Yang benar-benar ada dalam mitologi Yunani adalah xenia, yaitu hukum suci tentang hubungan antara tamu dan tuan rumah yang dijaga oleh Zeus sebagai Zeus Xenios, pelindung tamu dan orang asing.
Dalam budaya Yunani kuno, xenia berarti hubungan suci antara tamu dan tuan rumah. Karena orang Yunani sering bepergian lewat laut dan bergantung pada keramahan orang asing, mereka percaya bahwa:
Nolan memperluas konsep xenia menjadi sesuatu yang lebih universal. Dalam film, Zeus's Law digambarkan sebagai bentuk Golden Rule: "Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan". Pelanggaran terhadap hukum ini terjadi berkali-kali dalam film. Polyphemus melanggarnya dengan memakan tamunya. Para pelamar Penelope melanggarnya dengan menyalahgunakan rumah Odysseus.
Namun, menurut interpretasi Nolan, pelanggaran terbesar justru terjadi saat Perang Troya. Kuda Troya diberikan sebagai "hadiah". Warga Troya menerimanya ke dalam kota sebagai simbol perdamaian. Namun, di dalamnya bersembunyi pasukan Yunani yang kemudian membuka gerbang dan menghancurkan kota. Bagi Nolan, itu bukan sekadar strategi perang, melainkan pengkhianatan terhadap hukum paling suci tentang kepercayaan dan keramahtamahan.
3. Siapa itu Sea People yang meneror perairan Yunani?

Salah satu twist paling mengejutkan dalam film adalah pengungkapan tentang Sea People. Sepanjang cerita, mereka digambarkan sebagai kelompok misterius yang meneror perairan Yunani dan menjadi simbol kekacauan setelah runtuhnya Troya.
Namun, di akhir film terungkap bahwa Sea People sebenarnya adalah Odysseus dan pasukannya sendiri. Setelah perang, mereka tidak lagi menjadi tentara yang berjuang demi tanah air, melainkan kelompok manusia yang kehilangan arah, moral, dan identitas.
Pengungkapan ini mengubah cara penonton memandang seluruh perjalanan Odysseus. Ia bukan hanya korban kutukan para dewa, tetapi juga bagian dari kekuatan yang menghancurkan dunia yang ingin rindukan.
4. Apakah Athena nyata? Atau hanya halusinasi Odysseus?

Dalam puisi asli Homer, Athena adalah dewi kebijaksanaan, peperangan, dan perencanaan strategis yang menjadi pelindung setia Odysseus dan putranya, Telemachus. Namun, dalam adaptasi Nolan, Athena hadir dengan cara yang jauh lebih ambigu. Ia mengambil wujud perempuan terakhir yang dipenggal tentara Yunani di Troya, menandakan rasa bersalah Odysseus atas pengkhianatan terhadap peradaban manusia.
Ada tiga interpretasi utama mengenai kemunculan Athena:
- Athena benar-benar datang sebagai dewi yang menyamar, tetapi dibunuh saat penjarahan Troya
- Odysseus membayangkan pemenggalan patung Athena sebagai simbol pembunuhan terhadap nilai-nilai yang diwakili dewi tersebut
- Athena adalah manifestasi psikologis dari rasa bersalah Odysseus, bukan dewi nyata
Matt Damon, pemeran Odysseus, menjelaskan dalam wawancara dengan Vulture (17/7/2026) bahwa Athena bagi Odysseus "ada di sana," tetapi sebagai hasil ciptaan pikirannya sendiri, seperti hati nuraninya.
"Baginya, dia (Athena) ada di sana. Dia adalah hasil ciptaannya, dan dia hidup di dalam pikirannya, seperti hati nuraninya. Tapi kami memerankannya seperti monolog internal, hampir seperti solilokui. Dia pergi ketika cerita tersebut mengungkapkan siapa dia sebenarnya," jelasnya.
Dengan kata lain, Nolan sengaja membiarkan Athena berada di antara realitas dan halusinasi, sehingga penonton dapat menafsirkan sendiri apakah ia benar-benar dewi atau hanya bayangan trauma Odysseus.
5. Penjelasan ending The Odyssey menurut Nolan

Akhir dari The Odyssey terasa ambigu sekaligus emosional. Setelah melalui perjalanan panjang, Odysseus akhirnya kembali ke Ithaca dan bertemu kembali dengan Penelope serta Telemachus. Namun, kemenangan itu tidak terasa sepenuhnya bahagia. Odysseus mengatakan kepada Penelope bahwa kisah mereka hanya akan dinyanyikan, karena lagu-lagu akan menjadi satu-satunya yang tersisa setelah mereka kehilangan semua orang yang bisa menulis sejarah.
Meski demikian, suasana penutup film tidak sekelam Oppenheimer (2023). Odysseus dan Penelope tersenyum saat berlayar menuju negeri yang tak dikenal, sementara Telemachus tampak penuh harapan dalam pakaian kerajaannya. Penelope menolak ramalan suram suaminya dan bersikeras bahwa peradaban akan kembali suatu hari nanti, meskipun zaman mereka telah berakhir.
Nolan sendiri membandingkan film ini dengan Oppenheimer, dengan mengatakan bahwa The Odyssey adalah kisah tentang konsekuensi yang sering dilupakan orang.
"Seluruh film ini tentang konsekuensi. Membakar tembok Troya sama dengan membakar seluruh dunia, termasuk rumahnya sendiri. Dan Odysseus menganggap dirinya bertanggung jawab langsung: ide satu orang, tipuan satu orang, melanggar hukum Zeus selamanya," pungkas Nolan.
Jadi, inti dari ending The Odyssey bukanlah tentang apakah Odysseus berhasil pulang atau tidak, melainkan tentang bagaimana ia akhirnya menerima dosa, trauma, dan tanggung jawab atas tindakannya sendiri.
Itulah penjelasan ending The Odyssey. Menurutmu, apakah Athena benar-benar hadir dalam film, atau hanya bayangan rasa bersalah Odysseus? Tulis pendapatmu di kolom komentar, ya!




![[QUIZ] Dapat Tugas Kelompok, Siapa Member Tim Passion JKT48 yang Jadi Andalanmu?](https://image.idntimes.com/post/20260721/upload_772fc93ef8d39397bd7d8cd3325a1205_a0a1c385-d1af-4e14-b53c-c7b236806ac4.png)















