5 Musisi Perempuan yang Sukses Lakukan Rebranding

- Lima musisi perempuan seperti Sabrina Carpenter, Addison Rae, dan Zara Larsson sukses melakukan rebranding setelah karier mereka sempat stagnan di industri musik.
- Strategi rebranding mereka berfokus pada citra baru yang lebih dewasa, feminin, dan bernuansa nostalgia Y2K untuk menarik audiens Gen Z.
- Upaya perubahan ini terbukti efektif karena meningkatkan popularitas serta memperkuat identitas musikal masing-masing musisi di era digital.
Branding atau pembentukan citra sudah jadi kewajiban siapa pun yang ingin mencapai kepentingan ekonomi. Gak hanya perusahaan besar, perusahaan perseorangan, seperti musisi dan influencer, juga pakai strategi ini untuk meraih audiens. Masalahnya, sering kali percobaan pertama gagal atau justru jenuh, alhasil butuh ketekunan untuk memikirkan ulang konsep baru yang lebih segar dan disukai pasar.
Tak pelak, kadang upaya mereka melakukan rebranding baru tampak dampaknya bertahun-tahun kemudian. Seperti yang dialami kelima musisi perempuan berikut. Bahas satu per satu, yuk!
1. Sabrina Carpenter

Sabrina Carpenter butuh waktu hampir 1 dekade untuk akhirnya menemukan brand yang tepat, cocok buatnya dan disukai pasar. Datang sebagai jebolan Disney pada pertengahan 2010-an, Sabrina memulai karier musiknya dengan merilis lagu-lagu pop remaja. Ia tampak mengikuti pola yang sama dengan beberapa seniornya, seperti Demi Lovato, Selena Gomez, dan Miley Cyrus. Namun, popularitasnya stagnan. Ia mencoba melakukan kolaborasi dengan beberapa musisi, tetapi lagi-lagi tak berdampak signifikan.
Popularitasnya justru naik pada 2022 setelah ia membuat semacam album “balasan” atas rumor cinta segitiganya dengan Joshua Bassett dan Olivia Rodrigo. Saat popularitasnya naik, Sabrina mulai mengubah brand-nya yang identik dengan remaja lurus dengan citra yang lebih dewasa dan playful. Puncaknya, ia menambahkan elemen nostalgia pada album Short ‘n Sweet yang ternyata sukses berat. Album itu menandai kelahiran dirinya yang baru, humoris, bukan lagi remaja naif, tetapi juga anggun ala artis Hollywood klasik.
2. Addison Rae

Addison Rae juga mengalami evolusi yang menarik untuk diulas. Ia dikenal pertama kali pada 2020 sebagai salah satu pemengaruh paling populer di TikTok. Setahun kemudian, ia mencoba peruntungan jadi penyanyi, tetapi gagal total. Lagunya dihujat dan vokalnya dianggap lemah. Baru pada 2024, ia kembali ke panggung musik dengan citra baru.
Upaya rebranding yang ia lakukan setelah vakum 3 tahun ternyata berhasil. Rae kembali dengan single “Diet Pepsi” yang ternyata dapat penerimaan positif. Memakai pendekatan feminin dan nostalgia, Rae mengingatkan kita musisi pop terbesar dunia macam Madonna dan Britney Spears. Aransemen musiknya nostalgic, vokalnya lembut, tetapi liriknya mewakili gen-Z.
3. Zara Larsson

Musisi perempuan lain yang upaya rebranding-nya wajib dianalisis adalah Zara Larsson. Seperti Sabrina Carpenter, Larsson juga aktif sejak pertengahan 2010-an. Beberapa lagunya sempat viral kala itu, tetapi tak berapa lama namanya meredup lagi. Beberapa albumnya, seperti Poster Girl dan Venus, gagal mencuri perhatian. Sampai akhirnya, ia memanfaatkan peluang ketika lagu lawasnya yang berjudul “Symphony” bersama Clean Bandit viral di TikTok pada 2024.
Melihat momen itu, Zara Larsson pun merilis album baru pada 2025 dengan judul Midnight Sun. Di sini, ia tak lagi pakai citra lamanya. Zara kini mengadopsi konsep Y2K alias nostalgia estetik 2000-an yang identik dengan warna-warna vibran dan outfit idiosinkratik. Lagu-lagunya pun mengusung genre cyberpop, perpaduan antara musik pop dengan elektronik, R&B, dan house. Ini membuatnya mencolok dan unik.
4. Pinkpantheress

Mengusung konsep mirip dengan Zara Larsson, nostalgia Y2K, kamu mungkin tak percaya kalau Pinkpantheress adalah musisi introver pada awal kemunculannya. Beberapa tahun lalu, ia menolak memperlihatkan wajahnya dan memilih untuk mengekspos karya audionya saja di media sosial. Namun, sebagai musisi, strategi ini jelas tidak banyak membantu.
Pada era digital, visual branding jadi elemen krusial dalam karier musisi dan mau tak mau Pinkpantheress harus keluar dari cangkangnya. Ia kemudian hadir sebagai musisi bergaya ala musisi 2000-an yang mengusung genre pop-alternatif. Tepatnya, fusion antara UK garage (musik elektronik khas Inggris 90-an) dan bedroom pop. Aransemennya nonkonvensional, ditambah liriknya yang seperti diambil dari buku harian. Puitis, tetapi ada elemen naif dan hopeless romantic-nya. Lagi-lagi, nostalgia memang konsep yang sedang disukai audiens.
5. Tate McRae

Tate McRae juga melakukan rebranding besar-besaran. Dari remaja casual yang menyanyikan lagu patah hati, McRae menjelma jadi sosok perempuan percaya diri dengan gaya sporty-glam pada album So Close to What. Pada album itu, McRae menghadirkan lebih banyak lagu yang menghentak ketimbang mellow seperti album-albumnya terdahulu. Rebranding ini sempat ia coba pada album sebelumnya, Think Later, tetapi masih setengah hati, seolah mengetes penerimaan pasar.
Setelah tahu kalau beberapa lagu upbeat-nya di album itu sukses, ia tak lagi menahan diri. Tur album So Close to What sukses besar. Ia dianggap menghidupkan kembali musik pop energik yang dulu dipopulerkan angkatannya Britney Spears pada 2000-an.
Memang rebranding itu punya risikonya sendiri. Kalau kelima musisi perempuan di atas adalah contoh sukses, gak sedikit sebenarnya yang gagal total. Coba sebut siapa yang kamu tahu?


















